Caleg Minta Jaminan Penyelenggara

 263 total views,  2 views today

*Terkait Keamanan dan Keutuhan Surat Suara

PALEMBANG, KS- Kotak dan bilik suara dari kertas kardus yang akan digunakan dalam pemilihan umum legislatif (pileg), cukup meresahkan sejumlah calon anggota dewan yang akan bertarung pada pileg 9 April mendatang.

Bahkan tidak sedikit dari mereka yang minta jaminan dari KPU atas keamanan dan kutuhan surat suara pemilu. Calon anggota DPR RI, H A Hafisz Tohir, kepada koran ini kemarin mengatakan, sebagai peserta dirinya mengikuti semua peraturan yang ditetapkan oleh penyelenggara pemilu, termasuk soal kotak dan bilik suara dari kardus, yang saat ini telah didistribusikan ke KPUD.

Akan tetapi, dirinya meminta pihak yang memutuskan penggunaan logistik tersebut bertanggung jawab, bila terjadi apa-apa. ”Kita semua tahu kalau kardus tidak begitu kuat. Sehingga sangat rawan untuk terjadinya kerusakan, baik sobek, basah dan lainnya. Apalagi Sumsel ini banyak daerah perairan, yang tidak menutup kemungkinan terjadinya masalah saat pendistribusian baik sebelum maupun setelah pencoblosan. Harusnya KPU tetap menggunakan logistik yang lama,” saran Hafisz.

Sementara untuk kekurangannya baru menggunakan kotak dan bilik yang baru. Pernyataan yang sama dikatakan caleg No 1 DPRD Sumsel asal Dapil Palembang I, H RA Anita Noering Hati, mengatakan, kebijakan penyelenggara pemilu dengan menggunakan kotak dan bilik suara dari kardus, menunjukan ketidak maksimalan penyelenggara untuk menjaga surat suara, yang nilainya sangat mahal.

”Sebagai caleg, saya merasa sangat khawatir dengan kondisi tersebut. Kalau alasannya penghematan, kenapa pemerintah tidak menggunakan logistik yang lama yang jelas lebih kokoh. Pemerintah cukup menambah kekurangannya saja tanpa harus pengadaan seluruhnya,” ujar Anita, sembari meminta pemerintah membandingkan besaran biaya yang dikeluarkan, antara pengadaan logistik baru dengan penambahan logistik lama

Sementara lanjut Anita, kualitas logistik lama lebih tahan dan lebih aman. ”Kalau dari kardus, walau telah dilapisi dengan lilin tetap mengkhawatirkan. Soalnya kotak suara itu akan dibawa kemana-mana, belum lagi kalau ada persoalan semua isi kotak akan dihitung ulang. Persoalannya, apakah kotak tersebut cukup mampu untuk dibawa kemana-mana. Oleh sebab itu, kami minta KPU meninjau ulang kebijakan tersebut. Kalau tetap dilaksanakan, kami minta jaminan keamanan,” tukasnya.

Sebelumnya pengamat politik dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Joko Siswanto menilai penggunaan bilik dan kotak suara yang terbuat dari bahan kardus pada Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) mendatang, rentan mengundang terjadi persoalan.

 

Pasalnya kata Joko, bilik dan kotak suara yang terbuat dari kardus tersebut selain tidak tahan air, juga mudah rusak.

“Kondisi ini, sangat riskan. Apalagi banyak daerah di Sumatera Selatan (Sumsel), yang merupakan daerah perairan,” ungkap Joko yang dibincangi di Kampus Unsri, Bukit Besar, kemarin.

Tak hanya persoalan itu, menurut Joko, bilik dan kotak suara tersebut sangat mudah rusak. “Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan misalnya, kotak suara itu dibakar massa tentu seluruh surat suara juga akan hangus terbakar. Jika terjadi, tentu akan timbul persoalan lagi,” ucapnya.

Seharusnya menurut Joko, KPU tetap menggunakan bilik dan kotak suara yang dibuat dari plat logam. Sebab bahan tersebut lebih tahan lama. Pada Pemilu- Pemilu sebelumnya, bahan ini yang selalu digunakan KPU untuk bilik dan kotak suara.

“Di Pemilu sebelumnya, bilik dan kotak suara ini sudah diadakan oleh KPU. Persoalannya memang, pemeliharaannya yang kurang sehingga banyak rusak dan hilang. Namun jumlah, tidak akan terlalu banyak,” ucapnya.

TEKS              : DICKY WAHYUDI

EDITOR         : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster