Dilema Ketergantungan Impor Daging

 194 total views,  2 views today

Penjual Daging

Penjual Daging

MEMASUKI tahun baru 2014 ini, rakyat banyak yang terbelalak masygul ketika menemui harga-harga kebutuhan pokok di pasar naik berlipat-lipat. Hal itu terjadi karena tak adanya pasokan bahan-bahan kebutuhan pokok itu di samping memang produksinya lagi menurun. Kondisi tersebut diakui oleh Kementerian Pertanian yang melihat produktifitas pertanian kita mengalami penurunan. Bukan hanya itu permasalahan pemenuhan kekurangan pasokan daging sapi untuk kebutuhan dalam negeri yang selama 2013 lalu keteteran sehingga dilakukan melalui impor juga masih akan terjadi di tahun 2014 ini.

Menteri Pertanian Suswono mengatakan, produksi daging sapi pada 2013 mencapai 430.000 ton atau naik dibanding 2012 yang sebesar 420.000 ton. Sedangkan kebutuhan daging sapi selama 2013 mencapai 549.700 ton.

Defisitnya ketersediaan daging sapi menyebabkan tingginya harga daging sapi. Oleh karena itu, menurut Suswono, untuk mengatasi hal itu, pemerintah mengambil langkah membuka pintu impor daging sapi baik berupa sapi hidup maupun daging beku.

Meski pemerintah telah membuka keran impor daging sapi maupun ternak sapi untuk menambah pasokan dalam negeri, ternyata harga daging sapi dalam negeri tidak mengalami penurunan secara nyata. Harga daging sapi di dalam negeri masih tinggi, berkisar Rp 90.000-Rp 100.000 per kilogram.

Dalam kondisi demikian,  selama 2013 ternyata ada yang menggembirakan yakni produksi beras secara nasional mengalami surplus sebanyak 5,4 juta ton. Pada tahun ini kebutuhan beras dalam negeri sebanyak 34,4 juta ton, sedangkan ketersediaan mencapai 39,8 juta ton.

Selain beras, jagung juga mengalami surplus sebesar 4,1 juta ton, bawang merah 84 ribu ton, cabai besar 187,9 ribu ton, daging unggas dan telur masing-masing surplus 419,8 ribu ton dan 54,6 ribu ton. Kemudian bawang merah ketersediaannya 1,02 juta ton dan kebutuhan hanya 937,2 ribu ton.

Sementara itu, untuk cabai besar, ketersediaan dalam negeri mencapai 1,1 juta ton dengan kebutuhan 924,4 ribu ton; daging unggas ketersediaan 1,5 juta ton, sedangkan kebutuhan 1,1 juta ton; dan telur ketersediaannya 1,76 juta ton dengan kebutuhan 1,71 juta ton. Kita mengharapkan semua kondisi tersebut bias dijaga dengan baik.

Di sisi lain kita menyayangkan dengan adanya aturan pembebasan impor daging premium dan impor bebas sapi siap potong, sesungguhnya swasembada daging sapi sudah melenceng jauh dari target yang harus dicapai. Begitu juga dengan komoditas gula, kita menilai ada kesalahan perencanaan. Insentif seharusnya diberikan kepada pabrik gula berbasis tebu, bukan pabrik rafinasi. Kapasitas pabrik rafinasi 5,7 juta ton bisa dicapai dalam kurun waktu 10 tahun. Sementara pabrik gula berbasis tebu dalam 153 tahun beroperasi baru 5,7 juta ton. Semoga pemerintah benar-benar serius membenahi problem ini dan rakyat akan tertolong untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

(Sarono P Sasmito)





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster