Nama Ampera Diusulkan Berubah Jadi Jembatan Bung Karno

 58 total views,  3 views today

Jembatan Ampera Palembang

Jembatan Ampera Palembang

PALEMBANG – Nama Jembatan Ampera diusulkan berubah, dan dikembalikan menjadi Jembatan Bung Karno. Usulan itu disampaikan oleh PDI Perjuangan. Dalam surat yang dilayangkan partai berlambang banteng gemuk dalam lingkaran itu, diusulkan agar nama Jembatan Ampera dikembalikan ke nama asalnya yakni Jembatan Bung Karno.

“Usulan itu, disampaikan oleh oleh PDI Perjuangan pada 27 Maret 2013 lalu, melalui surat yang ditandatangani (alm) Taufik Kiemas,” kata Staf Ahli Gubernur Sumsel Bidang Pemerintahan, Eddy Hermanto ketika dibincangi, Selasa (25/2).

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel sebut Eddy, belum bisa mengambil keputusan atas usulan itu. Namun jelas Eddy, usulan itu akan ditindaklanjuti. Eddy menambahkan, Jembatan Ampera tersebut merupakan aset berharga, milik pemerintah pusat.

Hanya saja, kewenangan untuk melakukan perawatannya, diserahkan ke daerah asal. “Jembatan itu, sejak 1961 memang dikenal dengan nama Jembatan Ampera yang kemudian sempat berubah menjadi Jembatan Bung Karno pada tahun 1965. Setelah era reformasi muncul, nama Bung Karno untuk menggantikan nama Jembatan Ampera,” jelas Eddy.

Eddy menegaskan, kewenangan untuk memberikan sebuah nama pada bangunan, jalan dan jembatan tersebut merupakan kewenangan masing-masing kabupaten/kota. Pemprov Sumsel, tidak memiliki perda dan kewenangan untuk mengatur hal itu.

“Usulan perubahan ini tetap kita tindaklanjuti karena ditujukan ke Gubernur Sumsel. Tapi langkah kita, tetap kita serahkan ke Pemkot Palembang, karena kita tidak ada payung hukumnya untuk (perubahan nama) itu,” ucap Eddy.

Terkait kondisi jembatan yang membelah Sungai Musi tersebut, Kepala Satuan Non Vertikal Jalan dan Jembatan Metropolitan Palembang, Junaidi, menjelaskan, saat ini memang dirasakan perlu dilakukan perbaikan segera.

Kian meningkatnya volume kendaraan yang melintas, membuat beban jembatan yang pernah bisa diangkat bagian tengahnya tersebut, semakin berat. “Ampera menjadi sarana vital bagi masyarakat Palembang. Sudah terlalu banyak kendaraan yang melintas. Keberadaan jembatan Musi III dan Musi IV memang urgent (penting) segera dilaksanakan untuk membagi beban Jembatan Ampera,” tegasnya.

Diakui Junaidi, sejak berdiri, seharunya Jembatan Ampera dalam 50 tahun pertamanya terus dilakukan perbaikan, hingga saat ini. Prioritas utama, sambungnya, bahan jembatan yang didominasi oleh baja, jangan sampai terkena karat. “Jika dibiarkan, tentu akan keropos. Jika itu terjadi, kita tinggal menunggu (ambruk) saja,” tegasnya.

Pengalihan arus kendaraan, lanjut Junaidi, menjadi kunci utama Jembatan Ampera bisa tetap berdiri. Pihaknya memprediksi, dengan volume kendaraan yang terjadi saat ini, hingga 10 tahun kedepan Jembatan Ampera bisa bertahan.

“Selain karat, sejumlah ornamen jembatan, pilar serta grouting juga wajib jadi perhatian. Untuk melakukan perombakan total, setidaknya memerlukan anggaran sebesar Rp100 milyar,” tegasnya.

Pihaknya sendiri, hampir setiap tahun tetap menganggarkan dana pemeliharaan jembatan Ampera. Bahkan, dana tersebut mengalami kenaikan lebih dari 100 persen. “Pada 2013 lalu, kita anggarkan Rp 5 milyar, sedangkan tahun ini Rp 12 milyar. Banyak yang perlu diganti. Termasuk melakukan pengecatan ulang jembatan.  Kita pertahankan warna merah,” jelas dia.

Saat disinggung mengenai perubahan nama, Junaidi enggan berkomentar. “Kita hanya pelaksana teknis saja. Untuk kebijakan, kita serahkan ke pihak terkait,”  tukasnya.

 

TEKS              : IMAM MAHFUZ

EDITOR          : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com