Warga Ancam Bakar Pabrik PT BSP

12 total views, 3 views today

Tampak ratusan warga yang memportal jalan menuju PT. Bumi Sawindo Permai

Tampak ratusan warga yang memportal jalan menuju PT. Bumi Sawindo Permai

MUARAENIM – Ratusan warga Desa Tanjung Agung, Kecamatan Tanjung Agung, Muaraenim, memportal jalan kebun yang dikelola oleh PT Bumi Sawindo Permai (BSP), di Rimba Peramuan, Desa Tanjung Agung, Kecamatan Tanjung Agung, Muaraenim, Rabu (26/2).

Pantauan Kabar Sumatera, aksi ratusan warga Desa Tanjung Agung ini, berawal dari adanya informasi yang beredar, jika manajemen PT BSP akan melakukan panen kelapa sawit di wilayah sengketa (status quo) tepatnya di Rimba Peramuan, Desa Tanjung Agung.

Mendengar isu tersebut, warga pun berbondong-bondong melakukan aksi damai dengan  menggunakan kendaraan roda dua dan empat, mendatangi beberapa portal yang telah dipasang oleh warga sebelumnya.

Warga kemudian melakukan orasi, dan mengancam membakar aset PT BSP, jika sampai tidak ada penyelesaian sengketa lahan antara warga dengan PT BSP, sebelum pemilihan presiden (Pilpres). Setelah itu, warga membubarkan diri dengan tertib.

M Darun, didampingi Maknan, Syamsul Bahri, Jon Said CU, Hardiansyah, tokoh masyarakat setempat menyebut, konflik lahan antara warga dengan PT BSP berawal dari klaim perusahaan tersebut terhadap tanah seluas 600 hektar yang ada di Rimba Peramuan.

“Tanah tersebut adalah tanah ulayat. Seluruh pihak terutama yang mengetahui asal usul lahan ini, seperti kepala desa (kades), sudah ditanyakan apakah pernah menjual tanah tersebut ke PT BSP. Semua, dengan tegas menyatakan tidak pernah menjual, atau menggadaikan tanah ulayat tersebut,” kata Darun.

Ditambahkan oleh Maknan dan Jon, tanah tersebut merupakan peninggalan nenek moyang Majenang. Pada tahun 1991, masa zaman orde baru, tanah itu digarap oleh PT BSP. Saat itu sebutnya, masyarakat tidak berdaya. Saat ini tegas Maknan, masyarakat menuntut tanah adat mereka dikembalikan untuk kesejahteraan masyarakat.

“Ini aksi kedua. Pertemuan sudah tiga kali dimediasi Pemkab Muaraenim, tetapi tidak menemukan titik terang. Jika berlarut-larut, jangan salahkan masyarakat akan terpancing dan emosi,” ucap Maknan.

Ia menerangkan, warga hanya meminta PT BSP mengembalikan tanah adat yang dikuasai PT BSP. Jika PT BSP merasa membeli tanah tersebut, ia meminta manajemen PT BSP menunjukkan surat jual belinya dan dengan siapa membelikya.

“Kalau lahan ini, masuk dalam areal Hak Guna Usaha (HGU) PT BSP, kami minta buktinya. Kalau perlu di ukur ulang, dengan HGU yang diberikan pemerintah. Sebab ada indikasi areal perkebunan PT BSP, sudah melebihi HGU yang mereka miliki,” ucapnya.

“Kami sengaja datang kesini, karena mendengar informasi dari pihak PT BSP akan melakukan panen di tanah yang sudah di status status quo kan. Portal sengaja dipasang, supaya masyarakat dan PT BSP sama-sama tidak bisa memanen,” ujarnya.

Sementara itu, GM PT BSP Susanto melalui Manager Kebun, Agustinus, menyesalkan kejadian tersebut. Sebab kata Agus, akibat aksi warga tersebut PT BSP mengalami kerugian hingga miliaran rupiah.

Menurutnya pemblokiran yang dilakukan warga tersebut, sudah 21 hari lamanya. “Kalau memang mereka mengklaim ini tanah ulayat, tunjukkan dulu buktinya bukan sebaliknya kami yang menunjukkan bukti lebih dahulu,” tukasnya.

 

TEKS              : SISWANTO

EDITOR          : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com