Carut-Marut Angkutan Batubara

15 total views, 3 views today

Truk Pengangkut Batubara

Truk Pengangkut Batubara

PALEMBANG, KS-Masyarakat Sumsel, sebenarnya patut bersyukur bisa hidup di bumi yang kaya akan sumber daya alam (SDA).  Dinas Pertambangan (Distamben) Sumsel mencatat,  untuk batubara saja cadangan yang terkandung di perut Bumi Sriwijaya ini mencapai 22,24 miliar ton atau 48 persen dari total batubara Indonesia.

Cadangan tersebut tersebar di Kabupaten Muara Enim 13,6 miliar ton, Lahat 2,7 miliar ton, OKU dan OKU Timur 0,32 miliar ton dan Kabupaten Musi Rawas sebesar 0,8 miliar ton. Kualitasnya, umumnya berjenis lignit dengan kandungan kalori antara 4800-5400 Kcal/kg.

Dari jumlah cadangan itu menurut Gubernur Sumsel, H Alex Noerdin, sebelum 2011, produksi batubara Sumsel hanya sekitar 10 juta ton per tahun. Melimpahnya potensi namun tak dibarengi dengan eksplorasi yang maksimal, membuat Pemprov Sumsel menggenjot  produksi besar-besaran. Pemprov bahkan mengklaim batubara sebagai gerbong pembawa kemakmuran di Sumsel.

Hasilnya, lumayan berhasil. Sebelum 2011 produksi ‘emas hitam’ itu hanya 10 juta ton pertahun di 2011 dan 2012 mengalami peningkatan.  Di 2012 saja produksi batubara Sumsel mencapai 20 juta ton per tahun.

Sementara di 2013, ditargetkan mencapai 25 juta ton pertahun. Produksi batubara Sumsel ini, kebanyakan di ekspor ke berbagai negara. Badan Pusat Statisik (BPS) Sumsel mencatat pada Mei 2012 sajam ekspor batubara Sumsel mencapai US$57,36 juta.

Namun eksplorasi besar-besaran batuabara tersebut, ternyata menimbulkan persoalan baru di Sumsel. Infrastruktur yang belum lengkap mengakibatkan ratusan truk angkutan batubara harus ‘merebut’ fasilitas jalan umum.

Disinilah kemudian, berawal carut-marutnya transportasi batubara di Sumsel sehingga tak jarang slogan Pemprov Sumsel bahwa batubara adalah gerbong pembawa kemakmuran diplintir menjadi batubara adalah gerbong pembawa kematian.

Di Lahat saja menurut anggota Komisi IV DPRD Sumsel, Nadjib Matcan menyebut ada 42 perusahaan yang memegang izin kuasa pertambangan (KP) untuk melakukan kegiatan eksplorasi batubara dari Bupati Lahat.  Dari 42 perusahaan pemegang KP itu, hanya PT Servo Lintas Raya yang memiliki jalan khusus.

“Padahal Undang-Undang (UU) Nomor 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba), mewajibkan semua perusahaan pertambangan memiliki jalan khusus untuk mengangkut hasil produksinya. Namun tiga tahun kita mengundang semua perusahaan pemegang KP untuk membahas jalan khusus,  tidak ada yang datang. Hanya Servo, yang bersedia membangun jalan khusus,” jelas politisi Partai Golkar itu, beberapa waktu lalu.

Untuk mengangkut batubara tersebut dari areal pertambangan ke stock foil atau dermaga khusus batubara yang umumnya berada di kawasan Tanjung Api-Api (TAA), Banyuasin,  Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Lahat, Syarifuddin menyebut ada 24 perusahaan transportir. “Masing-masing kurang lebih memiliki 168 unit kendaraan,” jelasnya.

 

TEKS              : DICKY WAHYUDI

EDITOR         : IMRON SUPRIYADI





Leave a Reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *

Web development by oktopweb.com