Gerakan Pembaharuan Muhammadiyah di Indonesia

 290 total views,  2 views today

Drs.-Abu-Hanifah,-M.Hum

Oleh: Drs. Abu Hanifah, M.Hum

(Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Palembang)

Pada permulaan abad ke-20 M, di kalangan Muslim Indonesia terpelajar mulai muncul kesadaran baru untuk mengatasi kondisi pendidikan Islam di Indonesia yang mengalami keterbelakangan. Mereka sangat terbuka terhadap ide-ide atau pemikiran yang membawa perubahan dan kemajuan yang berupaya untuk memberikan solusi terbaik. Di antara upaya tersebut adalah dengan mendirikan lembaga pendidikan Islam yang bercorak modern.

Salah satu lembaga pendidikan Islam yang bercorak modern itu adalah lembaga pendidikan Islam Muhammadiyah. Cikal bakal lembaga pendidikan Islam Muhammadiyah dimulai pada 1 Desember 1911, ketika Ahmad Dahlan mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang diberi nama Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah. Untuk mengukuhkan gerakan Ahmad Dahlan di dalam pendidikan Islam ini, ia kemudian mendirikan sebuah organisasi gerakan sosial keagamaan di Yogyakarta  pada tanggal 08 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan tanggal 18 November 1912 M yang kemudian dikenal dengan nama Muhammadiyah.

Muhammadiyah, secara etimologis berarti pengikut nabi Muhammad, karena berasal dari kata Muhammad, kemudian mendapatkan ya nisbiyah, sedangkan secara terminologi berarti gerakan Islam, dakwah amar ma’ruf nahi mungkar dan tajdid, bersumber pada  al-Qur’an dan as-Sunnah, yang didirikan oleh Ahmad Dahlan di Yogyakarta  pada tanggal 08 Dzulhijjah 1330 H bertepatan dengan tanggal 18 November 1912 M.

Dalam hal ini Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan pembaruan Islam. Muhammadiyah sejak kelahirannya di kampung Kauman Yogyakarta pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah atau 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah memang memiliki karakter atau watak kuat sebagai gerakan tajdid. Kiai Haji Ahmad Dahlan selaku pendiri Muhammadiyah dikenal pula sebagai mujadid atau pembaru karena sejumlah gagasan dan langkah gerakannya yang bersifat pembaruan.

Muhammadiyah memandang tajdid sebagai salah satu watak dari ajaran Islam. Tajdid dalam pandangan Muhammadiyah memiliki dua dimensi, yaitu dimensi pemurnian (purifikasi) dan dimensi peningkatan, pengembangan, modernisasi atau yang semakna dengan itu (dinamisasi). Dalam arti “pemurnian” tajdid dimaksudkan sebagai pemeliharaan matan ajaran Islam yang berdasarkan dan bersumber kepada Al-Qu’ran dan As-Sunnah Ash-Shahihah sedangkan dalam pengertian “peningkatan atau pengembangan” tajdid dimaksudkan sebagai penafsiran, pengamalan dan perwujudan ajaran Islam dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah Ash-Shahihah.

Setiap istilah memiliki pandangan atau konsep tertentu, namun untuk Muhammadiyah sebenarnya bermuara pada sifat dan orientasi gerakan pembaruan, yakni gerakan yang memperbarui cara pandang atau paham tentang Islam guna menjawab persoalan-persoalan kehidupan yang bersifat kekinian.

Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam di Indonesia lahir atas dorongan kondisi-kondisi yang hadir dan mengitari dunia Islam di Indonesia pada permulaan abad ke-20, antara lain kondisi sosial politik, kultural dan keagamaan.

Dalam berbicara tentang faktor-faktor yang melatarbelakangi lahirnya gerakan Muhammadiyah, maka para penulis Islam memiliki berbagai pandangan. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA), sebagaimana yang dikutip oleh Syafi’i Maarif menyatakan bahwa ada tiga faktor yang mendorong lahirnya gerakan Muhammadiyah, yaitu : pertama, keterbelakangan serta kebodohan umat Islam Indonesia di hampir semua aspek kehidupan; kedua, kemiskinan yang sangat parah yang diderita umat Islam justru dalam suatu negeri yang kaya seperti Indonesia; dan ketiga, keadaan pendidikan Islam yang sudah sangat kuno, sebagaimana yang bisa dilihat melalui pesantren.

Solichin Salam juga menyebutkan adanya faktor intern dan faktor ekstern yang mendorong lahirnya gerakan Muhammadiyah. Faktor internnya adalah: Pertama, kehidupan beragama tidak sesuai dengan al-Qur’an dan Hadits, karena merajalelanya perbuatan syirik, bid’ah dan khurafat yang menyebabkan Islam menjadi beku. Kedua, keadaan bangsa Indonesia serta umat Islam yang hidup dalam kemiskinan, kebodohan, kekolotan dan kemunduran. Ketiga, tidak terwujudnya semangat ukhuwah islamiyah dan tidak adanya organisasi Islam yang kuat. Keempat, lembaga pendidikan Islam tak dapat memenuhi fungsinya dengan baik, dan sistem pesantren yang sudah sangat kuno.

Adapun faktor-faktor ekstern, mencakupi: Pertama, adanya kolonialisme Belanda di Indonesia. Kedua, kegiatan serta kemajuan yang dicapai oleh golongan Kristen dan Katolik di Indonesia. Ketiga, sikap sebagian kaum intelektual Indonesia yang memandang Islam sebagai agama yang telah ketinggalan zaman. Keempat, adanya rencana politik kristenisasi dari pemerintah Belanda, demi kepentingan politik kolonialnya.

Demikian beberapa faktor yang mempengaruhi atau melatarbelakangi timbulnya gerakan pembaruan Muhammadiyah. Alasan-alasan itu pula yang menjadi dasar bagi munculnya kesadaran baru, kemajuan dan berkembangnya alam pikiran umat Islam Indonesia.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster