Lihab ‘Arafah’ Tiada Matinya

Produk kasur lihab yang ada di seputaran 26 Ilir Palembang. (foto Yogi)

Produk kasur lihab yang ada di seputaran 26 Ilir Palembang. | Foto Yogi

PALEMBANG KS-Aneka produk kasur lihab di Kota Palembang terus bertumbuhkembang. Prospek produk kasur berbahan kapuk randu itu pun tiada matinya. Untung penjualnya terus berlipat ganda.

Kasur lihab pertama kali diperkenalkan dan diproduksi pengrajin dari kota Palembang. Bersebab itu, sebagian masyarakat atau konsumen lebih familiar menyebut kasur Lihab dengan sebutan Kasur Palembang. Namun, ada juga yang menyebut dengan Kasur Santai, kasur lantai (karena sifat dan fungsinya memang efektif dan efisien digunakan dalam segala kondisi). Baik untuk di rumah maupun dibawa untuk berpergian/piknik.

“Ini contoh kasur lantai dari produksi kami yang terbuat dari bahan yang isinya kapuk randu kualitas terpilih, kenyal serta empuk, cocok untuk daerah dengan cuaca panas maupun dingin karena kain yang kami pilih sangat representatif untuk segala macam cuaca. Makanya, kamipun juga memproduksi kasur Palembang dengan bahan kapas sintetis yang harganya bervariasi yang tentunya lebih murah dari pada yang berbahan kapuk randu,” demikian kata Nyonya Emi, Pemilik Toko Arafah di Jalan Mujahirin kepada Kabar Sumatera, Selasa (4/2).

Wanita 58 tahun itu berkata, hampir 15 tahun ia memproduksi dan memasarkan berbagai lihab. Sekitar 1999, ia memberanikan diri untuk merintis usaha kasur lihab tersebut.

“Dulunya aku jualan songket Palembang. Tiga tahun setelah itu, aku menggeluti usaha kasur lihab ini,” cetus Emi.

Lanjut Emi,  usaha kasur lihab memang tidak ada matinya. Prospeknya bahkan kian menggiurkan. Walau begitu, usaha kasur lihab yang bangun agaknya memerlukan proses dan waktu.

“Ya, awalnya sih usaha ini milik keluarga. Dengan tekad yang kuat dan yakin, aku pun yakin akan usaha ini,” tutur Emi sambil berkata mulanya usahanya diawali dengan cara eceran.

Lantas, berapa angka omzet Toko Arafah? Jawab Emi, omzet yang ia himpun berkisar antara Rp 700.000 hingga Rp 2 juta per harinya. Itupun dengan memerkejakan tiga orang karyawan yang bekerja sedari pukul 07.30 WIB hingga pukul 18.00 WIB.

“Di Toko Arafah ini kita jual berbagai jenis-jenis kasur mulai dari kasur berisi busa, kasur berisi kapuk, hingga bantal juga tersedia ditokonya. Dan, harganya bervariasi mulai dari Rp 200.000 hingga Rp 700.000 per buah,” ungkapnya.

Menjaga kualitas lihab adalah bagian strategi yang dipakai Emi dalam bisnisnya. Ucapnya, banyak orang yang menjual kasur lihab dengan isi limbah pabrik dengan harga murah, tapi ia justru lebih memilih memakai bahan yang bermutu. Adapun motif yang ditawarkan antara lain lihab bermotif songket ukuran 2 x 2 meter, motif batik berbagai ukuran, dan motif biasa.

“Itu rahasia aku dalam membesarkan Toko Arafah ini. Walau harga sedikit tinggi, namun konsumen puas dengan produk lihab yang aku pasarkan ini,” tutup Emi yang bermukim di Jalan Mujahidin Nomor 20, RT 21, Palembang ini.

 

TEKS       : SUPRAYOGI

EDITOR : RINALDI SYAHRIL




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com