Permainan Tradisional Tergerus Zaman

 1,186 total views,  2 views today

Beberapa-nak-anak-tampak-asik-bermain-salah-satu-mainan-tradisonal-di-halamn-rumah-mereka,-Kertapati,Palembang.-Foto-;-Bagus-Kurniawan

Beberapa nak-anak tampak asik bermain salah satu mainan tradisonal di halaman rumah mereka, Kertapati,Palembang. Foto ; Bagus Kurniawan (2)

PALEMBANG KS – Anak-anak tempo dulu selalu berlari, bersembunyi, melompat, melempar dan mengejar saat memainkan permainan khas tradisional. Kini, dominan mainan khas ‘kampungan’ ini seperti tergerus oleh mainan-mainan serba instan.  Nyaris tak ada yang bersisa lagi.

Sejak puluhan tahun silam, permainan tradisional anak-anak di Sumatera Selatan nyaris menghilang dan punah. Dalam rentang itu pula,  generasi anak-anak tak lagi mengenal apa saja mainan tradisional. Seiring berkembangnya zaman, teknologi terus berkembang, anak-anak sekarang pun lebih suka bermain permainan serba instan atau modern.

“Memang permainan sekarang ini sangat menghibur, terutama bagi anak-anak. Sayang, pengaruhnya pada anak cenderung negatif. Anak-anak kecil pun belum bisa mengontrol diri maupun membedakan hal yang baik dan tidak baik,” demikian kata Dra Rina Bakri, Direktur Puspa Indonesia kepada Harian Umum Kabar Sumatera, Jumat (13/12).

Akibatnya? Kata Rina, umumnya anak-anak seperti kecanduan yang menjadikan mereka malas untuk berpikir kreatif. Dampak lainnya, anak-anak pun disuguhkan dengan beragam pilihan mainan yang tidak cerdas.

“Masih ingat kan permainan tradisional yang pernah kita mainkan semasa kanak-kanak dulu? Ada petak umpet, petak jongkok, kelereng, bentengan, congklak, dan permainan lainnya. Nah, bedanya sekarang ini anak-anak kita lebih suka mengkonsumsi mainan seperti dari Cina. Harganya pun lebih murah,” Rina menyebutkan.

Ungkap Rina, nasib permainan tradisional sepertinya telah terttindas zaman. Bahkan, mainan tradisional yang dulunya banyak dijumpai setiap kampung-kampung  saat ini langka ditemukan. Serupa tetapi tak sama. Mainan tradisional yang dulunya  lebih condong mengasah keterampilan dan  kreatifitas bahkan tak didapatkan oleh anak-anak sekarang.

“Kalau saya lihat, orang tua sekarang tidak mau lagi mengajarkan ke anak-anaknya apa itu mainan tradisional. Lihatlat, orang tua sukanya membelikan anaknya mainan dari luar. Ada mainan tembak-tembakan yang justru mendidik kekerasan pada anak. Dulu kan tidak seperti itu,” jelasnya.

Walhasil, beragam permainan tradisional anak-anak kini tergerus zaman. Ini dapat dibuktikan pula guru di sekolah-sekolah sekarang ini sering mengabaikan permainan anak-anak tradisional.

“Kalau saya perhatikan ada guru di sekolah yang memberikan tugas prakarya ke siswanya yang bahan bakunya serba jadi. Otomatis cara seperti itu kan tidak mengajarkan ke anak bagaimana ide atau kreatifitas,” ucap Rina seraya berkata semasa kanak-kanak ia terbiasa diasah untuk berpikir kreatif dari sekolah.

Lanjutnya, permainan tradisional lahir dari kondisi alam dan lingkungan sekitar. Sehingga sangat disayangkan apabila warisan para pendahulu harus hilang tanpa bekas. Ironisnya lagi, ada semacam permainan yang dikemas dalam bentuk judi.

“Ada orang yang jual mainan harganya Rp 100 perak, tapi hadiahnya Rp 200 perak. Itu saya pikir sangat tidak mendidik. Jelas ada unsur didikan soal judi,” Rina mengeluhkan.

 

Mainan Tanpa Berbekas

Yosep Sutersino, Praktisi Seni dan Budaya Palembang kepada Harian Umum Kabar Sumatera menyampaikan tergerusnya permainan tradisional ini tak lepas dari merebaknya permainan bernuansa modern di pasaran. Namun begitu, hal ini sudah menjadi hukum pasar, sehingga sulit dihindarkan.

“Situasinya permainan anak-anak sekarang ini sedikit sekali yang bersifat edukasi untuk pertumbuhan jiwa. Imbas lainnya, permainan tradisional pun kian hancur di tengah masyarakat,” ujar Yosef.

Bekas Aktifis Teater Leksi Palembang ini berkata, sekarang ini rata-rata jenis permainan anak-anak cenderung arahnya merusak. Lihat saja ada mainan anak-anak seperti pistol-pistolan yang lengkap dengan pelurunya.

“Kalau dulu pistol, tak pakai peluru. Nah, sekarang ini hampir semua mainan tembakan nyaris sama dengan aslinya. Bukankah ini menjadi ajaran buruk bagi pertumbuhan anak-anak kita ?,” kata Yosef  balik bertanya.

 

“Enak Main Game”

Ardi Winata, si bocah 10 tahun hampir setiap harinya atau sehabis sekolah biasanya pergi ke warung internet di Jalang Madang. Untuk bisa maen game di warnet, Ardi wajib membawa uang Rp 5.000.

“Aku pernah dengar namo yo bae, tapi idak pernah mainkanyo. Lemaklah maen game PS atau Power Blank ini,” itulah jawaban Ardi ketika ditanya soal permainan tradisional.

Menyoal permainan tradisional, Arbani (46), warga Palembang menyampaikan, zaman sekarang anak-anak lebih menyukai perminan yang sifatnya digital daraipada tradisional.

TEKS:RINALDI SYAHRIL

EDITOR:IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster