SSC Solusi Bagi Anak Marjinal

 789 total views,  2 views today

Anak Jalanan | Bagus Park

Anak Jalanan | Bagus Park

Problematika anak jalanan, hingga kini, masih menjadi polemik yang tidak kunjung usai. Menurut data tahun 2012, Menteri Sosial, Salim Segaf Al Jufri, mengatakan jumlah anak telantar di seluruh Indonesia mencapai angka 4,5 juta yang tersebar di berbagai daerah. Fenomena tersebut tentu saja mengundang kekhawatiran berbagai pihak. Pasalnya, anak jalanan yang umumnya berusia sekitar 6 hingga 18 tahun merupakan kelompok yang berisiko tinggi menjadi korban pelecehan dan perlakuan tidak manusiawi.

Tidak ingin masalah anak jalanan terus berlarut-larut, sebuah komunitas yang tergabung dalam Save Street Child tergerak untuk melakukan langkah konkret dengan merangkul dan membina anak-anak telantar. Save Street Child adalah sebuah organisasi yang berawal dari gerakan di media massa yang diinisiasi oleh Shei Latiefah. Melalui akun @savestreetchild, 23 Mei 2011 yang lalu, gerakan ini bermetamorfosis menjadi sebuah organisasi independen yang mempersiapkan anak-anak marjinal yang memiliki akses pendidikan minim supaya dapat menjadi generasi penerus bangsa dengan bekal yang memadai, yaitu pendidikan dan teman baik.

“Kita memberi apa yang telah kita terima. Tugas manusia terdidik adalah mendidik manusia lainnya. Untuk itulah, Save Street Child lahir dan menjadi wadah bagi kaum muda untuk berbagi,” ujar pendiri Latiefah Save Street Child (SSC) seperti dikutip Jakarta.com.

Kini, Komunitas SSC ini sudah menyebar di 15 Kota. Diantaranya, Jakarta, Bandung, Malang, dan kota-kota besar lainnya. Khusus di Palembang komunitas SSC ini baru didirikan pada 15 Maret 2013 lalu. Komunitas yang bermarkas di daerah Sukawinatan ini setidaknya sudah memiliki anggota sebanyak 30 orang.

Mahardika Prihati Yuda Ketua SSC Palembang mengatakan, tidak hanya mengajari menulis dan membaca saja, melainkan banyak program kegiatan yang mereka lakukan, misalkan dari buka bersama, memberi kado lebaran kepada anak didik, periksa gigi, dan sosialisasi anti narkoba.

Menurutnya, Kegiatan belajar mengajar hanya dilaksanakan mulai Selasa hingga Jumat dan dimulai pukul 15.30 WIB hingga 17.00 WIB. “SSC bertujuan untuk memeratakan akses pendidikan ke adik-adik marjinal,”katanya.

“Tim pengajar dari SSC telah dibekali pelatihan sederhana tentang karakteristik adik-adik dan cara mengajar yang berasaskan pertemanan, bukan hegemoni sehingga adik-adik peserta belajar nyaman dan dapat berekspresi sesuai bakatnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Harry Ryzka, Humas komunitas SSC, mengatakan kalau komunitas SSC ini  berdiri sendiri, untuk modal anggota komunitas mengadakan patungan dengan dana pribadi. Saat ini lanjutnya, ada sekitar 60 anak didik yang mereka bina.

 

TEKS : RIAN/MAGANG

EDITOR : ROMI MARADONA





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster