Anjal Tak Kunjung Tuntas Ditangani

 279 total views,  2 views today

Anak jalanan di simpang empat Charitas Palembang. Mesti diberikan pendidikan layak.

Anak jalanan di simpang empat Charitas Palembang. Mesti diberikan pendidikan layak. | Foto : Bagus Park

PALEMBANG, KS-Traffic light di Jalan R Soekamto tepatnya di Simpang Sekip, Palembang menunjukkan warna merah. Empat orang yang berusia antara 9-12 tahun langsung berhamburan menuju ke kendaraan yang berhenti.

Dua orang diantaranya menghampiri salah seorang pengendara sepeda motor, dibelakang menyusul seorang bocah yang mengenakan seragam Tim Nasional (Timnas) Indonesia bertuliskan Irfan Bachdim, kemarin.

Bocah tersebut nyaris saja tertabrak sepeda motor yang melintas.  Dengan muka kuyu dan pakaian lesu serta alas kaki seadaanya, mereka menadakan tangan memintas rupiah dari pengendara sepeda motor tersebut.

Sementara itu disisi lain, seorang bocah berhenti disamping mobil jenis Kijang Inova. Tangan kecilnya, dengan lincah memetik gitar kecil sambil menendangkan lagu dengan lirik yang tak jelas. Belumlah usai lagu itu dinyayikan, bocah tersebut mengetuk jendela mobil yang ada didepannya seraya mengulurkan tangan. Selembar uang seribu rupiah, diterima bocah tersebut.

Pemandangan tak berbeda jauh juga terjadi di Jalan Jend Sudirman. Dua orang bocah, asyik duduk ditepi trotoar sambil memetik gitar kecil dalam dekapannya sambil menunggu traffic light berwarna merah. Diseberangnya, tepat ditengah-tengah marka jalan salah seorang anak duduk santai tanpa terganggu ramainya kendaraan yang melintas. Sesekali wajahnya ditutupi dengan t shirt kucel, ia sesekali menghirup aibon yang ada ditangannya.

Fenomena diatas bukanlah suatu yang asing bagi masyarakat Palembang, sejumlah anak jalanan (anjal) masih bisa dengan mudah ditemukan di persimpangan strategis di metropolis. Penanganan anjal, sampai saat ini belum juga tuntas walaupun dana pembinaan terus dikucurkan dan dianggarkan setiap tahunnya baik oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel maupun Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang.

Berapa jumlah anjal di Sumsel ?, Menteri Sosial (Mensos), Salim Segaf Aljufri saat kunjungan kerja (kunker) di Palembang, Agustus 2012 lalu menyebut jumlah anjal di Sumsel mencapai 4.383 orang yang tersebar di 15 kabupaten dan kota di Sumsel.

Salim meminta pemprov, pemerintah kabupaten (pemkab) dan pemkot di Sumsel, melakukan penanganan serius terhadap anjal. “Mereka perlu dilakukan pembinaan, pendekatan baik secara kemanusian maupun secara sosial. Sehingga secara bertahap jumlahnya bisa diminimalisir, secara nasional kita menargetkan di tahun 2014 mendatang tidak ada lagi anjal di Indonesia,”sebutnya saat itu.

Keinginan Salim tersebut, bukanlah barang baru. Beberapa pendahulunya pun, sudah melakukan program serupa untuk melakukan pembinaan anjal. Dana yang dikucurkan pun, bukan sedikit. Sementara di Sumsel, tahun ini Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Sumsel, Apriyadi menyebut sudah dianggarkan dana Rp1,1 miliar di APBD Sumsel 2013 untuk pembinaan anjal. “Mereka kita berikan keterampilan,” kata Apriyadi beberapa waktu lalu.

Apriyadi juga menyebut berbagai program telah dirancang untuk membina anjal. “Pembinaan diarahkan dengan kegiatan ekonomi produktif, dan memberi keterampilan. Sehingga mereka nantinya tidak perlu ke jalan untuk mencari penghasilan,” jelas Apriyadi.

Sementara di Palembang, Kepala Dinsos Palembang, Faizal AR menyebut jumlah anjal di Palembang saat ini menurun sekitar 25 persen.  Di 2010 jumlah anjal yang terdata mencapai 200 anjal dengan rincian 122 orang laki-laki dan 78 perempuan. Sementara di 2011, jumlahnya turun menjadi 86 anjal dengan rincian 35 laki-laki dan 51 perempuan.

Untuk mengurangi jumlah anjal yang berkeliaran di jalan, Dinsos sebut Herty melakukan pembinaan dengan memberikan kursus keterampilan dan mengajarkan jiwa kewirausahaan kepada anjal.  “Dalam metode ini, anjal yang terjaring kita masukkan dalam panti model. Di panti itu, mereka  diberikan keterampilan,” jelasnya.

Namun untuk membangun panti model tersebut, Dinsos sebutnya membutuhkan dana sekitar Rp3 miliar. Dananya sebut dia, diharapkan dari bantuan Kementrian Sosial dan dana social responsibility (CSR) perusahaan serta APBD Kota Palembang.

Selain pembinaan,  pengawasan pun menurutnya diperketat.  Ruang gerak anjal menurutnya, dipersempit dengan melarang masyarakat memberikan sedekah atau sumbangan di jalan.  Aturan itu menurutnya, akan diatur dalam peraturan daerah (perda).

“Dalam aturan yang sedang digodok tersebut,  warga yang memberikan sumbangan kepada anjal di jalan bisa dikenakanan sanksi baik denda maupun kurungan,”imbuhnya.

Walaupun begitu, ternyata persoalan anjal di Palembang tak kunjung tuntas. Anjal pun masih mudah ditemukan, entah kapan penanganan anjal di kota empek-empek ini bisa diselesaikan secara manusiawi.

 

Teks      : Alam Trie Putra

Editor  : Dicky Wahyudi

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster