Menyikapi Politik Pencitraan

 187 total views,  2 views today

politik

PANGGUNG politik nasional kita dari hari ke hari menunjukan suhu makin panas. Pertentangan  antara mantan Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga makin menyeruak ke permukaan. Hal itu juga terlihat dari isi buku “Selalu Ada Pilihan”  yang ditulis oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dinilai banyak kalangan hanya bertujuan untuk pencitraan belaka sekaligus mencerminkan arogansi SBY yang merasa berhasil setelah memimpin negara ini dalam dua periode.

Pendapat seperti itu diantaranya diutarakan pengamat politik Boni Hargens dan angggota DPR Bambang Soesatyo secara terpisah di Jakarta kemarin. Menurut Boni, bukti arogansi SBY terlihat jelas dari subjudul. “Apa keberhasilan SBY dalam sepuluh tahun terakhir?

Ada yang menilai tidak ada keberhasilan itu. Sebaliknya  yang ada justru sepuluh tahun ini hanya tahun-tahun kebohongan.

Kita mengharapkan hal ini justru menjadi bahan untuk introspeksi bagi SBY. Jangan sampai yang terjadi satu-satunya yang  dianggap keberhasilan SBY adalah memanipulasi masyarakat dengan pencitraan politik yang luar biasa.

Apalagi ada juga yang menilai peluncuran buku SBY merupakan sebuah antisipasi terhadap “kicauan” Anas Urbaningrum.  Ada yang ironis memang ketika ucapan terima kasih Anas itu dia maknai sebuah ancaman. Sekiranya SBY meluncurkan buku ini, ibaratkan mengeluarkan payung sebelum hujan.

Kendati Anas dan SBY sama-sama mengeluarkan buku pada hari yang sama, yakni Jumat (17/14), kita mengharapkan agar opini masyarakat  tak terbentuk untuk hal-hal yang negative. Kita juga meminta agar KPK segera menyidangkan Anas. Dengan begitu, Anas akan dapat mengungkapkan kebenaran yang terjadi. Kalau persidangan Anas ini cepat, ini lebih menarik dan lebih baik. Masyarakat dapat mendengar informasi yang disampaikan Anas. Kita mendorong Anas harus segera disidang sebelum pemilu.

Di sisi lain ada yang menilai momentum peluncuran buku itu kurang tepat. Peluncuran tersebut sama sekali tidak bijak karena pada saat bersamaan rakyat di sejumlah daerah sedang dilanda bencana banjir dan gunung meletus. Peluncuran buku setebal 824 halaman itu, dihadiri sejumlah pejabat tinggi negara, anggota DPR, serta sejumlah tokoh dari berbagai profesi. Padahal, pada hari itu warga di sejumlah wilayah di Jakarta hingga Manado di Sulawesi Utara dan Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sedang berjuang mengatasi sejumlah persoalan akibat banjir. Sementara warga di Kabupaten Karo, Sumut, harus berupaya membebaskan diri dari siraman abu Gunung Sinabung.

Perayaan meluncurkan buku itu akan memunculkan kesan Presiden tidak bersimpati dengan situasi bencana yang sedang terjadi di sejumlah daerah di Tanah Air. Ceritanya akan berbeda jika Presiden memerintahkan para pembantu terdekatnya mengumumkan penundaan peluncuran buku itu karena alasan bersimpati kepada warga yang sedang menghadapi bencana.  Semoga jadi renungan semua. (Sarono P Sasmito)





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster