Sawit Rakyat Kini Terjepit

 190 total views,  4 views today

Ilustrasi

Ilustrasi

PALEMBANG KS – Areal lahan perkebunan di Sumatera Selatan masih cukup luas, hampir mencapai angka 75.000 hektar. Namun, sebaliknya sawit yang diurus rakyat kian terjepit.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumargono Saragih menyebutkan, dari cadangan lahan perkebunan kelapa sawit sekitar 75.000 hektar, yang digarap baru 5 persen atau 3.750 hektar. Cadangan lahan itu tersebar di kabupaten Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, dan Musi Rawas.

Untuk produksi minyak sawit mentah (CPO) Sumsel mencapai 1,85 juta ton. Produksi CPO Sumsel saat ini sedikit mengalami hambatan karena curah hujan tinggi. Curah hujan tersebut menyebabkan pengangkutan buah kelapa sawit ke pabrik dan dari pabrik ke pelabuhan terhambat.

”Kami optimistis target produksi CPO Sumsel bisa tercapai kalau cuaca membaik,” ungkapnya.

Sekretaris Jenderal Gapki Joko Supriyono mengutarakan, Gapki mendesak pemerintah segera menerbitkan peraturan presiden yang mengatur moratorium konversi hutan alam dan lahan gambut. Alasannya, perpres tersebut merupakan tindak lanjut dari penandatanganan perjanjian antara Pemerintah Indonesia dan Norwegia tentang upaya menurunkan emisi gas karbon akibat penggundulan hutan dan degradasi lahan.

Kata, perpres itu dibutuhkan bagi pengusaha kelapa sawit agar dapat melakukan ekspansi perkebunan kelapa sawit di kawasan hutan yang terdegradasi. Perpres tentang moratorium hutan itu sesungguhnya tidak merugikan siapa pun, tetapi kenapa tidak segera diterbitkan pemerintah.

Bersebab itu, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumsel siap melakukan perluasan lahan perkebunan. Saat ini potensi garapan mencapai 300 ribu hektare.

“Potensi lahan yang ada di Sumsel masih sangat besar. Hasil survei kita mencapai 300 ribu hektar,” cetus Rusdan Zaini Lubis, Ketua Gapki Sumsel.

Lanjutnya, apabila moratorium ditunda, pihaknya siap mengembangkan lahan yang ada. Potensi lahan seluas 300 ribu hektare itu paling besar dari Musirawas, Banyuasin, dan OKI.

“Daerah ini yang paling tinggi areal lahan yang kita bidik,” ujarnya.

Sekedar informasi, produksi sawit rata-rata perhektar mencapai satu ton Crude Palm Oil (CPO) dan plasma capai tiga hingga empat ton CPO. Nilai ini, diakuinya masih rendah dibandingkan daerah lain.

Ir H Alex Noerdin Gubernur Sumsel menyebutkan, Sumsel memiliki 800 ribu hektar kebun kelapa sawit yang semuanya digarap melalui plasma dan perorangan. Namun kondisinya tidak dalam hamparan luas, namun kecil-kecil dan terpisah.

Sementara Ketua Umum Gapki, Joefly Bachroeny berpendapat, saat ini produksi kelapa sawit di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia yang volumenya mencapai 27,25 juta ton CPO dengan pemanfaatan 10 juta hektare. Peran industri kelapa sawit mampu memperbaiki neraca perdagangan indonesia dengan kontribusi Sawit 22,45 miliar us dollar, minyak 36 miliar dolar USA dan volume impor mencapai 42,56 miliar US $.

Katanya, sekarang neraca perdagangan mengalami surplus non migas  6,2 miliar dolar dengan penyumbang sawit 2,2 miliar dolar USA. Dengan kondisi ini, peranan industri sawit sangat besar mendukung sektor ekonomi Indonesia. Industri sawit merupakan industri padat karya juga paling produktif.

“Pajak ekspor CPO seharusnya juga direvisi agar pelaku usaha kelapa sawit dapat bersaiing di pasar ekspor dan Penerimaan pajak ekspor dapat dikembalikan untuk peremajaan tanaman sawit,” ujarnya.

 

TEKS         : RINALDI SYAHRIL

EDITOR   : IMRON SUPRIYADI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster