Kasus Kekerasan Wanita Meningkat

 215 total views,  4 views today

Ilustrasi | Arahjuang.com

Ilustrasi | Arahjuang.com

KAYUAGUNG I KS-Kekerasan terhadap kaum perempuan dan anak di wilayah OKI mengalami peningkatan yang cukup tinggi, selama tahun 2013 kekerasan terhadap perempuan berjumlah 115 kasus, jumlah tersebut meningkat dibandingkan tahun 2012 yang berjumlah 92 kasus. Jumlah tersebut sesuai dengan data di Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satuan Reserse kriminal Polres OKI.

Menurut Kasat Reskrim Polres OKI, AKP Surachman didampingi KBO Reskrim Ipda Rohima, bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak di tahun 2013 ini mengalami peningkatan  yang cukup tajam.

“Kekerasan tersebut seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kemudian cabul, penelantaran anak, zina dan perbuatan tidak menyenangkan,” kata Kasat, Kamis (2/1).

Dirincikannya untuk kasus KDRT berjumlah 34 kasus, kemudian cabul berjumlah 45 kasus, Penelantaran sebanyak 8 kasus, zina 18 kasus dan lain-lain sebanyak 17 kasus.

“Jika dikalkulasikan semuanya berjumlah 115 kasus, sementara tahun 2012 berjumlah 92 kasus,” terangnya.

Menurutnya khusus untuk perbuatan cabul dan KDRT sebenarnya lebih banyak lagi jumlahnya, diduga masih banyak lagi kasus kekerasan terjadap perempuan dan anak baik itu KDRT dan pencabulan yang tidak dilaporkan ke Polres.”Banyak yang tidak berani melaporkan kasus tersebut ke Polisi, tetapi yang Paham dengan hukum mereka langsung lapor ke Polisi” ujarnya.

Ujar Rohimah, pelanggaran UU No.23 tahun 2004 tentang KDRT diatur dalam pasal 44 sampai dengan pasal 53. Khusus untuk kekerasan KDRT di bidang seksual, berlaku pidana minimal 5 tahun penjara dan maksimal 15 tahun penjara atau 20 tahun penjara atau denda antara Rp 12 juta hingga Rp 300 juta.

“Bagi masyarakat pedesaan, masalah KDRT merupakan persoalan keluarga yang tabu untuk disampaikan keluar, makanya kebanyakan mereka memilih untuk menyelesaikan di tingkat keluarga, sehingga  mereka jarang lapor Polisi, tetapi sedikit-demisedikit mereka sudah berani melaporkannya kepada pihak berwajib,” katanya.

Beberapa upaya sudah  dilakukan PPA Polres OKI untuk menekan angka kekerasan tersebut, diantara dengan menggelar kampaye penolakan kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan cara membagikan bunga kepada para pengedara di kota Kayugaung OKI saat memperingati hari ibu dan sebagainya.

Ditambahkan Kapolres OKI AKBP Erwin Rachmat, beberapa faktor pemicu terjadinya KDRT, sambungnya, yang paling dominan adalah masalah ekonomi keluarga. Bukan hanya itu kekerasan seksual terhadap anak juga tinggi, kebanyakan korbannya masih pelajar.

”Saat ini kita tengah gencar-gencarnya melakukan sosialisasi UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan UU No 23 tahun 2004 dengan mendatangi sekolah-sekolah yang ada di setiap kecamatan di OKI,” ungkapnya.

Dalam sosialisasi yang dilakukan di sekolah-sekolah diharapkan kedepan kasus KDRT dan kasus kekerasan terhadap anak dapat berkurang. Bukan hanya di tingkat sekolah saja, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi kepada para ibu rumah tangga di setiap Desa.

“Mudah-mudahan mereka bisa paham dan melapor ke Polisi jika menjadi korban kekerasan,” tambahnya.

Sosilisasi dianggap perlu mengingat sosialisasi bertujuan membangun kesadaran masyarakat terhadap hak-hak perempuan. Selain itu, berharap agar masyarakat lebih memahami hak mereka sebagai kaum perempuan dan anak, sehingga angka kekerasan terhadap perempuan dan anak bisa mengalamipenurunan.

 

TEKS : DONI AFRIANSYAH

EDITOR : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster