Kepala Desa jangan Sampai Jadi Kepala Dosa

 406 total views,  2 views today

Penjabat PALI, Ir. H Heri Amalindo MM saat melantik kades

Penjabat PALI, Ir. H Heri Amalindo MM saat melantik kades

-Bupati Lantik Tiga Kades-

PALI | KS –Kepala Desa adalah pemimpin yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Meski hanya memimpin ditingkat pedesaan yang jumlahnya sedikit, tapi untuk dapat menduduki jabatan kades, dibutuhkan kredibilitas seorang figure kepala desa.

Hal inilah yang disoroti oleh wakil Ketua DPRD Muaraenim, HM Ferdinan Simatupang. Dalam pandangan Ferdinan, sosok kepribadian  kades haruslah menjadi panutan bagi seluruh warganya. Tanpa membedakan apakah warga tersebut adalah pendukungnya atau bukan.

“Jangan sampai setelah dilantik jadi kades berubah menjadi kepala dosa. Ini tentunya akan sangat memalukan,” kata Ferdinan yang juga suami mantan Kades Lunas Jaya Kecamatan Tanah Abang ini.

Karena itulah, Ferdinan berharap kepada setiap kepala desa agar menjaga tindak-tanduknya. “Dapat memimpin masyarakat secara adil,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan penjabat PALI, Ir. H Heri Amalindo MM. Orang nomor satu di Kabupaten PALI ini bahkan memperingatkan agar kades jangan sampai setelah dilantik sring keluar malam yang bersifat negatif.

“Ini seringkali terjadi, dari rumah alasan ada rapat di kabupaten atau dipanggil bupati ke Palembang, padahal ia nongkrong di kafe,” ungkap Heri. Ia berharap kejadian seperti itu tidak akan terjadi di kabupaten PALI.

Menjadi kades, menurut Heri, berarti menjadi sorotan masyarakat. Masyarakat tidak akan pernah hirau kalau yang datang ke kafe itu adalah masyarakat biasa. Tapi masyarakat akan bereaksi bahkan mencemooh bila yang nongkrong itu adalah seorang kepala desa. “Kades adalah pengendali bagi anggotanya,” tutur Heri.

Heri mengumpamakan dengan tubuh manusia. Saat kaki merasa sakit, maka kepala akan ikut merasakannya. “Demikian juga kalau anggota tubuh yang lain sakit, maka yang merasakannya adalah kepala. Karena kepala letak pusat pengendali seluruh anggota tubuh, untuk itulah seorang kepala desa atau pemimpin harus pandai-pandai meresapi penderitaan masyarakatnya,” paparnya.

Ketika anggota tubuh ada yang sakit, sambung  Heri, tidak serta merta anggota tubuh itu harus dipotong atau dibuang. Tugas kepala untuk mengobati sumber sakit itu agar menjadi sembuh.

“Demikian juga dalam kehidupan di masyarakat. Ketika ada perangkat atau anggota masyarakat yang dianggap ‘sakit’ bukan berarti anggota masyarakat itu harus diusir atau dibinasakan. Tugas kepala selaku pemimpin untuk mengobati atau membinanya,’ ungkapnya.

Pendapat ini disampaikan Heri Amalindo dan Ferdinan saat memberikan sambutan dihadapan masyarakat Desa Prambatan,  Kecamatan Abab, Kabupaten PALI, Rabu (18/12) di Prambatan.

Kehadiran Heri dan Fedinan di kecamatan termuda di Kabupaten PALI itu dalam rangka melantik tiga kepala desa. Ketiga kepala desa yang dilantik itu adalah Amirudin bin Cik Olah menggantikan Suherman sebagai Kades Prambatan, Abdul Haris sebagai Kades Karang Agung kecamatan Abab menggantikan Suparman dan Amran bin Haris menggantikan Juli Holmianto sebagai kades Sedupi kecamatan Tanah Abang.

 

Teks/Foto : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster