Pemimpin Hanya Pentingkan Kepentingan Pribadi

 216 total views,  2 views today

Ilustrasi

Ilustrasi

*Penyebab Indonesia Kian Terpuruk

PALEMBANG | KS-Walau kaya dengan Sumber Daya Alam (SDA), namun kondisi masyarakat Indonesia jauh dari kata mapan atau sejahtera. Yang ada menurut pengamat sosial dan politik dari Universitas Sriwijaya (Unsri), Dr Ridho Taqwa, justru beban hidup yang harus ditanggung masyarakat kian besar hingga masyarakat terus berkutat bagaimana untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya.

Hal ini menurut Ridho disebabkan, banyak pemimpin bangsa yang hanya mementingkan kepentingan pribadi.  “Apalagi menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014 mendatang, banyak elite partai politik (parpol) yang tebar pesona agar bisa memimpin lagi, atau yang berancang-ancang untuk merebut kekuasaan,” kritik Ridho dalam Repleksi Akhir Tahun 2013, Minggu (29/12) di Ballroom Hotel Paradise, Palembang.

Disaat yang sama sambungnya, tabir busuk parpol mulai terkuak. Syahwat mengumpulkan uang dengan segala cara, untuk membiayai proses politik demokrasi tak bisa ditahan lagi. Sehingga jadilah parpol, menjadi sarang para koruptor

Sementara itu, Ust Ir Heru Binawan, dari DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menyebut, Di dalam berpolitik, politisi harus memiliki kesadaran berpolitik. Sehingga dalam berpolitik, mereka bisa benar-benar memperhatikan kepentingan konstituen yang di wakilinya bukannya untuk kepentingan pribadi atau golongan.

Sayangnya sebut Heru,  politisi di Indonesia banyak yang belum berpihak kepada masyarakat. “Mereka biasanya baru bergerak memperhatikan masyarakat, saat menjelang Pemilu saja,” ucapnya.

Semua itu menurut Heru disebabkan, sistem politik yang dibangun Indonesia dan banyak negara lain dibelahan dunia lainnya khususnya negara-negara muslim, dibangun berdasarkan ideologi kapitalisme.

Ideologi ini tegasnya, yang menjadi sumber dan akar masalah terjadinya berbagai krisis di negara-negara muslim termasuk Indonesia. “Ide dasar kapitalisme adalah sekulerisme, dimana terjadi antara agama dengan kehidupan. Sumber hukum dari ideologi ini, adalah akal semata, sehingga keberadaan tuhan tidak diakui,” bebernya.

Indonesia sambungnya, juga telah memilih ideologi ini dalam kehidupan berbangsanya. Itu jelasnya, bisa dilihat dalam liberalisasi ekonomi dan pasar, mengikatkan diri dengan International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia. Akibatnya, Indonesia harus membuka pasar dan kekayaan alamnya, untuk dieksploitasi oleh pihak asing atas nama investasi dan pembangunan ekonomi.

“Di era reformasi, Indonesia semakin menyempurnakan agenda kapitalistiknya. Itu terlihat, dari lahirnya berbagai Undang-Undang (UU) pro kapitalis seperti UU Migas, UU Sumber Daya Air, UU Penanaman Modal, UU Kelistrikan dan lainnya,” ungkapnya.

Wajar jika kemudian urainya, jika kemiskinan dan pengangguran bukannya menurun tetapi justru meningkat. Sebab kekayaan alam dikeruk asing, sementara utang negara terus menumpuk.

“Kapitalisme telah gagal mensejahterakan warga dunia, kapitalisme  menciptakan ketidakadilan ekonomi dan kemiskinan struktural, dan hanya menyenangkan para kapitalis,” tukasnya.

 

TEKS              : AMINUDDIN

EDITOR         : DICKY WAHYUDI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster