Rektor Unsri Terkurung Dua Jam

 310 total views,  2 views today

Rektor Unsri, Prof Badia Perizade, terkurung selama dua jam di dalam Gedung Batubara, lantaran gedung tersebut sudah dikepung mahasiswa.

Rektor Unsri, Prof Badia Perizade, terkurung selama dua jam di dalam Gedung Batubara, lantaran gedung tersebut sudah dikepung mahasiswa.

INDRALAYA – Ratusan mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri), yang tergabung dalam Badan Eksekutif  Mahasiswa (BEM) Unsri, Rabu (19/2), melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Batubara, Fakultas Tehnik.

Aksi tersebut, sebagai bentuk kepedulian terhadap 113 mahasiswa yang tidak mampu membayar biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan terancam drop out (DO). Akibat aksi itu, Rektor Unsri, Prof Badia Perizade, terkurung selama dua jam di dalam Gedung Batubara, lantaran gedung tersebut sudah dikepung mahasiswa.

Pantauan di lapangan, massa mahasiswa dari berbagai fakultas yang didominasi oleh mahasiswa baru, mengepung gedung tersebut. Mereka membentangkan spanduk meminta UKT diverifikasi ulang, karena terindikasi adanya kecurangan.

Kesal tidak ada satupun pihak rektorat yang menemuinya, mahasiswa membakar ban bekas. Tidak sampai disitu, mahasiswa juga menyerbu ke dalam gedung tersebut, untuk menemui Rektor Unsri.

Mahasiswa juga sempat bertindak anarkis, dengan menumbangkan bangku-bangku yang berada di dalam gedung. Bahkan, salah satu kaca di gedung tersebut pecah, diduga akibat dorongan mahasiswa.

Sempat terjadi ketegangan antara massa mahasiswa dengan pihak rektorat, lantaran tidak diperkenankan masuk ke atas untuk menemui rektor. Setelah satu jam berorasi, akhirnya Rektor Unsri, Prof Badia Perizade menemui massa mahasiwa dari balik terali pintu besi

Presiden Mahasiswa (Presma) Unsri, Hairunnizar, mengatakan ada empat tuntuan diajukan kepada pihak rektorat, yakni menjamin bahwa tidak akan ada satupun mahasiswa yang akan di DO karena tak mampu membayar UKT.

Kedua menurunkan nominal UKT bagi 113 Mahasiswa yang terancam DO, membersihkan UKT dari unsur nepotisme yang dilakukan pihak rektorat, dan diharapkan verifikasi UKT dilakukan dengan adil dan profesional.

“Karena dalam pengawasan kami verifikasi UKT yang dilakukan pihak rektor tidak sesuai dengan undang-undang dan terkesan tebang pilih, karena banyak mahasiswa yang merupakan anak orang mampu UKT nya diturunkan, sedangkan banyak mahasiswa yang tidak mampu namun tidak diturunkan,”terangnya.

Selain itu, mahasiswa dari anak pegawai Unsri, dosen, juga UKTnya diturunkan. “Hal ini kami anggap kalau rektorat, terkesan tebang pilih dan tidak sesuai dengan Undang-Undang (UU), dalam penerapan UKT. Bakan dibuat terlalu mengada-ada,” ujarnya.

Fitri, salah satu mahasiswa Unsri yang mengikuti aksi tersebut mengaku, uang UKT yang harus dibayaran mahasiswa terlalu memberatkan. Bahkan akunya, untuk membayar uang UKT tersebut, ia harus menggadaikan motor.

“Orang tua saya hanya tukang tambal ban. Bagaimana mau kuliah. Untuk bayar semester lalu saja, saya harus menggadaikan motor. Anehnya, ada surat pengunduran diri saya dari Unsri, padahal saya tidak mengundurkan diri. Saya minta tuntutan kami semua dipenuhi,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor Unsri Prof Badia Perizade mengatakan, tuntutan UKT yang diajukan mahasiswa akan segera diverifikasi ulang dalam dua hari ke depan. “Kami berharap mahasiswa bersabar dan menahan diri. Kami juga tidak menginginkan melakuan DO, kepada mahasiswa. Namun ini, sesuai ketentuan,  tetapi dua hari lagi kami akan menyelesaikan masalah ini,” tukasnya.

 

TEKS             : JUNAEDI ABDILLAH

EDITOR         : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster