Pengusaha Properti Banyak Tumbang

 266 total views,  2 views today

Ilustrasi Properti

Ilustrasi Properti

PALEMBANG KS-Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia (REI) Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat sepanjang tahun 2013 lalu ada sejumlah pengembang bidang properti yang gulung tikar akibat dampak dari peraturan Bank Indonesia (BI). Rata-rata pengembang properti kolaps merupakan pengembang pemula dan memiliki modal minim.

“Itu bisa saja terjadi dan dialami pengembang properti pemula dengan modal kecil. Kalau pengembang dengan segmentasi menengah dan menengah keatas masih tetap bertahan sampai saat ini,”kata Ketua DPD Rei Sumsel H Oka Moerod melalui Sekretaris DPD REI Sumsel, H M Ali Sya’ban, Rabu (22/1).

Menurut dia, peraturan BI mengenai pembatasan Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) untuk rumah kedua dan seterusnya dengan down payment (DP) 50% serta indent ditiadakan sebelum progres pembangunan rumah 20% berdampak negatif kepada pengembang pemula khususnya yang bermodal kecil.

Sebab, selama ini banyak pengembang skala kecil masih menggantungkan modalnya dari uang muka calon konsumen.

“Para pengembang kecil sangat menggantungkan nasib proyeknya dari uang muka para pembeli dan kucuran kredit dari bank sehingga ketika ada pembatasan KPR inden untuk rumah kedua dan seterusnya semakin menyulitkan pengembang mendapatkan modal,”ujarnya.

Apalagi saat ini kondisi ekonomi Indonesia mengalami perlambatan, termasuk adanya kenaikan suku bunga hingga 7,5%.

Dia melanjutkan, faktor lain yang membuat pertumbuhan rumah semakin turun sehingga berimbas terhadap bisnis properti pengembang lantaran terkendalanya lahan yang ada. Khusus di Kota Palembang hanya tersedia lahan yang berada di pinggiran kota dan itu pun rawa-rawa.

“Jika pengembang memaksakan diri memilih rawa sebagai lokasi perumahan. Otomatis risiko yang ditanggung sangat besar. Makanya pengembang banyak menyasar perbatasan Palembang seperti Ogan Ilir, Prabumulih dan Banyuasin,”terangnya.

Ditahun 2014 ini, pihaknya tetap menargetkan pembangunan rumah siap huni (RSH) di Sumsel mencapai 15.000 unit. Pembangunan perumahan itu didukung penuh 90 dari 160 developer yang aktif berkecimpung dibisnis properti.

“Ya, planning maupun market juga harus disusun dengan baik. Jangan sampai sudah membeli lahan dan modal telah dikeluarkan, justru marketnya tidak tahu arah. Ini juga harus menjadi pertimbangan para pengembang,”katanya.

Sementara itu, Pengurus DPD REI Sumsel Bagian Legalitas, Adam Handoko menambahkan akibat kebijakan BI yang begitu memberatkan sangat berdampak terhadap bisnis properti pengembang.

 

“Bisnis properti yang kolaps itu rata-rata dialami pengembang yang biasanya mengandalkan kredit bank. Tapi kalau pengembang pada segmentasi menengah keatas tidak begitu berpengaruh. Paling hanya beberapa persen saja,”ujar Direktur PT Graha Anandaya Caledomia Residence tersebut.

 

TEKS          : ROMI MARADONA

EDITOR    : IMRON SUPRIYADI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster