Warga : Ganti Rugi Dari Perusahaan Tidak Sebanding

 266 total views,  2 views today

Salah satu warga menunjukkan tumpahan minyak yang menggenangi sungai setuntung

Salah satu warga menunjukkan tumpahan minyak yang menggenangi sungai setuntung

//Terkait Pencemaran Limbah

PALI | KS –Bocornya pipa minyak mentah milik PT Techwin Benakat Timur (PT TBT), beberapa waktu lalu bukan hanya menyisakan tumpahan minyak di Sungai Setuntung.

Tumpahan minyak tersebut juga menyisakan derita bagi tiga warga Desa Suka Maju, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Pematang Abab Lematang Ilir (PALI), yakni Indra, Sulewi dan Mahbub.

Betapa tidak, ratusan pohon karet yang merupakan mata pencariannya terancam mati akibat digenangi tumpahan minyak mentah milik perusahaan tersebut.

Kucuran uang ganti rugi yang tidak sebanding membuat deretan penderitaan tiga warga tersebut menjadi panjang. Warga hanya menuntut, pihak perusahaan memberikan ganti rugi yang pantas sesuai dengan yang dideritanya.

Indra, warga disekitar tepian sungai mengatakan, perusahaan tidak memiliki itikad baik untuk mengganti kerugian warga. Menurutnya, meski diganti, tetapi tidak sebanding dengan kerugian yang dialaminya.

“Ya, kerugian yang dikucurkan kuran pantas. Ini tidak ada apa-apanya dengan kerugian yang kita alami. Ratusan pohon karet terancam mati,” tuturnya.

Ia meminta, kepada perusahaan untuk lebih bijak dalam memberikan uang pengganti. “Kita inginnya sesuai Mas. Ganti rugi secara keseluruhan pohon karet hanya Rp 20 juta,” sesalnya.

Sementara itu, Kades Sukamaju, Mustika menambahkan, bukan hanya Sungai Setuntung saja yang tersemar, limbah minya tersebut juga mengalir sampai Sungai Penukal dan Sungai Musi.

“Meski sudah di pasang boom, kami yakin tumpahannya sudah jauh ke hilir,” tambahnya.

Ia menambahkan, pihak perusahaan sendiri akhirnya berjanji kepada warga untuk mengganti kerugian yang dialami warga tersebut. Setelah melalui proses negoisasi, ternyata warga  diberikan ganti ugi yang tidak sesuai.

“Parahnya, ganti rugi tidak sesuai yang diharapkan warga. Apalagi banyak pohon karet warga menjadi mati,” tuturnya.

Dirinya menyayangkan  pihak perusahaan yang tidak mengedepankan proses musyawarah mufakat untuk menyelesaikan kasus ini. Perusahaan dengan arogan mendatangkan pengacara untuk menghadapi warga yang buta hukum.

“Saya selaku kepala desa yang selalu mengedepankan musyawarah tersinggung. Masa kami harus berhadapan dengan pengacara. Ini sama saja dengan membodohi kami tentang teori hukum yang tidak kami mengerti,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Umum PT Techwin Benakat Barat, Haries Taufik Siregar, mengakui terjadi kebocoran di salah satu pipa yang menghubungkan sumur BKT-52 dengan stasiun pengumpulnya.

“Benar mas, salah satu pipa kita bocor. Karena salah satu baut Plang yang menyambungkan dua pipa menjadi kendur. Tapi sudah kita perbaiki kok,” kata Haries.

Untuk kompensasi kepada warga, Haries mengaku sedang melakukan negoisasi dengan warga melalui Kades Suka Maju. “Sekarng kita masih negoisasi. Namanya negoisasi tentunya ada tarik ulurnya. Kita hanya berpatokan kepada peraturan gubernur. Kalau harus lebih dari itu, kita harus koordinasi dengan Jakarta. Dalam waktu dekat akan selesai,” tutupnya.

 

Teks/Foto : Indra Setia Haris

Editor : Junaedi Abdillah





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster