Lebih Rendah dari Pengemis

 337 total views,  2 views today

Foto-SEKEN-HL----Dr-Alfi-Julizun-Azwar---Praktisi-Kebudayaan

Dr Alfi Julizun Azwar – Praktisi Kebudayaan. / Foto : Ahmad Maulana KS

PALEMBANG , KS -Terkait dengan masalah ini, praktisi kebudayaan di Palembang Dr. Alfi Julizun Awar, M.Ag mengatakan, budaya suap yang kini identik dengan korupsi lahir dari masa kolonial Belanda. Di mana, budaya upeti (untuk menjadi penjilat) bangsa semuanya lahir dari tradisi warisan kolonial Belanda. “Akar budaya sogok menyogok itu lahir dari Kolonial Belanda. Tradisi orang-orang ningrat (kerajaan) yang dulunya memberikan sesuatu kepada pribumi menghasilkan pemerasan dan penindasan. Nah tradisi tersebut menjalar sampai sekarang. Contoh riilnya adalah feodalisme. Itu produk suap yang ngetrend di dunia orang-orang berkuasa, baik dulu maupun sekarang,” ujar Dosen Sejarah Peradaban Islam Pascasarjana IAIN Raden Fatah Palembang.

Lebih lanjut, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam IAIN Raden Fatah ini mengatakan, bila penyogok sudah memberikan sesuatu kepada si penerima, maka si penerima sogok tersebut akan jatuh dalam genggaman si penyogok. Alhasil, semuanya bisa dibungkus. Ini sudah mentradisi di seluruh aspek kehidupan. Jagankan manusia, Tuhan pun bisa bisa disogok.

“Kenapa saya bilang Tuhanpun bisa disogok, itu ada sejarahnya. Kalau Anda suka membaca sejarah primitif (budaya orang dulu) dan orang-orang terbelakang yang bisa dimasuki pemikiran-pemikiran sempit, maka menyogok Tuhan-pun dapat terjadi. Contoh, budaya lama yang memberi sesajen berupa persembahan-persembahan.  Apakah itu berbentuk makanan, binatang dan tradisi mengasih wanita-wanita cantik sudah ada dulunya. Bahkan, sekarangpun masih ada. Artinya, budaya menyogok ini sudah ada dari dulunya,” ujarnya.

Alfi juga mencontohkan kehidupan birokrasi pemerintahan. Sudah bukan rahasia lagi kalau kita hendak mengurus surat ke kelurahan dan kita tidak membayar biaya ekstra, maka waktu yang dibutuhkan jauh lebih lama dibandingkan jika kita “ngamplopin” (memberi uang) kepada petugasnya. Termasuk nyuap kan? Menurut Alfi, juga sudah bukan rahasia lagi kalau ingin jadi PNS harus sedia puluhan bahkan ratusan juta rupiah meskipun ada sebagian kecil yang benar-benar melalui hasil tes murni. “Padahal berapa sih gaji PNS? apa sebanding dengan sogokan yang harus dibayar? Sebelum kerja sudah membayar banyak, jadi wajar kalau ketika sudah jadi PNS mereka korupsi, karena yang mereka pikirkan untuk mengembalikan modal?,” ujarnya.

Kalau kita lihat di lembaga penegak hukum. Sadar atau tidak masyarakat sebenarnya sering kali melakukan tindakan penyuapan terhadap aparat kepolisian terutama di jalan. Banyak yang memilih memberi uang ke polisi dari pada di sidang ke pengadilan saat terkena tilang. “Ini sudah bukan rahasia lagi, anak SD pun tau, pantes kasus suap ditangani oleh KPK dan menangkap petinggi Mahkamah Konstitusi (MK). Lembaga MK sama juga bejatnya. Bahkan banyak yang mengatakan sebagian aparat kita ada yang lebih rendah martabatnya daripada pengemis. Sebab mereka gagah, pinter, pakai seragam, tapi masih meminta-minta, parah, kan?!” ujarnya.

Alfi juga menegaskan, belum lagi bagi mereka yang kena kasus hukum. Semakin besar uang yang dikeluarkan, semakin cepat mereka keluar dari tahanan kepolisian, bahkan kadang tidak perlu disidang. “Inilah asiknya jadi penjahat di Indonesia karena Petugas Penegak Hukum menganut azas “Wani piro”. Belum lagi suap di lembaga Legislatif, karena merasa sudah keluar uang banyak waktu kampanye, merekapun menganggap korupsi cuma sebagai sarana untuk balik modal, apalagi kalau mereka sudah menyumbang uang atau sembako sebelum pencoblosan,” tambahnya.

 

TEKS : AHMAD MAULANA

EDITOR : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster