Standar Hidup Rp 300 Ribu/Perbulan

 157 total views,  4 views today

Ilustrasi

Ilustrasi

PALEMBANG – Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional, standarisasi hidup di Kota Palembang adalah Rp 300 ribu per bulannya per kapita. Dengan biaya tersebut, masyarakat sudah mampu melewati garis kemiskinan.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Palembang, Reflin Arda mengatakan, survei standarisasi minimal tersebut berdasarkan konsumsi makanan, yakni sebesar 2100 kalori per harinya ditambah kebutuhan minimal non makanan. “Untuk non makanan yaitu, kegiatan sosial, tranporstasi, dan wisata,” ungkapnya,  kemarin.

Reflin mencontohkan, untuk sebuah keluarga yang terdiri dari 4 anggota setidaknya harus memiliki penghasilan minimal Rp 1,2 Juta. “Jika penghasilan mereka kurang dari Rp. 1,2 maka keluarga tersebut berada dibawah garis kemiskinan,”bebernya.

Lebih jauh Reflin menjelaskan, untuk pendapatan per kapita dihitung berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), untuk pendapatan regional warga Palembang dasar harga berlaku tahun 2005-2012 ditetapkan sebesar Rp 29,109 juta per kapita per tahun, tanpa migas atau Rp 36,845 juta per kapita per tahun.

“Apabila pendapatan seluruh warga Palembang merata, maka sedikitnya mereka akan memiliki penghasilan Rp 29 juta per tahun atau sekitar Rp 2 juta per bulan. Jumlah ini hanya selisih sedikit dengan Umpah Minimum Regional (UMR) yang ditetapkan Pemkot Palembang yakni Rp Rp 1.850.000 per bulan, tapi nyatanya jumlah pendapatan per kapita setiap orang berbeda-beda,” bebernya.

Menurutnya, di Palembang umumnya tingkat kemiskinan lebih dipengaruhi oleh ragam variasi konsumsi makanan, tingkat pendidikan dan tingkat kesehatan yang relativ masih rendah. “Dari data BPS tahun 2012, untuk tingkat pendidikan hingga jenjang SMP usia 13-15 tahun, anak laki-laki tercatat sebesar 85,56 persen dan perempuan 98,43 persen,” jelasnya.

Sedangkan, untuk jenjang SMA usia 16-18 tahun partisipasi anak laki-laki sebanyak 74,11 persen dan perempuan 69,67 persen. Masih banyak anak-anak SMP yang tidak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang SMA. “Oleh sebab itu masih perlu adanya evaluasi di dunia pendidikan. Seperti sistem sekolah gratis, yang diterapkan mungkin masih harus di sempurnakan,” tukasnya.

 

TEKS              : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR          : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster