Harga pun Melonjak Tajam

 215 total views,  2 views today

Suryati bersama barang dagangannya di terminal Pendopo. Tingginya biaya angkut mengakibatkan Suryati menaikkan harga dagangannya. | Foto : Indra SH

Suryati bersama barang dagangannya di terminal Pendopo. Tingginya biaya angkut mengakibatkan Suryati menaikkan harga dagangannya. | Foto : Indra SH

PALI | KS –Akibat jalan menuju beberapa desa di kawasan Sungai Baung, Kecamatan Talang Ubi rusak parah, beberapa pedagang akhirnya menaikkan harga jual kebutuhan pokok warga. Imbasnya, harga barang dibeberapa desa ikut melonjak.

Suryati salah satu pedagang di Sungai Baung saat ditemui di Terminal Pendopo mengatakan dirinya terpaksa menaikkan harga karena harus membayar ongkos lebih mahal dari biasanya.

“Harga angkutan kan naik Mas. Dari Rp 10.000 menjadi Rp 20.000,- kalau pulang-pergi jadi Rp 40.000,-. Itu untuk penumpang. Belum lagi barangnya, harganya beda lagi. Terus ditambah lagi resiko barang jadi rusak. Seperti telur, pernah pecah sampai setengah peti gara-gara diguncang mobil yang masuk lubang,” ujar Suryati yang setiap hari berbelanja ke Talang Ubi itu.

Untuk telur, menurut Suryati, sebenarnya bisa menjual dengan harga dibawah Rp 20.000,-/kg. Namun karena biaya transport tinggi, dirinya tidak mau menjual dengan harga dibawah Rp 22.000,-/kg. Padahal dipasaran Talang Ubi harga telur hanya Rp 18.000,-

“Untuk harga bawang merah, dipasaran seharga Rp 25.000,-/kg di Sungai Baung bisa mencapai Rp 32.000,-/kg,” tuturnya.

Menurut Suryati, dirinya sangat terpaksa menaikkan harga karena  perjalanan dari Sungai Baung menuju Talang Ubi yang harus berjuang ekstra keras. Ia bahkan sampai lima kali ikut mendorong mobil yang terbenam dilumpur.

“Jalanan lumpur semua, jadinya saya ikut dorong mobil. Kalau tidak ikut dorong, tidak sampai-sampai,” ujarnya.

Suryati berharap, jalan tersebut bisa dibuat mulus agar dia dan teman-temannya mudah untuk berbelanja. “Capek Mas dorong mobil terus akibat jalan hancur dan berlumpur,” ucapnya.

Hal yang sama diungkapkan juga oleh Jajang, salah satu sopir yang sering membawa pekerja di Desa Benakat Minyak. Menurut Jajang, harga makanan di Desa Benakat Minyak sejak jalan rusak juga meningkat tajam. “Kalau biasanya nasi ayam bisa seharga 15.000 sekarang sudah Rp20ribu-Rp22ribu. Biaya makan disana mahal banget Mas,” kata Jajang yang setiap hari harus ke Benakat Minyak.

 

Teks/Foto : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi Abdillah

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster