Dari Ekonomi Sampai Perselingkuhan

 284 total views,  2 views today

310113_AKSI-TOLAK-KDRT_BUR11

Foto : Google Image

PALEMBANG, KS – Kasus kekerasan terhadap perempuan di Sumsel, masih terbilang tinggi. Woman Crisis Center (WCC) mencatat, setiap tahunnya terjadi 100 kasus lebih kekerasan terhadap perempuan di Sumsel. Paling banyak kekerasan tersebut, terjadi dalam rumah tangga atau kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Berbagai kekerasan yang terjadi terhadap perempuan terutama dalam kasus KDRT di Sumsel, disebabkan banyak faktor. Menurut Ketua Ikatan Wanita Anti Kekerasan (IWAK) Sumsel, Intan Sari, KDRT umumnya disebabkan adanya perselingkuhan atau ada orang ketiga dalam rumah tangga.

“dari 100 kasus yang kita tangani, 50 persen KDRT disebabkan adanya perselingkuhan. Umumnya kasus ini, dialami oleh ibu rumah tangga yang tidak bekerja mencari nafkah. Selain perselingkuhan, faktor lainnya penyebab KDRT, adalah faktor ekonomi,” jelas Intan, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Kepala Bagian (Kabag) Kualitas Hidup Perempuan, Biro Pemberdayaan Perempuan Pemprov Sumsel, Rosalina Siregar menyebut KDRT disebabkan banyak faktor diantaranya faktor ekonomi dan pengaruh sosial budaya seperti, struktur masyarakat yang patriarki, nilai sosial yang berlaku di lingkungan sosial tertentu dan faktor lainnya.

Namun Direktur WCC, Yenni Roslaini Izi, tak sepakat, jika kasus kekerasan terhadap perempuan terutama yang terjadi di dalam rumah tangga  (KDRT) faktornya disebabkan ekonomi.

Sebab dari kasus KDRT yang didampingi WCC justru menunjukkan kasus KDRT didominasi masyarakat yang secara  ekonomi mampu, lapisan keluarga kelas menengah ke atas atau kalangan  mapan. “60 persen kasus KDRT, justru terjadi di rumah tangga yang mapan secara ekonomi,” bebernya.

Penelitian yang dilakukan WCC justru menunjukkan, keluarga menengah ke atas mereka lebih sadar hukum sehingga punya keberanian melapor ke  lembaga terkait. “Kasus KDRT yang terjadi pada masyarakat kalangan menengah keatas disebabkan adanya perubahan gaya hidup dalam rumah tangga. Misalnya suami ketahuan selingkuh atau menikah  lagi sehingga terjadi percekcokan  yang menyebabkan kekerasan terhadap istri,” jelasnya.

Ironisnya lagi, kasus KDRT yang terjadi justru banyak dilakukan oleh orang-orang yang memiliki pendidikan. “Ada yang sudah  menyelesaikan S1, S2 bahkan S3. Ada juga istri pejabat penting, pernah melaporkan kasus KDRT ke WCC,” tukasnya.

TEKS              : DICKY WAHYUDI

EDITOR         : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster