DBD Terus Diwaspadai

 288 total views,  2 views today

fogging-di-asrama-yon-zikon-kj-banyuasin

fogging di asrama yon zikon kabupaten banyuasin

PALEMBANG, KS-Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mencatat, kasus penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) sepanjang 2013 lalu, mengalami penurunan ketimbang 2012. Kendati demikian, Dinkes berharap masyarakat tetap waspada dan menjaga kesehatan, mengingat tingginya curah hujan yang terjadi di awal Januari dan Februari mendatang.

Menurut Kepala Seksi (Kasi) Pengendalian Penyakit Menular, Dinkes Sumsel, Muyono, biasnaya jumlah penderita DBD mulai mengalami peningkatan di Januari-Februari.  Karena pada bulan tersebut, merupakan puncak musim penghujan. ”Untuk mengantisipasi meningkatnya penderita DBD, kita telah menyebar 6 ton bubuk abate pada Oktober dan November lalu ke seluruh kabupaten dan kota di Sumsel,” kata Mulyoni, kemarin.

Untuk kasus DBD menurutnya, sepanjang 2012 mencapai 3.243 kasus. Sedangkan pada 2013 menurun menjadi 1.382 kasus. Rincian kasus sepanjang 2013  adalah pada Januari 362 orang, Februari 251 orang, Maret 165 orang, April 103 orang.

Kemudian di  Mei 116 orang, Juni 77 orang, Juli 50 orang dan Agustus 55 orang. Selanjutnya, pada September 53 orang, Oktober 70 orang, November 41 orang dan Desember 39 orang. ”Berdasarkan data tersebut, kasus DBD paling banyak terjadi pada Januari dan Februari,” ucapnya.

Untuk daerah yang paling banyak kasus DBD pada 2013 , lanjut dia, terjadi di Kota Palembang sebanyak 393 orang, Banyuasin 209 orang, Muaraenim 191 orang, Ogan Ilir 118 orang, Prabumulih dan OKI sebanyak 116 orang.

Kemudian disusul Pagaralam 65 orang, Lubuklinggau 51 orang, Muba 24 orang, OKUT 22 orang, Lahat 30 orang, Mura 20 orang, OKU 17 orang. Untuk OKUS dan Empat Lawang tidak ada kasus DBD. “Jumlah penduduk Palembang terbanyak ketimbang daerah lain,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Dinkes bebernya, tak hanya menyebar bubuk abate tetapi juga telah menghimbau semua dinkes di kabupaten dan kota di Sumsel, untuk melakukan pengasapan (fongging).

Dia menegaskan, bubuk abate berguna untuk mematikan jentik nyamuk di bak penampungan air. Hanya saja upaya tersebut tidak akan berhasil, jika tidak diiringi kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan tempat tinggalnya.

”Kunci utama pencegahan  DBD ada pada masyarakat. Percuma saja kita melakukan berbagai upaya pencegahan kalau masyarakat tidak memiliki kesadaran menjaga kebersihan lingkungannya,” ungkapnya.

Muyono menambahkan, kasus DBD dulu banyak didominasi oleh anak-anak. Namun saat ini kasus  DBD diderita juga banyak diderita oleh orang dewasa. “Memang tidak bisa dipungkiri penyakit DBD ini, didominasi oleh factor cuaca pada musim penghujan. Tapi penyakit ini bisa dicegah jika masyarakat bisa menjaga kebersihan lingkungan,” imbuhnya.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel, dr Fenty Aprina mengakui jika kasus DBD pada 2013 menurun, jika dibandingkan 2012. Dengan kondisi ini, ia berharap pihaknya tidak boleh lengah.

”Kita terus melakukan berbagai upaya, agar kasus DBD terus menurun. Diantaranya dengan memberikan bantuan bubuk abate, serta menghimbau agar seluruh Puskesmas yang ada di kabupaten/kota, untuk melakukan kegiatan penyuluhan mengantisipasi DBD,”  tukasnya.

Palembang Tertinggi di Sumsel

Dari 15 kabupaten dan kota di Sumsel, hanya dua kabupaten dan kota saja di Sumsel yang tidak digolongkan sebagai daerah endemis demam berdarah dengue (DBD). Artinya ada 13 kabupaten dan kota atau 87 wilayah Sumsel, masuk katagori daerah endemis DBD.

Dari 13 kabupaten dan kota di Sumsel itu menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel, dr Fenty Aprina, melalui Kasi Pengendalian Penyakit Menular, H Muyono, Palembang merupakan daerah tertinggi jumlah kasus DBD nya setiap tahun.

“Suatu daerah digolongkan endemik, jika dalam tiga tahun berturut-turut terjadi kasus DBD di daerah tersebut.  Di Sumsel, hanya ada dua kabupaten yang tidak digolongkan sebagai daerah endemik DBD,” jelas Muyono.

Dengan tofografi wilayah Palembang yang sebagian besar dataran rendah, ditambah tingkat kepadatan penduduk menyebabkan kota empek-empek tersebut sangat rentan terserang wabah DBD.

Data yang dimiliki Dinkes Sumsel, di 2011 dari  2.015 kasus DBD di Sumsel tercatat tiga orang meninggal dunia.  “Palembang paling banyak jumlah kasusnya, mencapai 732 kasus. Kemudian diikuti Muara Enim dan Prabumulih,” sebutnya.

Sementara di 2012, sudah ada 2.852 kasus DBD. Rinciannya di Palembang 926 kasus,  Lubuk Linggau 124 kasus, Pagaralam  99 kasus, OKU ada 25 kasus, OKI 467 kasus, Muara Enim 494 kasus, Lahat  71 kasus,  Musi Rawas 62 kasus, Musi Banyuasin 47 kasus,  Banyuasin 166 kasus, OKU Selatan 12 kasus,  OKU Timur 4 kasus,  OI 65 kasus dan Prabumulih 290 kasus.

Di musim penghujan saat ini, ia menghimbau masyarakat Sumsel untuk memperhatikan kesehatan lingkungan tempat tinggalnya. “Kita menghimbau masyarakat, dapat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dilingkungan sekitar. Mengingat kondisi cuaca saat ini, sangat mendukung sekali nyamuk aedes aegypti untuk berkembangbiak,” ujarnya.

 

TEKS              : IMAM MAHFUZ

EDITOR         : DICKY WAHYUDI

 

 

 

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster