Pengembangan Wisata Terbentur Status Hutan

 227 total views,  2 views today

Ilustrasi Hutan | Google Image

Ilustrasi Hutan | Google Image

*BPKH Diminta Turunkan Status Hutan Napal Carik

MUARAENIM, KS-Muaraenim, memiliki banyak potensi wisata alam yang belum bisa dikembangkan.  Itu karena terbentur, dengan kebanyakan objek wisata tersebut yang berada dalam kawasan suaka alam.

Menurut  Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Kabupaten Muaraenim,  Ir Rustam, ada 9.440 hektar hutan suaka alam. Hutan tersebut tersebar di kecamatan yakni Semendo dan Kecamatan Tanjung Agung. Sementara untuk hutan lindung jumlahnya 84.410 hektar, yang juga tersebar di sejumlah kecamatan.

Untuk hutan suaka alam sebutnya, tidak bisa sembarang untuk bisa di kelola, sekalipun untuk pengembang pariwisata. “Keberadaan hutan suaka alam statusnya lebih tinggi dari hutan lindung,  izin untuk pengunaannya memang susah. Membutuhkan waktu cukup lama,” kata Rustam, Minggu (14/1).

Contohnya, kata dia, untuk pengelolaan izin pengembangan wisata Air Terjun Napal Carik yang ada di Desa Muara Emil, Kecamatan Tanjung Agung. Perizinannya kalaupun terealisasi, membutuhkan waktu yang cukup lama.

Status hutan suaka alam khususnya wilayah air terjun itu, harus diturunkan dahulu menjadi hutan lindung untuk mempermudah perizanan pengembangan pariwisata. “Itupun perizinan hutan lindung juga tidak bisa cepat, masih membutuhkan waktu tahunan untuk bisa disetujui Kementerian Kehutanan (Kemenhut),” terangnya.

Untuk pengembangan kawasan wisata  Air Terjun Napal Carik, perizinannya belum diajukan ke Menterian Kehutanan (Menhut), sebab terlebih dahulu harus ada Detail  Engenering Desaint (DED).

Kata Rustam pembuatan DED ini, untuk pengetahui secara pasti berapa luasan kawasan Air Terjun Napal Carik, yang akan dikelola dan fasilitas apa saja yang akan dibangun. Jika DED sudah ada, perizinannya baru bisa diajukan ke Kemenhut.

“Saat ini kita sudah meminta Badan Pengelola Kawasan Hutan (BPKH) Wilayah 2 Palembang, untuk meminta agar kawasan napal carik, statusnya diturunkan menjadi hutan lindung. Sehingga perizinan pengembangan wisata napal carik, bisa cepat dilakukan,” ucapnya.

Status hutan suaka alam, tambah Rustam harus diturunkan dahulu jadi hutan lindung untuk mempermudah pengembangan napal carik. Sebab perizinan untuk pengembangan wisata hutan suaka alam tidak ada mekanismenya.

 

TEKS              : SISWANTO

EDITOR         : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster