Bisnis Bambu Tidak Pernah Redup

Penjual Bambu

Penjual Bambu

PALEMBANG | KS-Pamor bisnis bambu dari tahun ke tahun tidak pernah meredup. Kendati tidak terlalu besar, permintaan batang bambu selalu ada di sepanjang tahun. Maklum, bambu memiliki banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Tak heran jika banyak pelaku usaha menekuni bisnis penjualan bambu. Dari bisnis ini, seorang pelaku usaha bisa meraih omzet Rp 5 hingga Rp 10 juta per bulan.

Salah seorang pelaku usaha ini adalah Aditya telah menekuni bisnis bambu sejak dua tahun lalu di Pasar Kuto, Kota Palembang. Menurut dia, permintaan bambu selalu ada kendati tidak besar. “Biasanya digunakan untuk proyek perumahan, seperti pembuatan taman atau pagar rumah,” ujarnya saat diwawancarai Kabar Sumatera, Senin (16/12).

Aditya mengaku, saat ini omzet usahanya berada di kisaran Rp 5 juta-Rp 10 juta per bulan. Namun, besaran omzet itu bakal melonjak tinggi, jika pesanan bambu sedang naik.

Sementara itu Rasid, penjual bambu yang berada dikawasan Keretapati, Palembang mengaku dalam sebulan, rata-rata dia mampu melakukan empat kali pengiriman bambu kepada para pelanggannya di berbagai tempat.

Untuk satu kali pengiriman, Rasid bisa menjual sekitar 400 sampi 600 batang bambu berdiameter 12 cm yang diangkut dengan satu truk besar. Bambu ini berjenis bambu hijau. Biasanya, bambu ini digunakan untuk bahan pondasi bangunan, restoran, dan rumah tinggal.

Rasid biasa menjual bambu hijau dengan harga jual sekitar Rp 4.000-Rp 6.000 per batang. Tak hanya menyediakan bambu hijau, dia juga menjual bambu hitam. Bambu ini umumnya digunakan untuk bahan baku kerajinan tangan dari bambu. Seperti meja, kursi, dan perkakas lainnya.

Asal tahu saja, diameter bambu hitam lebih besar sekitar 15 cm dari bambu hijau. Karenanya, harga jual bambu hitam lebih tinggi, yakni sekitar Rp 10.000-Rp 12.000 per batang. Tiap batang bambu dipotong seukuran 10 meter. Rata-rata dia bisa menjual 400-450 batang per bulan.

Dari usahanya ini, dia bisa meraih omzet sekitar Rp 7 juta per bulan. “Laba bersih saya dari penjualan bambu mencapai 50% dari pendapatan kotor,” katanya.

Demi memperlancar arus keuangan usahanya, dalam transaksi penjualan, Dia mengutip uang muka terlebih dahulu kepada konsumennya sebesar 40% dari total proyek. “Sisanya bisa dilunasi ketika bambu telah diterima semua konsumen,” katanya.

Rasid mengaku tidak terlalu kesulitan mendapatkan pasokan bambu. Selama ini, dia mendapat pasokan dari daerah, yakni, Ogan Ilir, Banyuasin, serta daerah lainnya.

TEKS : AMINUDDIN

EDITOR : ROMI MARADONA

Bisnis Bambu Tidak Pernah Redup




Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com