Adipura Hanya Sekedar Simbol

 384 total views,  2 views today

Ilustrasi Sampah Disungai Musi | Foto : Bagus Park

Ilustrasi Sampah Disungai Musi | Foto : Bagus Park

PALEMBANG, KS-Piala Adipura menjadi lambang tertinggi, bersihnya suatu kota di Indonesia. Piala Adipura pun, kini menjadi prestise bagi kepala daerah di Indonesia sehingga setiap tahunnya setiap daerah berlomba-lomba untuk merebutkan piala tersebut.

Palembang,  pada 2012 lalu kembali menerima Piala Adipura yang ke enam kalinya secara berturut-turut untuk katagori kota besar terbersih di Indonesia. Kedatangan piala itu pun, disambut penuh semangat dan di arak keliling kota. Ritual ini, menjadi ritual wajib tahunan saat piala kebersihan tersebut datang.

Namun benarkah, diraihnya Adipura berarti Palembang sudah bersih ? ternyata tidak. Adipura, hanya menjadi simbol bukan menjadi jaminan kebersihan di suatu daerah. Buktinya tumpukan sampah, masih dengan mudah ditemukan di pinggir jalan atau lingkungan pemukiman warga. Pantauan Kabar Sumatera, kemarin, tumpukan sampah pun, masih sering ditemui dibeberapa perkampungan, jalan, selokan bahkan sungai.

Di Nusa Indah yang merupakan salah satu taman kota di Palembang, akan sangat mudah ditemukan sampah  yang berserakan.  Sejumlah sampah mulai dari sampah bekas plastik, kertas, makanan dan minuman bahkan bekas minuman yang mengandung alkohol juga terlihat berserakan di dekat tanaman.

Begitu juga di sejumlah bantaran sungai. Di salah satu anak Sungai Musi di Kelurahan 9/10 Ulu misalnya,  sampah memenuhi anak sungai tersebut. Tingginya tumpukan sampah tersebut, bahkan sudah membuat sungai yang berada tepat di Pasar 10 Ulu itu menjadi dangkal.  Kondisi serupa bisa ditemui di Jalan RE Martadinata, Kelurahan Sei Buah. Tumpukan sampah berserakan di pinggir jalan bahkan ada di atas trotoar. Padahal di kawasan itu, sudah dipasang plang yang berisikan larangan membuang sampah sembarangan.

Kondisi ini berbanding lurus, dengan tingginya volume sampah yang dihasilkan masyarakat Palembang setiap harinya. Kepala Dinas Kebersihan (DKK) Kota Palembang, Agoeng Noegroho menyebut, volume sampah di Palembang saat ini terus meningkat.

Dalam satu hari menurutnya, mobil pengangkut sampah milik DKK bisa tiga sampai empat kali untuk mengangkut sampah dari semua penjuru ke tempat pembuangan akhir (TPA) Sukawinatan.  “Paling banyak mengangkut sampah yang berserakan di jalan, sisa-sisa bungkus makanan dan minuman dalam kemasan,” keluhnya, ketika dibincangi, kemarin.

Dalam satu hari sampah yang dihasilkan di Kota Palembang, mencapai  500-550 ton sampah. Hitungan itu menurutnya didapatkan dengan asumsi 0.8 liter sampah per hari yang dihasilkan setiap penduduk.  Dengan bertambahnya penduduk, produksi sampah pun diprakirakan setiap tahunnya bakal meningkat.

Meningkatnya volume sampah di Palembang menurut Agoeng, tidak hanya disebabkan pesatnya pembangunan yang ditunjukkan dengan semakin banyaknya tumbuh kompleks-kompleks perumahan baru. Tetapi juga disebabkan pola hidup masyarakat Palembang yang konsumtif.

Sampah-sampah tersebut dari hasil penelitian, mayoritas berasal dari pemukiman penduduk, pasar tradisional, pertokoan, hotel dan restoran, rumah sakit, jalan, taman kota dan industrial. “Setiap tahun, volume sampah di Palembang meningkat. Tahun 2012, volume sampah setiap harinya mencapai 562 ton. Jumlah itu, meningkat 100 ton perhari jika dibandingkan tahun 2011 yang mencapai 450 ton perhari,” ucapnya.

Disebutkan dia, sampah yang dihasilkan di Palembang tersebut 80 persennya adalah sampah rumah tangga dan sampah dari pasar-pasar tradisional. Penyumbang sampah tertinggi adalah kecamatan Ilir Timur (IT) I. Selebihnya, dari kecamatan IT II, Ilir Barat (IB) I dan Seberang Ulu (SU) I.

 

TEKS              : ALAM TRIE PUTRA

EDITOR         : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster