Matematika Bukan Monster

 376 total views,  4 views today

Ekskul-(4)

Foto : Dok KS

Kebanyakan siswa akan merasa takut kalau mendengar pelajaran matematika karena pelajaran matematika itu seperti monster dimata mereka sehingga matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang dihindari, ditakuti, dan dibenci. Banyak siswa yang baru mendengar kata Matematika saja langsung bereaksi negatif. Ada yang langsung mengeluh matematikanya sulit, bahkan kadang sampai membawa-bawa sang guru, “Bu Mawar nyeremin sih. Jadi males belajar Matematika,”

Lalu muncul pertanyaan, kenapa citra Matematika begitu buruk di mata siswa? Mungkin yang menjadi faktor penyebabnya adalah ‘monotonnya’ cara belajar, kecenderungan siswa menghafal rumus, lalu waktu yang terbatas di kelas, dan bisa saja faktor guru menjadi penyebabnya.

Nah, hal inilah yang membuat guru Matematika, Hj. Roihanah, M.Pd., yang sejak 2006 menjadi guru di MAN 3 (Model) Palembang mencetuskan ide untuk membentuk Club Math (Klub Matematika). Tujuannya adalah untuk menyalurkan anak yang kurang gemar Matematika agar setidaknya beranggapan kalau Matematika itu tidak seseram yang dikira.

Klub Matematika tidak hanya klub. Di sini juga siswa diajarkan berorganisasi. Klub Metematika ini dibentuk tahun 2006. Sama seperti organisasi atau klub-klub lainnya, awal mula dibentuk, anggotanya berjubel. Tapi setelah pertengahan semester bahkan hingga akhir semester, anggotanya mulai berkurang. Bagi Roihanah, itu merupakan hal biasa.

Ibu beranak dua ini mengaku kalau Klub Matematika ini mulanya dikelola oleh tiga orang guru Matematika. Namun, yang menjalankan adalah semua guru Matematika yang ada di MAN 3 (Model) Palembang. Sebagai pelopor terbentuknya klub ini, Roihanah sempat menjadi pembimbing klub. Seiring bergantinya tahun ajaran, posisi pembimbing pun berganti-ganti. Untuk tiga tahun terakhir ini, kembali Roihanah yang menjadi pembimbing klub.

Diakui Roihanah, MAN 3 Palembang adalah satu-satunya sekolah menengah tingkat atas yang punya Klub Matematika se-kota Palembang. MAN 3 Palembang juga merupakan satu-satunya sekolah di Palembang yang memiliki laboratorium Matematika. Bahkan jika dibandingkan dengan perguruan tinggi, laboratorium Matematika di sana cukup lengkap. Namun, tetap ada kendala dalam pengadaan alat peraga untuk mengisi laboratorium.

“Karena alat peraga itu susah dicari. Di luar kota ada, banyak. Kalau pun mau buat sebenarnya bisa, akan tetapi susah menggerakkan siswa di sini. Sebab, siswa di sini terlalu banyak kegiatan. Tidak seperti dulu, ketika awal mula terbentuknya klub,” ungkap Roihanah.

Tiap tahunnya mulai dari 2008, Klub Matematika gemar mengadakan kegiatan berupa Lomba Cerdas Cermat Matematika (LCCM) tingkat SMP se-kota Palembang. Kegiatan ini bertujuan untuk merekrut siswa SMP yang berminat dengan Matematika, “Kegiatan ini juga sebagai ajang promosi bagi MAN 3 guna menarik minat siswa SMP untuk masuk di sini,” tambah Roihanah.

Miftah (16) siswa kelas reguler yang sempat menjadi ketua Klub Matematika ini memberi tantangan kepada diri sendiri, apakah benar Matematika itu sulit?, “untuk meningkatkan pengetahuan tentang Matematika dan ingin membuktikan kalau Matematika itu bukan sesuatu yang menyeramkan layaknya monster,” ujar siswa yang pernah memenangkan Olimpiade Matematika Online tingkat kota ini.

Tiap minggunya, klub ini mengadakan pertemuan. Selain kegiatan tahunan di atas, Klub Matematika juga mengadakan buletin bulanan yang berisi game, kuis. “Kalau game untuk buletin itu kita kasih hadiah bagi pemenang yang bisa memecahkannya,” kata Miftah.

Ketika ditanya apakah sekarang Matematika masih menjadi momok yang menakutkan bagi Miftah, ia menjawab tidak. “Karena di klub, kita bisa bawa PR yang tidak bisa kita kerjakan sendiri. Nah, di klub bisa dikerjakan sama-sama. Jadi tidak ada yang tidak mungkin dikerjakan. He..he..,”ujarnya tersenyum.

Jika diibaratkan, Matematika itu sama dengan permainan Angry Birds. Apakah memainkan Angry Birds itu sulit? Entah, tetapi yang jelas tidak terlalu mudah. Tiap orang yang memainkan permainan tersebut terhenti pada tingkatan yang berbeda. Ada yang bisa sampai level 11, namun juga ada yang hanya mampu mencapai level 7. Bagi yang bermain di level 7, tentunya merasa sangat sulit memainkan level 11, namun tidak sama halnya dengan yang bermain di level 11. Seseorang yang telah mencapai level tertinggi dalam permainan tersebut, tentunya merasa sangat bosan untuk kembali bermain di level rendah.

So, jika dikatakan Matematika itu sulit, tentunya memang sulit. Tapi, seberapa sulit? Matematika itu seperti Angry Birds, menyenangkan. Kecuali, saat kita mencoba menaklukkan satu tingkatan di Angry Birds, kita tidak melihat itu sebagai beban, tetapi permainan. Dengan begitu, kita takkan keberatan gagal dan mencobanya berulang kali.

TEKS : Dita Rubian Sugiharti (Mg)

EDITOR : ROMI MARADONA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster