Memilih Orang Baik untuk Negeri

 276 total views,  2 views today

Oleh  Pustrini Hayati, S.Pd.I

(Mantan Guru Honorer di OKU Selatan)

Foto-Gagasan---Pustrini-Hayati-S.Pd

Tahun ini merupakan hajatan besar. Dimana warga Indonesia, akan menentukan pemimpin bangsa ini. Karena seluruh warga Indonesia, diminta untuk berpartisipasi memilih seorang pemimpin. Bangsa ini sekarang sedang butuh seorang pemimpin yang bsia menjadi panutan. Yaitu seorang pemimpin yang bisa mengubah keadaan menjadi lebih baik. Oleh sebab itu, hadirnya pemimpin yang baik, merupakan faktor penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kondisi inilah, kita mesti menyiapkan diri dan berpikir kritis dalam memilih pemimpin mendatang, sehingga bangsa ini akan menemui jalan terang dibandng sebelumnya.

Harapan kita, warga Indonesia harus memilih pemimpin amanah, yang mampu menaungi rakyat, agar ke depan benar-benar dapat mewujudkan cita-cita para pendiri bangsa sebagaimana harapan rakyat. Bukan pemimpin yang mencari hidup dari rakyat, atau bukan pula pemimpin yang minta dilayani rakyat, atau bahkan pemimpin yang hanya bisa menjual asset negara atau kekayaan alam daerah untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya.

Kalau melihat realitas bangsa ini, seringkali kita lebih baik apatis dan tidak memilih pemimpin. Sebab ketika kita memilih, faktanya yang bertengger di kursi kekuasaan hanya para penguasa korup. Wajar jika kemudian diantara sebagian warga memilih golput (golongan putih), meskipun sikap golput atau tidak memilih dinilai tidak ikut serta dalam proses demokrasi.

Tapi bagaimanapun, kita tidak bisa menyalahkan sikap mereka. Sebab deretan kasus yang terjadi telah banyak melukai hati rakyat. Akibatnya, sebagian kita beranggapan, dunia politik adalah dunia jahat dan kotor. Mereka anggap, orang sebaik apa pun yang masuk ke dunia politik akan ikut menjadi jahat dan takkan mampu mengelak menjadi kotor.  Tetapi jika semua orang berpendapat seperti itu, yang terjadi kemudian sikap apatis dan beroangku tangan. Akibatnya, orang-orang baik yang seharusnya ikut serta dalam kancah politik demi perbaikan negeri, berbalik berpangku tangan dari politik lantas membiarkan orang-orang jahat mengisi posisi tertentu. Sikap itu, bukankah sama artinya membiarkan kekuasaan politik dipegang oleh orang jahat yang kemudian negara ini akan terus dirusak oleh mereka?

Di tengah kegersangan bangsa ini dalam menentukan pilihan sosok pemimpin, tidak salah jika kita harus lebih berhati-hati dalam menentukan pilihan. Mengedepankan pemimpin cerdas, punya visi dan misi yang jelas untuk memajukan dan menyejahterakan rakyatnya menjadi sebuah keharusan. Hal lain yang tidak terlupa adalah sosok pemimpin yang akan mampu menegakkan keadilan dengan kebijaksanaannya dalam mengambil keputusan, terutama da;am persoalan korupsi di negeri ini.

Terkait dengan pilah dan pilih sosok pemimpin, saya tertarik dengan pemikiran ditawarkan oleh Anies Baswedan, yang konon ikut dalam pencalonan presiden. Terlepas jadi dan tidaknya seorang Anioes, namun saya melihat sosok Anies sedang mencoba untuk optimis sekaligus menyebarkan gairah optimisme kepada sekumpulan orang baik yang selama ini berdiam diri. Di saat Indonesia dalam keterpurukan dalam berbagai permasalahan yang tak berujung selesai, Anies mencoba mengembalikan dengan pemikiran-pemikiran sehat. Walau banyak suara sumbang dan meragukan gagasan dan tindakannya. Namun Anies terus bergerak. Suara hatinya seolah menegaskan: the show must go on.

Memang benar masih ada kurang dan lemah menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara ini, akan tetapi bukannya membiarkannya terus menurun dan bangkrut. Adalah benar bahwa banyak kebijakan dan tindakan kurang etis dalam tradisi lembaga dan aktor-aktor politik di negeri ini, namun mencak-mencak belaka tidak akan menyelesaikan masalah. Juga tidak pula berarti para pengamatnya menjadi benar dan terbebas dari dosa sosial. Bagi Anies, kesalahan besar jika orang-orang baik berpangku tangan dan membiarkan kepemimpinan di negeri ini dipegang oleh orang-orang yang tidak berhak. Adalah kesalahan besar juga, manakala abai terhadap masa depan negara bangsa ini.

Disinilah Anies menegaskan, kalaupun orang-orang baik belum waktunya ikut ambil bagian dalam kepemimpinan nasional dan mengelola negeri ini, paling tidak pilihlah para politisi yang baik untuk mengisi posisi pejabat publik. Bagi Anies, sudah saatnya orang-orang baik untuk membuktikan kebaikannya. Dan caranya dengan turun tangan menentukan masa depan Indonesia. Selain bekerja untuk memperbaiki kondisi bangsa di berbagai bidang yang dikuasai dan disukai, orang-orang baik juga ditantang nyalinya untuk tampil dan turun tangan memilih bahkan menjadi pihak yang dipilih untuk mengisi posisi-posisi vital dan strategis dalam menyukseskan agenda melunasi janji kemerdekaan di seluruh aspek, pula terhadap seluruh warga bangsa.

Dari beberapa gambaran di atas, yang perlu kita miliki adalah pemimpin yang bisa membuat perubahan untuk bangsa ini. Setidaknya ada tiga tipe kepemimpinan yang bisa membuat Indonesia berubah. Pertama,  pemimpin pembebas.  Yaitu pemimpin yang mendobrak dan memutus belenggu penjajah. Penjajah di sini bukan dalam artian sempit, tetapi perlu kita generalisasikan bahwa penjajah ini bisa diartikan sebagai masalah bangsa, korupsi, sosial, kemiskinan, dan lain-lain.

Kedua, pemimpin pemersatu. Yaitu pemimpin yang bisa mengkonsolidasikan wilayah yang terpecah belah. Walaupun di negara Indonesia sekarang ini menetapkan prinsip desentralisasi, pemimpin yang dibutuhkannya itu yang bisa mensinergikan, mengintegrasikan semua daerah, dan tidak terjadi ketimpangan antar daerah. Ketiga, pemimpin pemakmur adalah pemimpin yang bisa mengembangkan sumber daya material dan spiritual. Sebagai contoh Indonesia adalah negara yang mengklaim dirinyanegara yang kaya akan sumber daya alamnya.**





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster