Banjir dan Rawan Pangan

 264 total views,  2 views today

Bencana yang terjadi di seantero Tanah Air, khususnya banjir, bukan hanya menghambat distribusi bahan pokok, melainkan juga membuat produksi pangan jeblok. Tanaman pangan yang terendam banjir hampir pasti gagal dipanen. Kondisi seperti ini bukan hanya dialami oleh daerah-daerah lain, tetapi juga di Sumatera Selatan.

Jangan anggap remeh dampak bencana banjir kali ini terhadap produksi pangan kita, peringatan seperti itu dikemukakan Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Thohir di Jakarta kemarin. Dia menyebutkan, banjir yang menggenangi area tanaman pangan kali ini lebih luas dibanding saat musim hujan tahun-tahun lalu yang terkonsentrasi di Jatim.

Menurut Winarno, banjir kali ini menggenangi area tanaman pangan di sentra-sentra produksi di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Dia memperkirakan, luasan tanaman padi saja yang terendam banjir dalam musim hujan kali ini total mencapai sekitar 250.000 hektare.

Karena terendam lebih dari tiga hari, tanaman pangan itu hampir pasti gagal panen. Karena itu, menurut Winarno, petani mengalami kerugian. Maka dia minta pemerintah membantu petani.  Kalau tidak bisa membantu secara cuma-cuma, pemerintah bisa membantu petani dalam bentuk penyaluran kredit.

Dalam kesempatan terpisah, Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan, cabai dan daging sapi potensial perlu diimpor. Itu karena bencana banjir mengganggu produksi cabai maupun daging di dalam negeri. Sedangkan beras, dijamin tidak perlu impor. Stok kita banyak.

Kita mengharapkan pemerintah agar dapat benar-benar mengantisipasi lonjakan harga komoditas pangan. Sedangkan menurut mereka salah satu langkah yang akan ditempuh adalah mengimpor bawang merah dan cabai. Yang penting impor tidak berlebihan. Impor sesuai kebutuhan saja. Dengan demikian, harga komoditas pangan tidak justru tertekan sehingga menjadi jatuh murah.

Sebab bencana banjir yang melanda sejumlah daerah di Jateng dan Jabar sejak awal pekan lalu mulai berdampak mengerek harga harga bahan pokok pangan. Di Pasar Induk Kramatjati, Jakarta, misalnya, sejumlah besar komoditas pangan mengalami kenaikan harga. Demikian pula di sejumlah pasar tradisional. Kondisi seperti ini juga dirasakan di pasar-pasar tradisional Palembang dan Sumatera Selatan pada umumnya.

Kita mengharapkan kondisi mahalnya harga-harga pangan ini tidak berkepanjangan. Sebab kalau hal itu terjadi maka kesulitan rakyat dari hari ke hari akan bertambah-tambah. Semoga. (Sarono P Sasmito)





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster