Dua Koridor Transmusi Distop

 328 total views,  2 views today

Trans Musi

Trans Musi

PALEMBANG, KS -Bus Rapit Transit (BRT) Transmusi yang sempat digadang-gadangkan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang, akan menjadi transportasi publik andalan di Palembang ternyata saat ini kejayaannya mulai berangsur surut.

Setelah mengalami krisis keuangan, hingga sempat dua kali sopir dan pramugara Transmusi melakukan aksi mogok menuntut pembayaran gaji mereka. Kini, dua koridor Transmusi dihentikan operasionalnya.

Penghentian dua koridor itu dialaskan oleh PT Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J), sebagai operator Transmusi, karena sepinya penumpang. Manajer BRT Transmusi, Djoko Santoso mengatakan, pihaknya sudah meninjau ke efektifan ke dua koridor tersebut cukup lama.

Hasilnya,  dua koridor yakni koridor 7 dan koridor 8 tidak efektif menghasilkan penumpang. Oleh sebab itu, kata Djoko pihaknya hentikan dulu sementara waktu. “Kalau penumpangnya tidak ada, untuk apa di teruskan, lebih baik kita stop dulu, nanti kan bisa dicarikan koridor baru. Selama ini di dua koridor itu, dilayani delapan unit Transmusi,”ungkapnya belum lama ini.

Djoko menyebutkan, ke dua koridor tersebut masing-masing melayani penumpang dari Terminal Alang-Alang Lebar (AAL) ke Terminal Karya Jaya dan Kenten Laut menuju Jalan Letkol Iskandar.

Menurut Djoko, ke dua koridor tersebut sudah beroperasional lebih kurang empat bulan. “Selama beroperasional, setiap BRT hanya mengangkut lebih kurang 10 penumpang saja, padahal muatan BRT tersebut kan besar,” ujarnya.

Sambung Djoko, kalau ke dua koridor tersebut masih tetap beroperasi, maka pengeluaran BRT akan membengkak. Sementara penghasilan tidak ada. “Makanya saat ini kami hentikan dahulu, penghentian tersebut adalah salah satu upaya kami untuk efisiensi dana pengeluaran Bahan Bakar Minyak (BBM),”ujarnya.

Djoko mengaku, semenjak cuaca ekstrim, jumlah penumpang BRT menurun cukup trastis, bukan hanya di koridor 7 dan 8 saja melainkan enam koridor lainnya, juga mengalami penurunan jumlah penumpang. “Mudah-mudahan kedepannya jumlah penumpang kita akan tetap stabil, sehingga untuk memenuhi kebutuhan lainnya bisa terpenuhi,”harapnya.

Sebelumnya Dirut PT SP2J, Marwan Hasmen mengatakan, SP2J harus menggelontorkan dana rutin setiap bulannya Rp 1,1 miliar untuk membayar kredit 90 BRT Transmusi. Sementara penghasilan hanya sekitar Rp 40 juta per harinya. membayar kredit 90 bus saja tidak cukup, apalagi harus membayar gaji karyawan,” ujarnya.

Selama ini sambung Marwan untuk membayar kredit ke 90 bus tersebut, melalui dana penyertaan modal dari pemkot selaku pemilik saham terbesar. “Jadi dari dana penyertaan modal tersebut Rp 1,1 untuk kredit bus, yang baru selesai Tahun 2016 mendatang,” ungkapnya.

Marwan mengaku, semenjak dana penyertaan modal di stop, pihaknya hanya bisa pasrah saja. “Kalau bus mau disita silakan, kita memang tidak bisa membayarnya untuk saat ini, karena penghasilan kita belum mampu untuk menutupi itu semua,” tukasnya.

 

TEKS               : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR         : DICKY WAHYUDI

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster