Pasutri Tersangka Pencucian Uang Kembali Disidang

 326 total views,  2 views today

Pasangan suami istri (Pasutri) yang menjadi terdakwa bandar narkoba hampir satu kilogram dan tindak pidana pencucian uang, Zulkarnain dan Nurhayati, menjalani sidang keterangan saksi di PN Palembang, Senin (17/2).

Pasangan suami istri (Pasutri) yang menjadi terdakwa bandar narkoba hampir satu kilogram dan tindak pidana pencucian uang, Zulkarnain dan Nurhayati, menjalani sidang keterangan saksi di PN Palembang, Senin (17/2).

PALEMBANG, KS –Pasangan suami istri (Pasutri) yang menjadi terdakwa bandar narkoba hampir satu kilogram dan tindak pidana pencucian uang, Zulkarnain dan Nurhayati, menjalani sidang keterangan saksi di PN Palembang, Senin (17/2).

Dari keterangan saksi yang berstatuskan karyawati bank diketahui bahwa sering terjadinya transaksi dalam jumlah besar dari rekening pasutri tersebut.

Saat Zul menjalani sidang, kedua saksi yang masing-masing berasal dari karywati Bank BCA KCP Dempo dan karywati Bank Mandiri 16 Ilir Palembang mengatakan adanya peningkatan transaksi dalam jumlah ratusan juta dari rekening Zulkarnain.

Terjadinya peningkatan transaksi, baik transaksi keluar maupun transaksi masuk, terjadi di tahun 2010. “Dia membuka rekening dengan berkategorikan nasabah biasa di tahun 2008. Nasabah biasa hanya mampu menarik uang tunai maksimal Rp 10 juta,” kata saksi yang berasal dari karyawati Bank Mandiri 16 Ilir, di hadapan majelis hakim yang diketuai Ardi Johan.

Dilanjutkan saksi tersebut, Zulkarnain termasuk nasabah yang aktif. Ia sering mengirimkan uang dari rekeningnya ke beberapa rekening yang lain. Sementara uang yang masuk juga sama banyaknya.

Dituturkan saksi, uang yang masuk dan keluar dari rekening Zukarnain kebanyakan berasal dari Palembang. Dari sekian banyak rekening yang keluar, ada rekening yang ditujukan kepada rekening tabungan Nurhayati.

Sementara itu, saksi lainnya yang berasal dari Bank BCA Kcp Dempo mengatakan, Zukarnain mendaftar menjadi nasabah Bank BCA dengan mengaku sebagai pengusaha tenda. Ia memiliki penghasilan Rp 15 hingga Rp 20 juta tiap bulan.

Namun, peningkatan transaksi dari rekening Zulkarnain baru terjadi di tahun 2010, saat dimana Zulkarnain mengaku baru menjadi bandar sabu. “Rekeningnya kini sudah diblokir atas permintaan pusat. Kami tidak tahu apa sebabnya. Namun, ada info yang saat itu mengatakan dia (Zulkarnain) terlibat kasus narkoba,” kata saksi dari Bank BCA.

Usai Zulkarnain menjalani sidang, tiba giliran Nurhayati menjalani sidang. Jika Zulkarnain mendengarkan dua keterangan saksi, maka Nurhayati hanya satu saksi saja. Pasalnya, dari bukti yang diajukan jaksa, Nurhayati hanya memiliki rekening bank, yakni Bank BCA Kcp Dempo Palembang.

Saksi yang datang dari karyawati Bank BCA Kcp Dempo Palembang, membenarkan Nurhayati membuka rekening tabungan di bank tersebut di tahun 2005. “Rekeningnya diblokir di tahun 2013 atas permintaan pusat. Katanya terlibat kasus narkoba,” kata saksi, di hadapan majelis hakim yang diketuai Murianto.

Baik Nurhayati maupun Zulkarnain membenarkan keterangan saksi. Kedua majelis hakim menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda masih mendengarkan keterangan saksi.

Seperti diketahui, Zulkarnain tertangkap tangan membawa sabu yang beratnya hampir satu kilogram saat melintas di Pangkalan Balai, Banyuasin beberapa waktu lalu. Dari penuturannya, sabu itu dibeli dari seorang bandar yang ada di Aceh.

Usai menangkap Zulkarnain, petugas selanjutnya menangkap Nurhayati karena diduga ikut serta memasarkan sabu bersama Zulkarnain. Selain dijerat pasal narkoba, pasutri ini juga dijerat tindak pidana pencucian uang.

 

Teks      : Oscar Ryzal

Editor    : Junaedi Abdillah

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster