Petani Karet Merugi

 548 total views,  2 views today

Ilst.

Ilst.

LUBUK LINGGAU, KS-Curah hujan yang deras mengguyur Kota Lubuk Linggau, dalam satu pekan terakhir dikeluhkan petani karet. Hujan yang mengguyur tersebut menurut petani, membuat produksi getah karet menurun, akibatnya mereka merugi.

Mereka mengaku, di musim penghujan saat ini dalam satu minggu mereka hanya bisa mengumpulkan 25 kilogram (kg) sampai 30 kg getah karet. Padahal biasanya dalam satu minggu, getah karet yang bisa dikumpulkan mencapai 50 kg sampai 75 kg.

“Kalau musim hujan seperti ini, jelas kami merugi. Meskipun harga karet  naik, tapi produksi karet turun karena tidak bisa nyadap (memotong karet) . Jadi walau harga karet naik, tetap saja tidak bisa dinikmati petani,” keluh Agus (45), salah seorang petani karet di Kelurahan Petenang Ulu, Kecamatan Lubuk Linggau, Kota Lubuk Linggau, kemarin.

Bapak tiga orang anak ini mengaku, dengan kondisi ini mau tidak mau mereka hanya bisa bersabar. Kondisi itu menurutnya, hampir terjadi setiap tahunnya. “Ya, mau apalagi. Setiap tahun saat musim hujan, produksi getah karet memang selalu menurun,” ucapnya.

Hal yang sama dikatakan Ali Mura  (30) , petani karet lainnya. Menurutnya, tingginya curah hujan menyebabkan pera petani karet tidak bisa motong (nyadap). Hujan lebat menyebabkan batang karet basah, sehingga tidak bisa dipotong.

“Kalau dipaksakan dipotong, tidak hanya akan merusak pohon karet itu  sendiri. Disisi lainnya, kualitas getah yang dihasilkan juga tidak bagus.  Karena terlalu banyak bercampur air. Akibatnya, harga jual karet akan turut jatuh,” tuturnya.

Ia sendiri aku Ali, tidak mau mengambil resiko untuk memotong batang karet di saat   curah hujan tinggi.  “Lebih baik tidak disadap, dibandingkan pohonnya rusak. Selain itu, kualitas getah yang dihasilkan juga turun karena banyak mengandung air,” ucapnya.

“Kondisi ini sebenarnya tidak terlalu dipusingkan oleh petani, yang ditakutkan petani karet justru tanaman karet yang rentan diserang penyakit. Kalau ini terjadi, pohon karet yang rusak tersebut akan mati secara perlahan-lahan. Akibatnya, petani karet harus menanggung kerugian moril dan materil,” tukasnya.

 

TEKS              : FAISOL

EDITOR         : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster