Agama, Kepercayaan dan Budaya

 61 total views,  3 views today

Oleh: Idmar Wijaya

(Mahasiswa Pasca Sarjana IAIN RF Palembang)

Sebelum kita terjebak dalam pembicaraan sinkritisme, penulis akan memberikan gambaran terlebih dahulu tentang sinkritisme itu sendiri. Sinkritisme adalah upaya untuk penyesuaian atau pencampuran kebudayaan, pertentangan perbedaan kepercayaan, sering dipakai dalam praktik berbagai aliran berpikir. Istilah ini bisa mengacu kepada upaya untuk bergabung dan melakukan sebuah analogi atas beberapa ciri-ciri tradisi, terutama dalam teologi dan mitologi agama. Dengan demikian, menegaskan sebuah kesatuan pendekatan yang melandasi kemungkinkan untuk berlaku inklusif pada agama lain.

Dalam suatu kepercayan terhadap dunia lain yang sering disebut dengan alam gaib entah percaya entah tidak, akan tetapi pada kenyataannya masih banyak orang yang mempercayai spertiakan adanya dewa yang baik maupun buruk, mahluk-mahluk halus seperti ruh leluhur yang baik maupun jahat, kekuatan sakti yang bisa berguna maupun menyakiti. Semua ini juga sinkritisme yang masih melekat pada tubuh sebagian umat islam.

Penyebaran agama Islam di tanah Jawa pada abad ke-15 dihadapkan kepada dua jenis lingkungan, yaitu budaya kejawen (Istana Majapahit) yang menyerap unsur-unsur Hindunisme dan budaya pedesaan. Dalam pada itu terjadi culture contact yang kemudian berbuah akulturasi antara dua arus nilai yang sama besarnya, yaitu asimilasi antara ajaran Islam dengan budaya Jawa, baik dalam lingkungan keraton maupun pedesaan.

Proses akulturasi yang berangsur-angsur sedemikian rupa membuat Islam sebagai ajaran agama dan Jawa sebagai entitas budaya menyatu. Akulturasi yang berusaha memadukan dua ajaran itulah yang dalam khazanah studi budaya dimanakan sinkritisme. Dalam hal ini sinkritisme merupakan sebuah pendekatan budaya terkait bagaimana nilai-nilai asing memasuki suatu ruang dan pengaruhnya terhadap budaya yang berbeda.

Pengaruh Islam yang begitu besar di Jawa saat itu, dan juga kuatnya masyarakat mempertahankan budaya Jawa, mengharuskan keduanya melebur menjadi satu. Peleburan dan pencampuran yang merupakan ciri khas sinkritisme dua budaya itu berlangsung secara damai. Karena di samping pendangan hidup Jawa yang sangat tepo seliro, juga metode penyebaran Islam oleh Walisongo yang elastis dan akomodatif terhadap unsur-unsur lokal.

Sebagai makhluk sosial, setiap manusia ditakdirkan untuk hidup bersama manusia yang lainnya. Mereka hidup bermasyarakat; saling membantu dalam kesulitan, saling menghormati hak asasi masing-masing, juga saling bertoleransi. Di samping itu, sebagai makhluk yang beragama, manusia akan senantiasa memenuhi konsekwensinya terhadap kepercayaan yang ia anut. Kedua status inilah sebagai makhluk sosial dan beragama sekaligus, yang akhirnya memungkinkan terjadinya kemiringan dan pembelotan aqidah.

Dalam perjalanan kesejarahan dari agama, kepercayaan dan budaya, biasanya akan menimbulkan beberapa problema identitas bagi agama dan budaya tersebut, dan fenomena pecampuran dua agama (dan budaya) atau lebih, baik saling meminjam atau saling memungut tadi, biasanya diberi label dengan sinkretisme.

Seseorang berusaha tetap beribadah sesuai kepercayaannya, tapi sekaligus ia bertoleransi terhadap kepercayaan lain, sehingga akhirnya sedikit demi sedikit kepercayaan itu luntur dan menyatu dengan apa yang tersebut dalam norma bermasyarakat sebagai kerukunan, kedamaian, ketidakbertentangan dan beberapa istilah lain yang ‘amat sosial’.





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster