Migas di Indonesia Butuh Cadangan Baru

 214 total views,  2 views today

Caption :Pemimpin Redaksi Kabar Sumatera, yang juga Ketua Lembaga Pendidikan Pers Sriwijaya (LP2S), Imron Supriyadi, memberi materi dalam Journalis Class, kerjasama SKK Migas-Tately dan LP2S Palembang selama dua hari (17-18/12) di Hotel Jayakarta Daira Palembang. (Foto : Iwan Cheristian)

Pemimpin Redaksi Kabar Sumatera, yang juga Ketua Lembaga Pendidikan Pers Sriwijaya (LP2S), Imron Supriyadi, memberi materi dalam Journalis Class, kerjasama SKK Migas-Tately dan LP2S Palembang selama dua hari (17-18/12) di Hotel Jayakarta Daira Palembang. (Foto : Iwan Cheristian)

*Journalist Class Ditutup

PALEMBANG, KS-Melihat Industri Minyak dan Gas (Migas) di Idnonesia yang sudah demikian tua, perlu dilakukan pencarian cadangan baru sebagai sumber penghasilan migas di masa mendatang. “Kalau tidak, ke depan negara kita akan semain banyak melakukan impor migas dari negara lain,” ujar Ananda Idris, pengamat Independen bidang Migas, dalam acara Journalist Class di Hotel Jayakarta Palembang, kerjasama Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas, Tetely dan Lembaga Pendidikan Pers Sriwijaya (LP2S) Palembang.

Lebih lanjut Ananda yang menyampaikan materi berjudul : “Peran & tanggungjawab Stake Holder dalam Peningkatan Produksi Nasional, (inpres no.2/2012, Kepmen 3407-obvitnas, DBH)” mengatakan, upaya mencari cadangan baru dalam bidang migas ini, seharusnya segera dilakukan, sehingga potensi migas di negeri ini dapat diberdayakan, sehingga kekayaan alam di perut bumi Indonesia dapat dikelola sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat Indoensia, sebagaimana diatur dalam Psal 33 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945.

Tetapi Ananda mengakui, kalimat “dikelola oleh negara” dalam pasal itu yang secara maksimal belum terwujud dengan baik. Sebab jika benar-benar dikelola dengan baik, maka tujuan menyejahterakan rakyat sebagaimana amanah pasal ini dapat terwujud. “Tetapi faktanya, kekayaan yang dikelola negara ini belum dimaksimalkan, bahkan tidak diwujudkan sebagaimana tujuan Undang-Undang. Nah , disinilah yang perlu dievaluasi benar atau tidak kalau negara sudah mengelola kekayaan alam dengan baik?” tegasnya.

Menyinggug tentang perlunya melakukan cadangan baru dalam bidang migas ini, menurut Ananda memang membutuhkan biaya besar. Sebab, jauh sebelum melakukan produksi, usaha hulu migas juga harus melalui sejumlah tahapan panjang yang memerlukan cost (biaya) mahal. “Tetapi harus diakui upaya pencarian cadangan baru maupun tata kelola bidang migas di Indonesia memang selalu beriring dengan iklim politik yang sedang berkembang. Dan ini juga terjadi sejak zaman kolonial. Jadi kondisi politik memang akan sangat berdampak kuat terhadap tata kelola migas, termasuk di zaman sekarang ini,” tegasnya.

Namun demikian, Ananda mengatakan, untuk mengatasi tingginya biaya dalam mencari cadangan baru, bisa dilakukan dengan alokasi anggaran 30% yang selama ini masuk ke Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). “Selama ini APBN disumbang tiga puluh persen dari migas. Kalau seandainya dari jumlah itu sebagian dialokasikan untuk mengelola migas, termasuk untuk biaya pencarian cadangan  baru, semua bisa diatasi. Nah, untuk menyelesaikan masalah ini semua pihak berwenang tidak boleh saling salah, tetapi harus duduk bersama mencari jalan keluar agar cadangan baru dalam bidang migas di masa mendatang bisa segera digali dan ditemukan. Sebenarnya sangat banyak potensinya, kalau kita mau,” ujarnya.

Dalam acara yang berlangsung selama dua hari ini (17-18/12) sedikitnya dihadiri 24 wartawan di Sumsel yang terdiri dari, wartawan cetak, elektronik, online bahkan jurnalis kampus juga turut serta dalam program ini.

Materi lain yang juga disampaikan diantaranya :“Sejarah Industri Hulu Migas, Macam kontrak Kerjasama Migas dan Proses Bisnis-nya”.  Materi ini disampaikan oleh Rinaldi Norman, Kepala Urusan Humas Perwakilan SKK Migas wilayah Sumbagsel. Materi lain yang tak kalah menarik yaitu tentang Dasar-Dasar operasi (teknis). Selanjutnya materi Dasar-dasar operasi (teknis) Industri Hulu Migas, disampaikan Michael V Sompie, Staff Eksplorasi Tately NV. Dan tak ketinggalan, Pemimpin Redaksi Harian Umum Kabar Sumatera, yang juga Ketua Lembaga Pendidikan Pers Sriwijaya (LP2S) Palembang, Imron Supriyadi, menyampaikan materi berjudul :”Kapitalisasi Media dan Pergeseran Ideologi Pers.”

Acara yang berlangsung hikmat itu, kemarin, Rabu (18/12), ditutup oleh Ketua LP2S, Palembang, Imron Supriyadi dengan didampingi perwakilan SKK Migas dan Tately. “Ucapan terima kasih kami atas partisipasi kawan-kawan wartawan di Sumsel. Semoga apa yang kita lakukan hari bisa mendorong kita untuk terus melakukan kerjasama di masa mendatang dengan program yang lain,” ujar Nurjamroji, perwakilan Tately mengakhiri acara penutupan acara tersebut.

 

TEKS : AHMAD MAULANA

EDITOR : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster