Pelatih Sumsel Tak Terjamin Masa Depannya

 286 total views,  2 views today

 

Palembang, KS –Pesatnya perkembangan olahraga serta ditunjang dengan sarana dan prasana yang memadai san seringnya diadakan event olahraga nasional maupun internasional di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), ternyata menyimpan kisah meyedihkan khususnya di kalangan pelatih.

Pasalnya, para pelatih yang berkiprah dan mendedikasikan diri demi kemajuan olahraga Sumsel hingga kini kesejahteraannya masih terabaikan.

Salah satu pelatih Sumsel, cabang olahraga Wushu, Ahmad Yani mengatakan, dirinya merasa prihatin dengan nasib pelatih di Sumsel lantaran profesi pelatih olahraga masih belum bisa menjamin kesejahteraan.

“Ya, kami sangat perihatin dengan nasib para pelatih di Sumsel. Tidak ada jaminan kesejahteraan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, irinya juga menilai pemerintah tidak adil memberikan bantuan yang disama ratakan antara cabang olahraga beregu dan perorangan. Menurtnya,  hal tersebut tidak akan efektik karena masing-masing cabor kebutuhan yang ada itu berbeda-beda.

“Ini sangat tidak adil. Jangan samakan kebutuhan cabor, pasti berbeda-beda kebutuhannya,” ungkapnya.

Untuk mengakomodir dan menampung aspirasi pelatih, sambung Yani, pihaknya bersama bersama rekan sesama pelatih membentuk Asosiasi Pelatih Olahraga Sumsel.

“Kita membentuk asosiasi ini, pertama kali di Indonesia, karena kita sangat prihatin kepada rekan-rekan pelatih yang ada di Sumsel. Sampai saat ini masa depan pelatih itu sendiri belum begitu terjamin karena memang kesempatan untuk mengembangkan diri pun cukup sempit,” ujarnya saat konfrensi pers di depan para awak media, Rabu (25/12).

Penasehat Asosiasi Pelatih Olahraga Provinsi Sumsel, Lukman Achmadi menambahkan, maksud pembentukan asosiasi ini tidak lain sebagai pendamping Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumsel, untuk memberi masukan tentang pembinaan dan peningkatan prestasi atlet utamanya pada PON.

“Kita harap bisa ikut berperan serta sebagai mitra atau pendamping dari KONI dalam mengambil kebijakan-kebijakan, agar program berjalan sesuai dengan teknik kepelatihan,” paparnya.

Lebih Lukman, dari asosiasi ini nantinya diharapkan bisa menjadi awal peningkatan kesejahteraan dan pengembangan diri pelatih. Terlebih diharapkannya kedepan sebagai sarana dan pemersatu untuk meningkatkan kekeluargaan sesama pelatih.

“Inilah wadah kita bertukar informasi dan menambah wawasan sesama pelatih dan berbagi keluh kesah serta mencari solusi jalan keluar dari sebuah persoalan,” pungkasnya.

Acara tersebut dihadiri oleh berbagai pelatih cabor lainnya. Hadir juga dalam pertemuan itu beberapa pelatih senior yang juga terlibat sebagai inisiator pembentukan Asosiasi Pelatih Olahraga Provinsi Sumsel, yakni diantaranya Agus Salim (Kempo), Lucky Ramadhani (Anggar) dan Lirman Budianto (Taekwondo).

 

Teks : Saddam Suryanda

Editor : Junaedi Abdillah

Palembang, KS

Pesatnya perkembangan olahraga serta ditunjang dengan sarana dan prasana yang memadai san seringnya diadakan event olahraga nasional maupun internasional di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel), ternyata menyimpan kisah meyedihkan khususnya di kalangan pelatih.

Pasalnya, para pelatih yang berkiprah dan mendedikasikan diri demi kemajuan olahraga Sumsel hingga kini kesejahteraannya masih terabaikan.

Salah satu pelatih Sumsel, cabang olahraga Wushu, Ahmad Yani mengatakan, dirinya merasa prihatin dengan nasib pelatih di Sumsel lantaran profesi pelatih olahraga masih belum bisa menjamin kesejahteraan.

“Ya, kami sangat perihatin dengan nasib para pelatih di Sumsel. Tidak ada jaminan kesejahteraan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, irinya juga menilai pemerintah tidak adil memberikan bantuan yang disama ratakan antara cabang olahraga beregu dan perorangan. Menurtnya,  hal tersebut tidak akan efektik karena masing-masing cabor kebutuhan yang ada itu berbeda-beda.

“Ini sangat tidak adil. Jangan samakan kebutuhan cabor, pasti berbeda-beda kebutuhannya,” ungkapnya.

Untuk mengakomodir dan menampung aspirasi pelatih, sambung Yani, pihaknya bersama bersama rekan sesama pelatih membentuk Asosiasi Pelatih Olahraga Sumsel.

 “Kita membentuk asosiasi ini, pertama kali di Indonesia, karena kita sangat prihatin kepada rekan-rekan pelatih yang ada di Sumsel. Sampai saat ini masa depan pelatih itu sendiri belum begitu terjamin karena memang kesempatan untuk mengembangkan diri pun cukup sempit,” ujarnya saat konfrensi pers di depan para awak media, Rabu (25/12).

Penasehat Asosiasi Pelatih Olahraga Provinsi Sumsel, Lukman Achmadi menambahkan, maksud pembentukan asosiasi ini tidak lain sebagai pendamping Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumsel, untuk memberi masukan tentang pembinaan dan peningkatan prestasi atlet utamanya pada PON.

“Kita harap bisa ikut berperan serta sebagai mitra atau pendamping dari KONI dalam mengambil kebijakan-kebijakan, agar program berjalan sesuai dengan teknik kepelatihan,” paparnya.

Lebih Lukman, dari asosiasi ini nantinya diharapkan bisa menjadi awal peningkatan kesejahteraan dan pengembangan diri pelatih. Terlebih diharapkannya kedepan sebagai sarana dan pemersatu untuk meningkatkan kekeluargaan sesama pelatih.

 “Inilah wadah kita bertukar informasi dan menambah wawasan sesama pelatih dan berbagi keluh kesah serta mencari solusi jalan keluar dari sebuah persoalan,” pungkasnya.

Acara tersebut dihadiri oleh berbagai pelatih cabor lainnya. Hadir juga dalam pertemuan itu beberapa pelatih senior yang juga terlibat sebagai inisiator pembentukan Asosiasi Pelatih Olahraga Provinsi Sumsel, yakni diantaranya Agus Salim (Kempo), Lucky Ramadhani (Anggar) dan Lirman Budianto (Taekwondo).

Teks : Saddam Suryanda

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster