Warga Resah, Perusahaan Minyak Bertindak Arogan

 242 total views,  2 views today

Warga Pali di Lokasi

Warga Pali di Lokasi

-Gunakan Jasa Preman

PALI | KS-Proyek seismik untuk mencari sumber minyak yang dilakukan oleh PT Elnusa membuat warga Simpang Raja, Kelurahan Handayani Mulia, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), resah.

Pasalnya, PT Elnusa secara diam-diam telah melakukan pengeboran dan dipasangi alat peledak di lahan perkebunan karet milik warga. Tanpa sepengetahuan pemiliknya, pekerja proyek menebas pohon karet milik warga. Tidak sampai disitu, warga mendapati lahannya sudah dalam keadaan di bor.

Ironisnya, perusahaan tersebut diduga menggunakan jasa preman untuk memuluskan aksinya dalam melakukan pengeboran terhadap lahan warga.

“Dalam seminggu terakhir, kan ujan terus. Jadi kami idak nyadap. Tadi pagi pas kami ke kebun, tahu-tahu sudah ado alat pengeboran. Puluhan batang karet kami dicabutnya,” kata Usman Aidi (54), warga RT10 Simpang Raja kepada KabarSumatera, Jumat (3/1).

Usman mengatakan bahwa dirinya selaku pemilik lahan kebun secara sah, sama sekali tidak pernah dihubungi pihak perusahaan akan adanya pengeboran dan pemasangan alat peledak oleh perusahaan pencari minyak ini.

Karena kesal, Usman sampai menahan alat pengebor milik perusahaan itu. Alat pengebor itu sampai dipasangi rantai. Ini dilakukan Usman untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan. Namun bukan penyelesaian secara baik-baik, pihak perusahaan justru mengutus seseorang yang dikenalnya sebagai preman.

“Dia marah-marah sampai menggebrak meja. Mereka maksa ngambil alat bor. Jelas saja kami tidak berani. Kami cuma petani bukan preman,” papar Usman.

Arogansi perusahaan inilah yang disesalkan Usman. Perusahaan tidak pernah melakukan koordinasi. “Kita sama sekali tidak dikoordinasi oleh pihak perusahaan akan dilakukan pengeboran dan pemasangan bahan peledak ini. Kita sebagai pemilik lahan, sangat tersinggung tindakan pihak perusahaan, yang sewena-wena melakukan operasinya tanpa izin terlebihdahulu terhadap pemilik lahan,” ungkapnya.

Ia mengharapkan, pihak perusahaan yang melakukan pengeboran agar bisa beretikat baik terhadap warga. “Jadi mereka ini, mengebor saat kita sedang tidak di kebun. Pohon karet kami yang baru berusia satu tahun juga telah dilakukan penebangan tanpa izin, semuanya ada sekitar 20 batang,” ujarnya.

Ia menambahkan, bukan hanya persoalan arogansi perusahaan yang disesalkan oleh warga. Soal ganti rugi juga dipertanyakan oleh warga. Warga tidak terima bila ganti rugi hanya Rp 25.000,- per lobang bor. Dan untuk keluar masuk alat bor dihargai Rp 5.000,- per meter maju.

“Harga ini jelas meremehkan kami. Padahal tanah kami dipasangi peledak dan bakal diledakkan. Biar bagaimanapun memperngaruhi produksi karet kami,” keluh Usman.

Kejadian serupa juga dialami oleh Dahlan (53), warga lainnya. Menurut Dahlan, dua bidang kebun milik anaknya secara diam-diam juga dilakukan pengeboran tanpa seizinnya.

“Kebun punya anakku Masri dipasang tiga peledak. Kalau punya Rahim cuma dua peledak. Dan kami tidak pernah di kasih tahu sebelumnya,” ujar Dahlan mewakili dua anaknya pemilik kebun yang menjadi korban.

Pihaknya merasa kecewa dengan pihak perusahaan lantaran tidak menunjukan sopan santun dalam melakukan pekerjaan. “Sama sekali tidak ada sopan santun. Dulu, biasanya kita diajak untuk mendampinggi agar tidak ada kesalahpahaman, saat dilakukan pengeboran,” katanya.

Sementara itu, Humas PT Elnusa, Hadi Hermawan, saat dikonfirmasi mengatakan, selama ini pihaknya telah melakukan sosialisasi terhadap warga, melalui door to door. “Kita merasa semuanya sudah dilakukan sosialisasi. Namun, tidak menutup kemungkinan ada yang terlewat. Maka itu, kita akan turun ke lapangan, dan akan melakukan pembicaraan terhadap warga yang bersangkutan,” terangnya kepada wartawan.

Saat ditanya penggunaan jasa preman yang dilakukan PT Elnusa, Hadi membantah. “Kalau preman, rasanya tidak pernah Mas. Di setiap desa memang ada yang kita tunjuk sebagai humas. Tugasnya sebagai penunjuk jalan agar kita tahu siapa pemilik lahannya,” tuturnya.
Terkait ganti rugi, Hadi menjelaskan, apa yang dibayar kepada warga sudah sesuai dengan ketentuan peraturan gubernur yang dikeluarkan tahun 2009. “Patokan kita harga yang dikeluarkan pergub Kak” kata Hadi.

 

Teks/Foto : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster