Menjaga Tradisi Ditengah Hadangan Teknologi

 250 total views,  4 views today

Rumilah (55). Wanita lima anak ini masih setia menggeluti kerajinan aluminium. Lembaran aluminium yang ia beli ditoko besi dirubah sedemikian rupa sehingga menjadi peralatan rumah tangga.

Rumilah (55). Wanita lima anak ini masih setia menggeluti kerajinan aluminium. Lembaran aluminium yang ia beli ditoko besi dirubah sedemikian rupa sehingga menjadi peralatan rumah tangga.

PALI – Kemajuan teknologi tak selamanya membawa berkah. Tak jarang kemajuan zaman justru memakan korban. Seni tradisi ditinggalkan, berganti teknologi yang serba instan.

Kemajuan teknologi merubah gaya hidup masyarakat. Perkembangannya membuat masyarakat menginginkan yang serba instan dan gampang. Bagi warga yang tetap bertahan pada pola tradisi lama, secara perlahan terpinggirkan.

Seperti yang dialami Rumilah (55). Wanita lima anak ini masih setia menggeluti kerajinan aluminium. Lembaran aluminium yang ia beli ditoko besi dirubah sedemikian rupa sehingga menjadi peralatan rumah tangga.

Mulai dari senduk besar, serok penggoreng, loyang cetakan kue, sampai dandang besar untuk menanak nasi atau memasak bakso.

Menempati bilik ukuran 3×6 meter disalah satu kios di Terminal Pendopo, Rumilah setia menanti pembeli. Di kios itu, Rumilah menjajakan hasil karya keluarganya. Sementara dirumahnya dibilangan Kebun Sayur, Sukardi suaminya bekerja membuat dandang.

Sukardi, sang suami, dibantu tiga anaknya dan satu keponakan menempa kepingan aluminium menjadi dandang. Pekerjaan ini sudah menjadi tradisi dikeluarganya. Secara turun temurun dari kakeknya, mereka mengusahakan kerajinan ini.

“Kami mewarisi usaha kakek kami dulu. Sejak 1987 kami mengambil alih usaha ini,” kata Rumilah yang sudah memiliki 12 cucu ini.

Awalnya, ia mewarisi bisnis keluarga. Hasil produksi rumahan Rumilah menyebar sampai pelosok desa di Kabupaten PALI. Beberapa daerah di Kabupaten Muba juga ikut menikmati karya mereka.

“Kalau dulu untuk daerah Air Itam saja. Sehari kami dapat omset Rp 10 juta,” tuturnya.

Angka ini tergolong wajar. Dari Air Itam (kecamatan Penukal), hasil dagangannya dijual lagi ke Muba melalui transportasi air.

Kini, kondisinya sudah berubah. Air Itam tidak lagi membeli dandang darinya. Demikian juga daerah lain seperti Tanjung Kurung dan lain-lain. Rumilah hanya mengandalkan penjualan dari kios kecilnya semata.

“Sekarang sudah sepi. Sebulan dapetnya tidak seberapa. Tidak sampai Rp 30juta. Pas-pasan saja,” keluh Rumilah.

Menurut Rumilah, kondisi ini terjadi karena ibu rumah tangga sudah jarang menggunakan produk aluminium produksi tangan. Ibu-ibu lebih suka menggunakan stainless yang bikinan pabrik.

“Sekarang ini ibu-ibu lebih senang make listrik. Nanak nasi saja sudah pakai listrik. Tidak capek bersihkannya,” ujarnya.

Meski begitu, Rumilah tetap setia menggeluti usaha warisan sang kakek ini. “Berjalan saja. Yang penting kami sekeluarga masih bisa makan. Rejeki kan Allah yang ngaturnya,” tuturnya

Entah sampai kapan, usaha kerajinan dandang aluminium ini akan bertahan. Yang jelas Rumilah akan tetap mempertahankan wasiat warisan.

 

Teks/Foto      : Indra Setia Haris

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster