Inflasi Sumsel 2014 Diprediksi 4,55%

 162 total views,  2 views today

Ilustrasi Elpiji 12 Kg | Bagus Park

Ilustrasi Elpiji 12 Kg | Bagus Park

PALEMBANG KS-Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII Sumbagsel, memproyeksikan angka inflasi di Sumatera Selatan (Sumsel) tahun 2014 akan mengalami penurunan mencapai 4,55% dari angka inflasi akhir tahun 2013 sekitar 7,04% atau berada dibawah angka inflasi nasional sekitar 8,38%. Penurunan angka inflasi ditahun 2014 itu dilatarbelakangi oleh sejumlah harga komoditas yang diyakini perlahan mulai menunjukkan tren positif.

“Prediksi penurunan inflasi tahun 2014 ini bukan tanpa alasan mengingat saat ini harga komoditi karet maupun sawit terus menunjukkan tren meningkat, kendatipun tidak begitu signifikan,”kata Manajer Peneliti Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah VII Sumbagsel, Sudarta, beberapa waktu lalu.

Disamping itu, menurunnya angka inflasi juga dipengaruhi oleh membaiknya ekspor seiring dengan adanya perbaikan ekonomi global, pemulihan ekonomi di Amerika Serikat, Jepang, Eropa dan China.

Membaiknya ekspor ditunjukkan dengan mulai meningkatnya demand ekspor dari negara tujuan, seperti Amerika Serikat dan lainnya.

“Pada tahun 2013 sebenarnya Sumsel merupakan salah satu provinsi di Sumatera yang tingkat inflasinya paling rendah seiring dengan berkurangnya dampak kenaikan harga BBM dan stabilnya harga bahan makanan,”ucapnya.

Dia menilai selama ini pemerintah daerah cukup berperan dalam mengendalikan laju inflasi di Sumsel dengan mengadakan operasi pasar dan program-program lainnya untuk mengendalikan inflasi tersebut.

Bahkan pihaknya juga meminimalkan dampak angka inflasi itu dengan menerjunkan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

Kendati tahun 2014 ini merupakan tahun politik, lanjut dia, secara tidak langsung memang cukup berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi di Sumsel. Tetapi pertumbuhan tersebut diyakini tetap meningkat, meski terbilang lambat.

“Untuk pengaruh pasti ada, tapi tidak terlalu besar dan pertumbuhan ekonomi tetap akan meningkat,”jelasnya.

Sementara itu, Deputi Direktur Kantor Bank Indonesia Wilayah VII Salendra menambahkan pertumbuhan ekonomi Sumsel pada triwulan III/2013 terbilang melambat. Kondisi itu disebabkan adanya perlambatan kinerja sektor utama Sumsel yaitu pada sektor pertanian, pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolahan.

Dari sisi permintaan, masih kata dia, perlambatan pertumbuhan dipengaruhi oleh perlambatan konsumsi dan investasi. Sementara itu inflasi Sumsel mengalami peningkatan yang didorong oleh sisi penawaran yaitu kebijakan pemerintah menaikan harga BBM bersubsidi.

“Ekonomi Sumsel pada triwulan IV/2013 diprediksi tumbuh moderat. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan tidak dapat berubah karena kondisi eksternal yang belum sepenuhnya membaik. Bahkan dari sisi harga, diperkirakan tekanan inflasi cenderung meningkat. Namun tekanan inflasi dari sisi permintaan tetap terjaga dengan baik,”jelasnya.

 

TEKS      : ROMI MARADONA

EDITOR : IMRON SUPRIYADI

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster