“Sejak Zaman Dulu, Jalan Kami Sudah Rusak”

 804 total views,  2 views today

-Lima Perusahaan Besar Tutup Mata-

Warga harus berjuang keras untuk melewati jalan Semangus-Talang Ubi yang rusak parah.

Warga harus berjuang keras untuk melewati jalan Semangus-Talang Ubi yang rusak parah.

PALI | KS –Suara mesin mobil carry itu meraung-raung melawan tanjakan yang berlubang dan berlumpur. Asap mengepul dari ban belakang mobil itu. Bau sengit seperti karet terbakar begitu menyengat. Ban mobil yang terus berputar tanpa bisa bergerak maju membuat bannya tergerus tanah menimbulkan bau sengit.

Tiga pemuda nafasnya tersengal sambil mendorong mobil agar kendaraan itu sampai dipuncak tebing.

Saat bunyi mesin mobil mulai pelan, Supar (35) yang tadinya mendorong mobil menyeka keringat yang menetes didagunya. “Capek mas,” ujarnya sambil menarik nafas yang mulai tersendat.

Bagi Supar, ritual dorong mendorong mobil di ruas jalan Talang Ubi-Semangus adalah ritual rutin saat musim hujan tiba.

“Dari jaman nenek moyang saya dulu, yaa kalau mau ke Pendopo (Talang Ubi) harus siap ndorong mas. Kalau tidak didorong tidak bisa keluar,” jelasnya.

Hari itu, Selasa (17/12), Supar bersama ketiga temannya baru saja berbelanja sembako untuk dijual di warung manisan dirumahnya. Untuk mendapatkan bahan jualan, Supar harus berbelanja setiap hari ke Pasar Pendopo di Talang Ubi.

Ritual dorong-mendorong itu bukan hanya dititik itu saja. “Orang sini menyebutnya Tebing Kawat, disini jalannya selalu rusak. Dulu, kata nenek saya disini pernah ada kerbau sampai mati karena terbenam,” jelasnya.

Ruas jalan ini memang terkenal dengan kerusakan yang sangat parah. Namun tetap dipergunakan warga karena satu-satunya akses menuju lima desa di Kabupaten PALI dan beberapa desa di Kabupaten Musirawas.

Puluhan ribu warga menggantungkan hidupnya melalui jalan ini. Setiap hari warga berbelanja kebutuhan sehari-hari ke Pasar Pendopo melewati jalan ini. Termasuk warga yang hendak menjual karet hasil kebunnya juga menggunakan jalan ini.

Berdasarkan catatan KabarSumatera, lima desa di kecamatan Talang Ubi Kabupaten PALI berada disini. Diantaranya Desa Sungai Baung, Benakat Minyak, Semangus, Suban Ulu dan Talang Mandung. Selain itu ada beberapa desa di kecamatan Muara Lakitan seperti di SP 5 dan SP 6 juga menggunakan jalan ini saat hendak ke berbelanja ke Pendopo.

Ironisnya, di daerah itu ada empat perusahaan besar yang setiap hari mengeruk minyak. Tercatat perusahaan itu adalah PT Pertamina EP, PT MedCo Energy, PT Musi Hutan Persada, PT Benakat Barat Petroleum. Kecuali PT MHP, ketiga perusahaan itu merupakan perusahaan pertambangan Migas.

“Aneh juga, perusahaannya banyak, tapi jalan kami tidak pernah bagus untuk dilewati,” tambah Supar disela-sela aksi mendorong mobilnya.

Hal senada juga dikeluhkan oleh Sigit, warga desa Sungai Baung, Kecamatan Talang Ubi. Sigit yang sehari-hari bekerja sebagai sopir ini angkutan sekolah ini mengeluhkan hal yang sama.

Setiap hari sigit bersama dua temannya mengangkut anak sekolah dari desanya menuju SMPN 3 Talang Ubi di Desa Benakat Minyak. Tidak kurang 20 anak ia angkut setiap harinya.

Menurut Sigit, kalau musim hujan begini ia tidak bisa mengantar anak sekolah. “Kalau hujan hanya ada dua pilihan tidak sekolah atau jalan kaki sejauh 8km. Kalau mobil jelas tidak bisa. Kubangan lumpur dimana-mana,” jelasnya.

Namun kadangkala meskipun anak-anak sudah berangkat sekolah, mereka tidak bisa belajar karena gurunya tidak datang. “Bagaimana mau datang ke sekolah, kalau jalannya tidak bisa dilewati. Hampir setiap hari pasti ada mobil terpuruk. Contohnya hari ini, saya tidak ngangkut anak-anak karena jalannya rusak,” tambah Sigit.

Sigit terpaksa harus mengeluarkan dana ekstra lantaran ada bagian mobilnya yang patah. “Jalannya kan banyak lobang, akibat sering masuk lubang per sering patah,” tambahnya.

Sigit menyesalkan ketidak-pedulian perusahaan terhadap desanya. Setahu Sigit perusahaan itu kaya karena setiap hari mengeruk minyak dari desanya. “Mungkin karena mereka pakai mobil pajero, jadi tidak merasa jalannya rusak. Jadi tidak memikirkan kami yang pakai mobil carry seperti ini. Mereka sepertinya tutup mata dengan jalan ini. Padahal tiap hari lewat sini,” ujar Sigit.

Sigit berharap, jalan ini bisa diperbaiki secepatnya agar ia lancar mengantar anak-anak sekolah. “Kalau jalannya bagus, kami bisa bawa hasil kebun untuk dijual di Pendopo” harap Sigit.

Sementara itu, M Nuh, Humas PT Benakat Barat Petroleum menyatakan perbaikan ruas jalan tersebut jauh sebelumnya sudah diperbaiki dengan melakukan penimbunan batu.

M Nuh mengaku sudah melakukan peninjauan terhadap beberapa titik yang rusak. “Kita sudah cek, memang kasihan masyarakat menjadi terganggu perekonomiannya. Tapi kami sebenarnya berharap agar pemerintah dapat mengajukan permohonan kepada kami sehingga kami dapat melakukan perbaikan,” jelasnya.

Syarifuddin, Humas PT Medco Energi saat dihubungi harian ini menyatakan tidak berkapasitas untuk memberikan statement.

 

Teks/Foto : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster