Pembunuh Sadis Divonis Seumur Hidup

 211 total views,  2 views today

diponis

Ilustrasi : Google Image

PALEMBANG, KS – Tersangka pembunuhan sadis terhadap dua bocah, Efredi (37) akhirnya divonis penjara seumur hidup oleh majelis hakim yang diketuai Denson di Pengadilan Negeri (PN), Palembang, Senin (27/1).

Pembunuh Muslim (7) itu dijerat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. “Dari fakta di persidangan, tidak ada alasan untuk menghukum terdakwa di luar kurungan penjara. Pasalnya, korban tidak tewas di lokasi kejadian dan sempat dirawat di rumah sakit,” kata Denson, sesaat sebelum membacakan keputusan.

Karena tidak sesuai dengan keinginan, keluarga dan kerabat Fredi tidak terima dengan vonis hakim. Salah satu pria yang mengaku pamannya Muslim nekat memanjat pagar yang ada di dalam ruang sidang PN Palembang.

Namun, aksinya keburu dihentikan oleh puluhan polisi yang sudah bersiaga sejak sidang belum dimulai.

Seorang pria lainnya tampak menyelinap di tengah kerumunan polisi untuk mengejar Fredi yang melangkah keluar menuju ruang tahanan PN Palembang. Lagi-lagi, usaha pria itu berhasil digagalkan polisi.

“Izinkan saya memukul wajahnya sekali saja, pak. Kami sudah sangat kesal dengan dia,” kata seroang kerabat Muslim kepada polisi.

Terkait vonis hakim, Fredi menerimanya. Begitu juga dengan jaksa, Gunawan dan Ali Akmal, yang menuntut Fredi dipenjara selama lamanya dengan vonis majelis hakim. Dengan demikian, vonis majelis sudah memiliki kekuatan hukum tetap.

Sebelum menjalani sidang, ada pemandangan unik pada Fredy. Fredi berada di dalam mobil tahanan bersama dengan puluhan tahanan lain yang memiliki jadwal sidang di PN Palembang. Namun, Fredi tidak berada di dalam mobil tahanan, melainkan berdiri sendirian di depan pintu mobil tahanan.

Untuk mencegahnya kabur, kedua pergelangan tangan Fredy dibelenggu borgol yang dikaitkan dengan jeruji yang ada di pintu mobil tahanan. Akibatnya, siapa saja bisa melihat Fredi berdiri di atas mobil tahanan.

Jika pada sidang-sidang sebelumnya (mulai dari sidang perdana hingga sidang pembelaan) Fredi selalu ditemani penasehat hukum, maka pada sidang keputusan Fredi menjalani sidang seorang diri. Penasehat hukum Fredi tidak datang karena menurut kabar orangtuanya meninggal.

Fredi diduga telah menghabisi nyawa Muslim sekitar setengah tahun yang lalu. Sebelum membunuh, Fredi terlebih dahulu menyodomi Muslim. Setelah itu, Fredi kabur ke Tangerang dan diamankan di sana.

Teks : Oscar Ryzal

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster