Sawah di Mura Terus Berkurang

 1,231 total views,  2 views today

areal persawahan di Desa F Trikoyo, Tugumulyo - MURA

areal persawahan di Desa F Trikoyo, Tugumulyo – MURA

*Akibat Alih Fungsi Lahan

MUSIRAWAS | KS-Dalam sepuluh tahun terakhir, areal persawahan di Kabupaten Musirawas (Mura), semakin berkurang atau menyusut. Areal persawahan khususnya di daerah irigasi Kelingi – Tugumulyo, beralih fungsi menjadi rumah toko (Ruko), pemukiman penduduk dan kolam ikan air deras.

Hal ini diungkapkan Ketua Umum Forum Komunikasi Badan Permusyawaratan Desa (FKBPD) Kabupaten Mura, M Joko kepada wartawan, Senin (16/12) di Tugumulyo. Ia menyebut, banyaknya areal persawahan yang beralih fungsi disebabkan tingginya biaya untuk bercocok tanam.

Sehingga banyak petani yang memilih beralih pekerjaan, karena hasil panen tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.  “Saat ini banyak ruko yang berdiri di eks lahan persawahan, seperti di Kecamatan Tugumulyo, Purwodadi dan Sumber Harta serta Muara Beliti, “ jelas Joko.

Selain ruko, areal persawahan pun banyak yang disulap menjadi pemukiman dan kolam ikan air tawar. “Banyak petani yang beranggapan, beternak ikan lebih menjanjikan dibandingkan menanam padi,” ucapnya.

Alih fungsi lahan ini menurut Joko, sudah jelas menyalahi tata ruang dan mestinya untuk alih fungsi lahan apalagi persawahan, harus mendapatkan izin pemerintah. “Kalau ini, dibiarkan terus maka produksi padi di Mura akan terus merosot. Selama ini produksi padi di Mura terus berkurang, bukan hanya disebabkan lahan pertanian yang beralih fungsi, tetapi juga banyak petani yang kurang berminat untuk menanam padi. Sebab penghasilan yang didapatkan petani, tak sebanding dengan modal yang dikeluarkan,” ujarnya.

Joko memaparkan sejumlah contoh, terus berkurangnya areal persawahan di Mura. Di Desa M Sitiharjo misalnya, ratusan sawah disana, beralih fungsi menjadi kebun ubi. Sementara di Desa Q1,  Tambah Asri 150 hektar banyak sawah yang beralih fungsi menjadi perkebunan karet dan ubi.

Namun menurut Wakil Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Satan Indah Jaya, Kecamatan Muara Beliti, Marullah. Menurutnya, di desanya sejak tahun 2000 lalu hingga saat ini, sudah ada 300 hektar sawah yang beralih fungsi menjadi kebun karet, sawit, sayur-sayuran dan lainnya.

“Namun setelah ada perbaikan irigasi, yang sebelumnya banyak terjadi kebocoran, lahan-lahan perkebunan tersebut sudah kembali menjadi sawah. Kalau diperinci, tinggal 25 hektar lagi kebun karet dan sawit. Jadi untuk saat ini, tidak ada masalah lagi mengenai alih fungsi lahan di desa kami. Karena, seluruah areal persawahan sudah terairi semua,” kata Marullah.

Sementara itu, Kepada DPTH Kabupaten Mura, H Suharto Patih melalui Kabid Produksi Tanaman Pangan, Tohirin meyakini areal persawahan yang telah alih fungsi ketika diairi, kembali akan berubah menjadi persawahan sebagaimana asalnya.

“Alih fungsi persawahan selama ini, karena banyak sawah yang kekeringan akibat tidak terairi. Namun kalau semua sawah sudah terairi, saya yakin sawah yang beralih fungsi itu bakal berubah menjadi persawahan lagi. Sebab menanam padi, lebih menguntungkan dibandingkan yang lain,” ungkapnya.

“Memang sejak beberapa tahun terakhir, areal persawahan di Mura berkurang secara signifikan. Tetapi tahun ini, lahan-lahan yang beralih fungsi itu diyakini akan kembali menjadi persawahan, sebab perbaikan irigasi dan penertiban penyaluran air sudah dilakukan. Selain itu, Irigasi Air Lakitan yang akan difungsikan dengan kemampuan dapat mengairi persawahan seluas 9.700 hektar, dan sekitar 5.000 hektar diantaranya adalah sawah tadah hujan,” tukasnya.

 

TEKS              : FAISOL

EDITOR         : DICKY WAHYUDI

 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster