Longsor Ancam Kawasan Dempo

 148 total views,  10 views today

PAGARALAM KS-Akibat kerap diguyuri hujan lebat, dua kelurahan di Kota Pagaralam yang merupakan pemukiman padat penduduk sejauh ini rawan terjadi longsor dan runtuh batu gunung. Adapun kawasan rawan longsor dimaksud, berada di daerah kaki gunung Dempo dan perbukitan terjal termasuk jurang kawasan perkebunan teh PTPN VII.

Pantauan di lapangan, memang sebagian besar pemukimaman padat penduduk berada di daerah Gunung Dempo hingga mencapai sekitar 4.000 kepala keluarga (KK), dengan kondisi kemiringan tebing mencapai 70 hingga 90 derajat.

“Mayoritas daerah rawan longsor tersebut berada di dibawah perbukitan atau alur sungai, seperti di Kelurahan Gunung Dempo, Kecamatan Pagaralam Selatan, Kelurahan Dempo Makmur Kecamatan Pagaralam Utara,” ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Herawadi SSos, kemarin (6/2).

Menurutnya, sejumlah daerah tersebut memang memiliki hutan kritis dan alur daerah aliran sungai (DAS) yang kondisinya sudah mengalami kerusakan cukup parah akibat maraknya aksi perambahan dan perluasan lahan perkebunan.

“Sejauh ini memang ada beberapa titik jalan diseputaran kaki Gunung Dempo terjadi amblas dan longsor, termasuk di areal pemukiman warga,” terangnya.

Lanjutnya, sebagian besar perumahan warga berada di bawah jalan dan diatas tebing dengan ketinggian antara 10 hingga 15 meter. Meski begitu, pemukiman tersebut tergolong cukup rawan terjadi longsor seperti di pemukiman kaki Gunung Dempo, mengingat  kultur tanah yang ada tergolong gembur dan berada di aliran sungai-sungai kecil.

“Sejak beberapa bulan terakhir, intensitas hujan cukup tinggi. Bahkan bukan tidak mungkin, ancaman longsor tersebut bisa terjadi. Apalagi ada sekitar lima titik daerah disepanjang kampung I hingga kampung IV Gunung Dempo mulai terjadi longsor,” katanya.

Herawadi menegaskan, keberdaan pemukiman di daerah ini  dibawah tebing yang kondisinya memang sudah banyak beralih fungsi menjadi lahan perkebunan dan pertanian, sehingga hutan yang ada mulai berkurang.

“Reruntuhan gundukan tanah tinggi di kaki gunung tersebut kerap terjadi ketika hujan deras mengguyuri sejumlah lokasi tersebut dalam kurun satu bulan terkahir ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, akibat terjadi longsor yang disertai robohnya pohon kayu kerap menutupi perumahan warga setempat. Bahkan bukan saja sering terjadi longsor susulan, tetapi hal itu dinilai sangat membahayakan pengendara saat melintasi kawasan objek wiata tersebut.

“Longsoran tebing setinggi 10-20 meter dengan bukan hanya akan menutupi badan jalan saja, tapi termasuk perumahan penduduk di pemukiman cukup padat tersebut ikut terancam,” tegasnya.

Sementara itu, Lurah Dempo Makmur Haryono mengatakan, biarpun tak sempat menimbulkan korban jiwa, tetapi bukan tidak mungkin ketika curah hujan tinggi longsor susulan dalam kapasitas lebih besar bisa saja terjadi.

“Longsor terjadi karena kondisi tanah cukur labil setelah diguyur hujan deras. Hal itu cukup beberapa jam saja, apalagi hujan kerap terjadi seharian mengguyuri Bumi Besemah sekitarnya,” kata Haryono.

Terpisah, Wali Kota Pagaralam, Hj Ida Fitriati Basjuni mengatakan, memang ada beberapa daerah cukup rawan terjadi bencana alam berupa longsor dan banjir badang.

“Kendati demikian, upaya mengantisipasi hal dimaksud, kita telah siagakan tim pengendalian bencana mulai dari tingkat kelurahan hingga kota termasuk tim SAR,” ujarnya.

Saat ini Pemerintah Kota Pagaralam, sudah melakukan siaga bencana teruatama di daerah yang paling rawan bencana seperti Gunung Dempo, Lematang, Indikat dan beberapa daerah lainnya,” kata Ida seraya berujkar longsor kerap terjadi secara tiba-tiba berupa rutunya dinding batu, bahkan di kawasan Objek Wisata  Lematang Indah pada 2007 lalu pernah terjadi longsor besar dan termasuk pohon roboh mingggu lalu yang sempat memacetkan lalulintas.

 

TEKS        : ANTONI STEFEN

EDITOR  : RINALDI SYAHRIL

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster