Kasus Kekerasan Perempuan & Anak, Palembang Mendominasi

 249 total views,  2 views today

Ilst. human trafficking

Ilustrasi | Google Img

PALEMBANG-Sepanjang tahun 2013, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak mendominasi terjadi di Palembang. Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sumsel mencatat,  tahun lalu setidaknya terjadi 84 kasus kekerasan terhadap perempuan di metropolis.

Dibawah Palembang, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ini terbanyak terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) 22 kasus, serta Banyuasin sebanyak 19 kasus. Ketua Harian P2TP2A Sumsel, Susna Sundarti, menilai tingginya kasus kekerasan dan anak di Palembang, karena Palembang merupakan kota besar dengan tingginya arus modernisasi.

“Banyak watak serta sifat masyarakatnya. Apalagi jumlah masyarakat Palembang juga tertinggi ketimbang daerah lain yang ada di Sumsel,” kata Susna dibincangi di ruang kerjanya, kemarin.

Susna menegaskan, untuk daerah lain yang tercatat masih kecil tindak kekerasannya, jumlah tersebut bukanlah hal yang menjadi pedoman dalam pencatatan. Fenomena gunung es selalu terjadi.

“Jadi hanya yang tampak permukaannya saja yang kecil, sedangkan banyak permasalahan yang tidak terungkap dan diketahui lantaran korban malu melapor ke pihak yang berwajib atas apa yang menimpanya,” ujarnya.

Ia menegaskan, pihaknya tetap memberikan upaya perlindungan terhadap perempuan seperti melakukan pendampingan kepada para korban tindak kekerasan sehingga bisa dicegah hal-hal yang dapat mengancam keselamatan jiwa korban.

Tak hanya itu, memberikan penyuluhan kepada masyarakat dan remaja putri yang rentan menjadi korban tindak kekerasan agar selektif memilih pria yang akan dijadikan pasangan atau pendamping hidup mereka.

“Kita dorong ibu-ibu atau remaja putri menempuh jalur hukum jika menjadi korban pemukulan, kekerasan seksual, tindak kekerasan perkosaan, dan tindak kekerasan lainnya dari suami atau pacarnya,” ujarnya.

Menurut dia, tindak kekerasan terhadap perempuan selama ini angkanya terus meningkat karena korban terkesan membiarkan pelakunya melakukan tindakan pelanggaran hukum itu. Pelaku tindak kekerasan terhadap perempuan sudah saatnya diberikan pelajaran dengan melaporkan tindakannya kepada aparat kepolisian.

“Masyarakat masih takut melapor. Ini yang kita harapkan, jangan malu, apalagi ini demi keselamatan jiwa mereka sendiri. Setiap kekerasan itu kejahatan, dan harus diproses biar ada efek jera bagi para pelakunya,” bebernya.

Terpisah, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumsel, Siti Romlah menilai, kekerasan terhadap perempuan justru terjadi di lingkungan keluarga terdekat. Faktor menjamurnya film-film yang mengundang kekerasan justru menjadi pemicu. “Catatan kita justru, dari 36 kasus kekerasan, 24 diantaranya pelecehan seksual terhadap sang anak. Ini yang sangat kita prihatinkan,”  tukasnya.

 

TEKS              : IMAM MAHFUZ

EDITOR          : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster