Penambangan Galian C Ilegal Marak

 329 total views,  2 views today

Ilustrasi Tambang Pasir

Ilustrasi Tambang Pasir

INDERALAYA – Penambangan galian C secara ilegal di Sungai Ogan di Desa Ulak Kembahan II, Kecamatan Pemulutan Barat, Kabupaten Ogan Ilir (OI), kian marak.  Puluhan perahu dalam bentuk ponton mengeruk Sumber Daya Alam (SDA), Kabupaten Ogan Ilir.

Dampaknya, rumah penduduk yang berada dibantaran sungai  terancam ambruk  karena pada tebing pinggiran sungai sudah mengalami erosi.

“Kami minta kepada petugas untuk segera menindak dan menertibkan perahu-perahu ponton yng setiap hari mengangkut pasir alias mencuri pasir. Informasinya,  para pemilik ponton itu bukan warga Pemulutan melainkan dari luar tanpa mengantoni izin usaha penambangan (IPU),’’ ungkap Matkori warga Pemulutan, Ahad (23/2), kemarin.

Matkori mengatakan, persoalan penambangan galian C ilegal ini sudah dilaporkan ke Dinas Pertambangan Energi dan lingkungan hidup Pemkab Ogan Ilir,  dimana sebanyak 31 warga ikut menandatangi protes terhadap penambangan tersebut.

“Kita minta Pemerintah harus tegas terhadap usaha penambangan pasir ini secara illegal. Kami yang tinggal dibantaran sungai jelas-jelas dirugikan, sebab sewaktu-waktu rumah kami bisa ambruk atau hanyut, karean erosi,’’ timpal Andi warga lainnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertambangan Energi dan Lingkungan Hidup (Distamben, LH) Pemkab OI  M Thahir Ritonga melalui Kabid Geologi, Febriyanto ketika dikonfirmasikan, membenarkan adanya laporan warga soal penambangan pasir secara ilegal di Desa Ulak Kembahang II, Kecamatan Pemulutan Barat.

“Kita sudah menerima laporan pengaduan secara tertulis dari warga Desa Ulak kembahang, soal penambangan pasir ilegal dengan menggunakan ponton di kawasan Sungai Ogan,’’ tutur Febriyanto.

Bahkan, lanjut Febriyanto, atas laporan tersebut, pihaknya sudah menindaklanjutinya dengan langsung terjun ke lapangan. Hasilnya dari data sebanyak 47 ponton, ada 5 ponton yang berhasil diamankan karena tidak mengantogi IUP.

“Sudah 5 ponton yang kita amankan , karena usaha penggalian pasir yang dilakukan warga luar daerah Kabupaten OI itu, tidak mengantogi IUP, dan kita memang tidak akan mengeluarkan IUP,’’ tegas Febriyanto.

Febriyanto belum bisa merincikan, berapa kerugian Pemkab OI akibat penambangan liar  di Bumi Caram Segeguk ini. Namun yang pasti setiap ponton tersebut mampu menampung sebanyak 100 kubik pasir.

“Karena ranahnya sudah mengarah pada tindak pidana, maka kita serahkan kepada petugas Polisi untuk menindaklanjutinya, namun  berdasarkan UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan mineral dan batubara pasal 158 , para pelaku pencurian diancam penjara selama 10 tahun,’’ tutupnya.

 

TEKS       : JUNAEDI ABDILLAH

EDITOR   : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster