Duh, Situs Porno Diakses 1 Juta/Perhari

 266 total views,  2 views today

Ilustrasi | republika.co.id

Ilustrasi | republika.co.id

PALEMBANG – Kemajuan dunia informasi dan teknologi, ternyata belum dimanfaatkan secara maksimal untuk kegiatan positif di Indonesia. Masyarakat Indonesia, ternyata masih banyak yang memanfaatkan internet untuk mengakses situs-situs porno.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Linda Gumelar menyebut setidaknya dalam satu hari situs-situs porno diakses oleh 1 juta pengguna internet di Indonesia. Kondisi ini menurutnya, sangat memprihatinkan. Apalagi menurutnya, situs-situs porno ini banyak diakses oleh pelajar.

Lebih memprihatinkan lagi sebut Linda, lebih dari 50 persen anak Indonesia sudah pernah mengakses situs porno tersebut baik itu bersifat visual maupun audio. “Ini sangat kita sayangkan, keprihatinan ini harus menjadi keprihatinan bersama. Artinya bukan hanya pemerintah tetapi juga masyarakat dan orang tua. Kita bekerjasama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sudah sering mengkampanyekan bahaya dunia digital ini terhadap perkembangan anak,” kata Linda pelatihan peningkatan kapasitas calon anggota legislatif (caleg) perempuan pada Pemilu 2014, Kamis (20/2) di Hotel Emilia, Palembang.

Linda menyebut, untuk mengatasi persoalan ini langkah kongkrit penanggulangannya, adalah dengan menutup situs-situs porno tersebut. “Namun persoalannya, jumlah situs porno ini justru terus meningkat dan tidak mudah untuk menutupnya,” jelasnya.

Baik Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak maupun Kominfo sebutnya, cukup kesulitan jika harus menutup satu persatu situs-situs porno yang bertebaran di dunia maya tersebut.

Karenanya cara jitu, agar anak tidak terpengaruh dengan bahaya digital tersebut adalah peranan keluarga atau orang tua. Orang tua menurut Linda, harus memberikan penjelasan baik dan buruknya dalam penggunaan teknologi digital seperti internet tersebut.

“Jika orang tua memberikan penjelasan dan pemahaman tersebut, maka anak bisa mem filter dirinya terhadap informasi yang didapat. Kemajuan teknologi tetap harus dilakukan, karena memang sangat penting bagi kemajuan anak itu sendiri. Namun disisi lain, harus ada semacam filterisasi dan pemberian pemahaman khusus, terkait pengaruhnya. Ini adalah tugas kita bersama, bukan hanya pemerintah,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumsel, Siti Romlah menilai, kekerasan terhadap perempuan dan anak, justru terjadi di lingkungan keluarga terdekat. Faktor menjamurnya film-film yang mengundang kekerasan menurutnya, menjadi salah satu pemicu kekerasan tersebut.  “Catatan kita justru, dari 36 kasus kekerasan, 24 diantaranya pelecehan seksual terhadap sang anak dan ini yang sangat kita prihatinkan,” tukasnya.

 

TEKS              : IMAM MAHFUZ

EDITOR          : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster