Karet Turun, Daya Beli Petani Menurun

 180 total views,  6 views today

Kios Tunas Tani

Kios Tunas Tani

PALI – Beberapa bulan terakhir, harga karet ditingkat petani menurun drastis. Biasanya getah karet dihargai Rp 9000 per kilogram, kini hasil keringat petani sadap itu hanya dihargai Rp 5.000 sampai Rp 6000 setiap kilogramnya.

 

Jatuhnya harga karet ini berpengaruh pada daya beli petani. Secara otomatis petani mengurangi pengeluarannya.

 

Turunnya harga beli ini termasuk parah. Buktinya petani mengurangi pembelian kebutuhan pertanian mereka. Pembelian pupuk dan racun seperti pestisida dan fungisida pun tergerus. Para pedagang yang khusus melayani penjualan peralatan pertanian pun mengeluh.

 

Seperti diungkapkan Ijul (35) yang membuka kios di bilangan terminal Pendopo. Pengusaha muda ini mengaku sejak harga karet turun, omset penjualannya menurun drastic sampai 60 persen.

 

Biasanya, lanjut Ijul, sehari ia mampu menjual pupuk dan peralatan pertanian senilai Rp 20juta, kini ia hanya mampu menjual paling banyak Rp 8juta.

 

“Sejak harga karet turun, minat beli petani jugo ikut turun,” kata Ijul yang membuka Kios Tunas Tani ini.

 

Ijul juga menambahkan, penurunan daya beli kali ini tergolong parah. Sebab biasanya meskipun harga karet turun tidak sampai mengurangi pembelian pupuk.

 

“Biasanya biar harga turun, warga tetap membeli pupuk. Tapi sekarang sepi,” ujar penyalur resmi pupuk bersubsidi ini.

 

Meskipun masih ada yang melakukan pembelian, itu hanya pengusaha yang memiliki kebun yang luas. Petani yang memiliki lahan kecil mengurangi pembelian pupuk ini. “biasanya pelanggan saya yang kebunnya sedikit masih membeli, tapi sekarang nampaknya tidak membeli lagi” ungkapnya.

 

Hal ini juga dialami oleh Sulai (42) pedagang keliling peralatan pertanian. Warga Desa Talang Bulang Kecamatan Talang Ubi ini juga mengaku mengalami penurunan omzet. “Jualan sekarang ini sepi. Kadang tekor biaya oleh biaya angkut,” keluh Sulai yang berjualan di setiap kalangan (Pasar Pekanan).

 

Sulai berharap, harga karet bisa normal kembali agar pendapatannya berjualan keliling desa-desa bisa. “Handak kami pemerintah ada perhatian biar harga karet normal agi. Biar kami semangat lagi berjualan. Kalau seperti ini lesu pak,” harap Sulai.

 

Teks      : Indra Setia Haris

Editor   : Junaedi Abdillah

 

 

Karet Turun, Daya Beli Petani Menurun

 

Teks/Foto : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi Abdillah

 

PALI | KS

 

Beberapa bulan terakhir, harga karet ditingkat petani menurun drastis. Biasanya getah karet dihargai Rp 9000 per kilogram, kini hasil keringat petani sadap itu hanya dihargai Rp 5.000 sampai Rp 6000 setiap kilogramnya.

 

Jatuhnya harga karet ini berpengaruh pada daya beli petani. Secara otomatis petani mengurangi pengeluarannya.

 

Turunnya harga beli ini termasuk parah. Buktinya petani mengurangi pembelian kebutuhan pertanian mereka. Pembelian pupuk dan racun seperti pestisida dan fungisida pun tergerus. Para pedagang yang khusus melayani penjualan peralatan pertanian pun mengeluh.

 

Seperti diungkapkan Ijul (35) yang membuka kios di bilangan terminal Pendopo. Pengusaha muda ini mengaku sejak harga karet turun, omset penjualannya menurun drastic sampai 60 persen.

 

Biasanya, lanjut Ijul, sehari ia mampu menjual pupuk dan peralatan pertanian senilai Rp 20juta, kini ia hanya mampu menjual paling banyak Rp 8juta.

 

“Sejak harga karet turun, minat beli petani jugo ikut turun,” kata Ijul yang membuka Kios Tunas Tani ini.

 

Ijul juga menambahkan, penurunan daya beli kali ini tergolong parah. Sebab biasanya meskipun harga karet turun tidak sampai mengurangi pembelian pupuk.

 

“Biasanya biar harga turun, warga tetap membeli pupuk. Tapi sekarang sepi,” ujar penyalur resmi pupuk bersubsidi ini.

 

Meskipun masih ada yang melakukan pembelian, itu hanya pengusaha yang memiliki kebun yang luas. Petani yang memiliki lahan kecil mengurangi pembelian pupuk ini. “biasanya pelanggan saya yang kebunnya sedikit masih membeli, tapi sekarang nampaknya tidak membeli lagi” ungkapnya.

 

Hal ini juga dialami oleh Sulai (42) pedagang keliling peralatan pertanian. Warga Desa Talang Bulang Kecamatan Talang Ubi ini juga mengaku mengalami penurunan omzet. “Jualan sekarang ini sepi. Kadang tekor biaya oleh biaya angkut,” keluh Sulai yang berjualan di setiap kalangan (Pasar Pekanan).

 

 

Sulai berharap, harga karet bisa normal kembali agar pendapatannya berjualan keliling desa-desa bisa. “Handak kami pemerintah ada perhatian biar harga karet normal agi. Biar kami semangat lagi berjualan. Kalau seperti ini lesu pak,” harap Sulai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster