Diangkat Jadi PNS Jalur K2, Penantian Sutrimo Selama 23 Tahun Terbayar

 340 total views,  2 views today

Sutrimo bersama dengan Bupati PALI H. Heri Amalindo

Sutrimo bersama dengan Bupati PALI H. Heri Amalindo

PALI – Mendapati namanya tercantum sebagai salah satu peserta honorer K2 yang lulus sebagai CPNS, tidak membuat Sutrimo histeris. Meskipun kebahagiaannya tiada terkira, toh ia menanggapinya dengan wajar.

“Kalau bahagia rasanya tidak terhingga Mas. Lega, bahagia, haru semuanya bercampur jadi satu. Tapi tidak perlu berlebihan. Toh ini semua kehendak gusti Allah,” kata Sutrimo.

Sutrimo adalah salah satu guru yang lulus CPNS kategori K2. Ia memastikan diri sebagai CPNS setelah namanya tercantum dalam pengumuman yang dikeluarkan kemenpan RI.

Lulus sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), tentu menjadi dambaan banyak orang. Tapi bagi Sutrimo jabatan pegawai negeri adalah suratan bukan semata-mata tujuan. Dirinya merelakan waktu menguji. Bukan ia tidak berharap, bagi Sutrimo terlahir sebagai manusia yang bermanfaat bagi manusia lain adalah berkah paling utama yang ia syukuri.

Betapa tidak, bisa melakoni peran sebagai guru saja membuat ia senang bukan kepalang. Ini dibuktikan dengan mengabdikan diri sebagai guru selama 23 tahun tanpa sekalipun pernah mengeluarkan kata mengeluh walaupun hanya satu kata.

Waktu 23 tahun ia habiskan untuk mendidik anak-anak sampai bisa menulis dan membaca. Waktu 23 tahun sebagai honorer juga membuktikan, jabatan pegawai negri bukan tujuan utama.

Sutrimo masih ingat, tahun 1991 setelah menikahi Lisdiana ia hijrah mengikuti sang istri yang pulang kampung menuju tanah Sumatera. Kota Klaten Jawa Tengah ia tinggalkan. Desa Talang Akar Kecamatan Talang Ubi Kabupaten Muara Enim (sekarang Kabupaten PALI) menjadi tujuan.

Kondisi fisiknya yang terbatas, dengan kaki dan tangan yang cacat membuat mencari pekerjaan menjadi hal tersulit yang ia temui. Mendengar SD dikampung istrinya kekurangan pengajar membuat dirinya memberanikan diri melamar.

“Karena kurang guru, saya coba mengajar. Alhamdulillah, meski saya begini saya diterima,” Sutrimo mengulang kisahnya.

Bisa mengajar dan memberikan manfaat bagi sesama membuat Sutrimo muda senang bukan kepalang. “Rasanya seneng banget mas. Guru itu pekerjaan mulia, rasanya nggak nyangka gitu. Kok saya bisa jadi guru,” kenang alumni SMA PGRI 2 Klaten itu.

Berbekal gaji Rp 25.000,- per bulan, Sutrimo melakoni hari-hari sebagai guru. Setiap dua tahun ia menikmati kenaikan gaji sebesar Rp 5.000,-. Sampai akhirnya sekarang bisa menikmati gaji Rp 600.000,- perbulan. “Sejak ada dana BOS, alhamdulillah honornya bisa lumayan,” ujarnya tersipu.

Dengan tekun ia menjalani profesi guru. Dengan tangan dan jari yang cacat, tidak mengurangi semangatnya memegang kapur tulis. Dari jarinya yang terbatas, telah membuat ribuan orang bisa membaca dan menulis.

Disiplin adalah materi pelajaran utama yang diberikannya kepada murid-murid tercinta. Ia tidak mentolerir sedikitpun pelanggaran displin anak didiknya. Ia tidak segan menghukum anak-anaknya yang tidak disiplin. “Siapa yang tidak disiplin harus dihukum. Tidak peduli anak siapa. Anak di sekolah saya berarti anak saya. Saya bertanggungjawab terhadap mereka,” ujarnya tegas.

Anak yang nakal, bagi lelaki kelahiran 18 Oktober 1966 itu bukanlah aib. Ia justru senang dengan kenakalan anak-anak. “Namanya anak-anak, yaa.. Pasti nakal. Tugas guru yaa… Membikinnya tidak nakal lagi,” tutur putra pasangan Mulyo Ikromo dan Rudiyem ini kalem.

Makanya ia sangat tidak setuju bila ada anak dikeluarkan dari sekolah, hanya karena alasan nakal.

“Saat anak dikeluarkan karena nakal, maka saat itulah pendidikan disebuah sekolah itu gagal. Gagal membenahi kenakalan anak. Karena sekolah itu tujuannya mendidik anak. Mendidik dari tidak bisa menjadi bisa. Mendidik dari nakal menjadi tidak nakal lagi,” ujarnya penuh filosofi.

Kedisiplinan dan konsistensi mendidik itu tetap ia jaga sampai sekarang. Tidak peduli sang anak didik sudah dewasa bahkan memiliki jabatan atau pangkat tinggi. Saat disekolah anak didiknya tetap harus mengikuti disiplin sekolah.

“Anak didik saya ada yang sudah jadi polisi. Biar dia polisi punya pangkat tinggi, Kalau disekolah tetap anak saya. Harus hormat dan disiplin. Gak boleh main-main,” ujarnya.

Karena itulah, dalam setiap kesempatan mengajar anak didiknya tidak pernah berani mengejek kekurangan fisiknnya.

Hari-hari penuh suka cita ia lalui dengan riang gembira. “Tidak kisah duka mas. Semua hari indah dan suka cita” ujarnya. Hasilnya, paling sedikit 8.400 hari ia lalui dengan status honorer. “Diangkat jadi PNS, Alhamdulillah. Tidak diangkat juga tidak apa-apa, toh Gusti Allah tahu apa yang saya perbuat” ujarnya, suatu waktu sebelum pengumuman kelulusannya.

Kini, ayah dari Tyas Faisal (20  tahun, bekerja sebagai operator alat berat) itu sudah jadi PNS. Sisa waktu pengabdiannya sebagai PNS akan ia manfaatkan untuk memperpanjang daftar anak yang ia didik. Ia akan terus mengajar dan mengajar. Membuktikan komitmennya untuk bangsa ini.

 

Teks/Foto     : Indra Setia Haris

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster