Izin Operasional PT Techwin Dipertanyakan

 507 total views,  2 views today

Tumpahan Minyak di Sungai Setuntung Desa Sukamaju Kec Talang Ubi

Tumpahan Minyak di Sungai Setuntung Desa Sukamaju Kec Talang Ubi

PALI | KS –Tumpahan minyak mentah milik PT Techwin Benakat Timur (TBT), yang mencemari Sungai Setuntung, Desa Sukamaju serta mencemari tiga kebun karet milik warga beberapa waktu lalu membuat warga mempertanyakan izin operasional perusahaan tersebut.

Selain mempertanyakan izin oprasional, warga juga mempertanyakan ganti rugi yang kini belum ada kata kesepakatan.

Kepala Desa Suka Maju, Mustika mengatakan, tindakan PT TBT yang belum juga memberikan ganti rugi, lantaran belum ada kesepakan harga antara kedua belah pihak, membuat warganya justru mempertanyakan legalitas PT TBT untuk beroperasi di wilayah tersebut.

“Warga justru mempertanyakan apakah PT TBT tersebut melakukan operasi pertambanganya secara resmi atau tidak. Dengan saya sendiri, selaku kepala desa, hingga saat ini PT TBT sekalipun tidak pernah berkoordinasi, terkait laporan perizinanya,” ujarnya, Minggu (15/12).

Ia menambahkan, Desa Suka Maju, merupakan ring satu wilayah kerja PT TBT. “Di desa kita ini diperkirakan ada 20 titik pengeboran PT TBT, baik yang baru ataupun yang lama. Jadi kita ini berada di ring satu kerja operasinya. Namun, hingga saat ini saya belum dikoordinasikan akan hal itu,” jelasnya.

Terkait, limbah yang mencemari sungai milik warga, dirinya merasa kecewa atas lambanya tindakan dari PT TBT dalam membersihkan sisa limbah tersebut. “Pihak perusahaan saya menilai sangat lamban untuk membersikan aliran sungai ini, padahal sungai tersebut walaupun sudah enam tangki tetap saja meninggalkan bekas limbah yang membahayakan dan merugikan warga,” sambungnya.

Sementara, Aliansi PAC PALI melalui Amrulah menyayangkan, lambanya tindakan PT TBT untuk mengatasi meluasnya limbah tersebut. “PT TBT saya menilai kerjanya tidak profesional untuk mengatasi limbah tersebut, yang telah meluas ke sungai dan perkebunan warga,” ungkapnya.

Humas PT TBT,  Yusman menyatakan, terkait ganti rugi lahan yang terkena limbah pihaknya sudah melakukan negoisasi dengan warga. Namun tuntutan warga jauh diatas ketentuan yang diatur Pergub` Sumsel  sehingga menyulitkan pihaknya mengambil keputusan.

“Kalau harus memenuhi tuntutan warga, jelas di luar ketentuan Pergub. Bisa-bisa kami kena audit,” jelas Yusman.

Namun, Yusman menambahkan, tidak menutup kemungkinan pihaknya memberikan kebijakan sehingga mendapat titik temu antara tuntutan warga dengan kemampuan perusahaan.

Dalam kesempatan berbeda, menanggapi tudingan perusahaannya belum memiliki izin, Haries Taufik Siregar, Bagian Umum PT TBT mengaku belum bisa berkomentar.

“Kalau soal itu, saya harus berkoordinasi dengan kantor Jakarta pak. Tapi besok, silahkan datang ke kantor biar bisa ketemu FM (Field Manager- red),” elak Haries yang akrab dipanggil Ucok ini.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, beberapa waktu lalu,  pipa minyak mentah dari sumur BKT-52 milik PT TBT bocor dan menggenangi tiga lahan perkebunan milik warga. Bukan itu saja, tumpahan minyak juga mencemari sungai setuntung di Desa Suka Maju, Kecamatan Talang Ubi.

Akibat pencemaran itu warga merasa dirugikan ratusan juta karena tanaman karetnya mati. Selain itu, tepian mandi warga di Sungai Setuntung dipenuhi tumpahan minyak. Tepian mandi itupun tidak bisa lagi dimanfaatkan. Warga juga mempertanyakan izin operasi pertambangan PT TBT.

 

Teks/Foto : Indra Setia Haris 





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster