Kepsek Jadi Incaran Penipu Berkedok Proyek

 273 total views,  2 views today

Kabid Sarana Prasarana Dinas Dikbudpora, Yulnadi SPd MPd

Kabid Sarana Prasarana Dinas Dikbudpora, Yulnadi SPd MPd

PALI | KS-Banyaknya gedung sekolah di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) yang rusak parah memancing para penipu untuk mencari mangsa. Berkedok proyek bantuan pembangunan gedung sekolah, para penipu mengincar para kepala sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disdikbudpora), Kabupaten PALI melalui Kepala Bidang Sarana dan Prasarana (Kabid Sarpras) Drs Yulnadi MSi, menghimbau kepada para Kepala Sekolah di PALI untuk waspada dengan penipuan berkedok pemberian bantuan ini.

Menurutnya, sudah ada Kepsek yang nyaris menjadi korban penipuan jenis ini. Modusnya, Kepsek biasanya mendapat telpon dari seseorang yang mengaku dari Dinas Pendidikan (Provinsi -red) ataupun Kementerian Pendidikan.

“Baru-baru ini pernah ada Kepsek yang telpon saya. Ia lapor bahwa dapat bantuan pembangunan RKB (Ruang Kelas Baru) senilai Rp150 juta,” ungkap Yulnadi.

Untungnya, hal tersebut cepat diketahui setelah sang kepsek mengkonfirmasikan kebenaran informasi tersebut kepadanya. Kepsek dimaksud adalah Kepsek PGRI di Tempirai.

Orang ini, tutur Yul, menginformasikan pada Kepsek bahwa sekolahnya bakal mendapatkan bantuan sarana/ prasarana pendidikan berupa pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) senilai Rp150 juta.

Namun, sang Kepsek diminta setor dulu sebesar lima persen agar bantuan dapat dicairkan. Sang Kepsek langsung cepat tanggap. Merasa ada yang tidak beres, ia kemudian langsung menelpon Yulnadi untuk mencari tahu kebenarannya.

Untuk itu, Yulnadi menghimbau kepada para Kepsek yang ada di PALI, untuk tidak lekas percaya dengan modus-modus penipuan seperti ini. Sebab, kata Yul, sudah ada yang jadi korban.

“Ya, meski sang Kepsek di PALI tadi nyaris jadi korban, di daerah lain sudah ada yang jadi korban.  Jangan percaya dengan telpon-telponan. Sebab biasanya kalau ada bantuan biasanya melalui surat. Dan itu tidak langsung kepada sekolah/ Kepsek yang dituju. Melainkan pasti sampai dulu ke Dinas Pendidikan setempat,” imbuhnya.

Selain itu lanjutnya, biasanya bantuan tersebut tidak pernah turun dengan sendirinya. Pasti, setiap Dinas (Pendidikan) mengusulkan terlebih dahulu permohonan bantuan itu.

Soal adanya penyertaan modal bagi sekolah atau masyarakat, Yulnadi mengakui. Namun penyertaan ini, aku Yulnadi, tidak untuk disetorkan atau ditransfer. “Memang ada beberapa program yang mensyaratkan penyertaan modal dari sekolah atau masyarakat, tapi tidak disetor,” jelasnya.

Penyertaan ini, menurut Yulnadi hanya sebagai dana tambahan saja. “Misalnya ada bantuan pembangunan gedung sekolah baru dari pemerintah pusat sebesar Rp 200juta, syaratnya harus disediakan penyertaan lokal, misalnya sebesar 10%. Artinya penyertaan dari sekolah atau masyarakat sebesar Rp 20juta. Nah, penyertaan ini tidak untuk disetorkan. Tapi pencairan bantuan tadi hanya 90% dari total bantuan” jelasnya.

Yulnadi juga mewanti-wanti, tidak semua bantuan seperti itu. “Hanya pada proyek tertentu saja yang mensyaratkan partisipasi masyarakat,” ungkap mantan Kepala SMPN 1 Talang Ubi ini.

Berdasarkan catatan KabarSumatera, beberapa waktu lalu, pernah ada satu kepala SDN di Talang Ubi yang sempat menjadi korban penipuan seperti ini. Kepala sekolah tersebut mendapat telepon dari seseorang yang mengaku Kepala Dinas Pendidikan Muara Enim. Seseorang itu meminta ditransfer uang sejumlah Rp 20 juta. Dan meminta sang kepsek untuk datang ke Muara Enim menghadap sang kepala dinas.

Namun saat keesokan harinya, betapa terkejut sang kepala sekolah setelah tahu kepala dinas tidak pernah menelepon dirinya dan tidak kenal dengan nomor tersebut.

 

Teks/Foto      : Indra Setia Haris

Editor              : Junaedi Abdillah

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster