Proyek Jalan Diduga Fiktif

 1,662 total views,  2 views today

Ilst.

Ilst.

MUARAENIM | KS – Terkait peristiwa longsornya bahu jalan Nasional di lokasi dekat pembangunan intake PDAM Lematang Enim di Tanjung Enim yang saat ini pekerjaan PT. Nindya Karya tersebut menjadi terhenti, hingga kini dipertanyakan warga setempat.Pasalnya, seharusnya perbaikan jalan Nasional sudah menjadi tanggungjawab Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional III Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian  Pekerjaan Umum.

Bahkan, instansi tersebut telah melakukan tender pemeliharaan Jalan Muaraenim- Simpang Sugih Waras (termasuk ruas jalan longsor) senilai Rp.5,4 milyar tahun 2013 ini. Namun, kenyataan di lapangan instansi ini hanya melakukan pemeliharaan di beberapa titik saja. “Sepertinya proyek pemeliharaan berkala jalan ini fiktif. Buktinya, gorong-gorong di lokasi ini tersumbat selama 4 tahun dan menyebabkan longsor,” tutur Ketua  LSM Pers Pemantau Pemantau Pembangunan Muaraenim, Hijazi, Kamis (5/12).

Dikatakan, pihaknya sudah melacak proyek  fiktif pemeliharaan jalan itu. Yakni paket pemeliharaan berkala jalan batas Kota lahat-Muara enim sampai Simpang Sugih Waras senilai Rp 5,4 miliar. Sedangkan sebagai  perusahaan pelaksana yakni PT. Kasih Karya  Makmur dan konsultan PT. Cakra Graha.

“Itu dana dari APBN tahun 2013,” cetusnya.

Pengawas Jalan Nasional Kementerian PU Dirjen Bina Marga Satker Balai Besar Jalan Nasional III, Apriansyah membenarkan adanya anggaran pemeliharaan berkala. “Tapi untuk tahun ini cuma tiga titik yang dianggap rawan saja,”ketika dikonfirmasi Kabar Sumatera.

Menanggapi hal ini, Direktur PDAM Tirta Lematang Enim, Puryadi, mengungkapkan, adanya peristiwa longsor tersebut pihaknya telah melakukan koordinasi dengan sejumlah pihak terkait. Seperti Pemerintah Kabupaten (Pemkab Muaraenim) ataupun Balai Besar Jalan Nasional (BBJN) Provinsi Sumatera Selatan .

“Kami telah melakukan koordinasi, bahkan pihak BBJN telah turun langsung ke lapangan,” ungkap Puryadi.

Dari pengamatan di lapangan, kata dia, diketahui longsornya jalan tersebut disebabkan tingginya curah hujan. Sementara, gorong-gorong yang ada di sepanjang jalan tersebut tidak berfungsi dengan baik. Sehingga, terjadi genangan air di sepanjang jalan yang menyebabkan erosi. Tak hanya itu, di seberang jalan juga terdapat kolam penampungan air yang menyebabkan air selalu meresap.

“Jadi sebenarnya ada atau tidaknya pembangunan di sepanjangan jalan tersebut akan tetap longsor. Sebab, tanah labil karena air selalu meresap,” katanya.

Namun demikian, lanjut Puryadi, pihaknya bersama pihak BBJN telah melakukan langkah-langkah penanggulangan. Diantaranya memasang turap dititik longsor  kemudian menimbun dengan batuan krokos sebelum akhirnya dibuat bangunan permanen. Selain itu,  menginstruksikan kepada pihak PT. NK untuk membuat rambu-rambu dan menempatkan personil untuk mengatur lalu lintas yang terganggu di jalan tersebut.

“Kami ini hanya bisa melakukan penanggulangan sementara, sambil menunggu pentunjuk dan langkah dari pihak BBJN,” papar Puryadi.

Jelasnya, proyek intake milik PDAM Lematang Enim yang terkena dampak longsor tersebut merupakan proyek Urban Water Supply and Sanitation (UWSS) dengan total dana mencapai Rp 29,83 miliar. Untuk wilayah Tanjungenim, proyek ini dilaksanakan dua titik.

“Pertama peningkatan kapasitas pipa dari 80 liter menjadi 180 liter sepanjang 17 kilometer di intake Sungai Enim. Kedua, pembangunan pipa pengolahan air dan sanitasi di Buluran Indah Tanjungenim. Proyek ini dibangun dari bantuan Bank Dunia (World Bank),” ungkapnya.

Sementara itu, Project Manager PT. NK untuk proyek PDAM Tanjungenim, Taufik Yusbentoni, menjelaskan pembangunan proyek tersebut berjarak cukup jauh dari bahu jalan yakni sekitar 25 meter.  Sehingga, secara teknis seharusnya hal ini tidak mempengaruhi longsornya bahu jalan sebab pembangunannya juga tidak menyentuh bagian jalan. Selain itu, pembangunan intake juga dibuat dengan sistem trek (terasering) sehingga sudah sesuai dengan ketentuan. Begitupula disepanjang jalan tersebut, sejak awal juga telah ada turapnya.

“Namun, kenapa terjadi longsor? karena ada  tumpukan air di bagian atas. Sehingga air meluap, masuk ke jalan dan air menggerus tanah. Untuk posisi intake berada di jalan paling rendah.  Bahkan, longsor itupun terjadi setelah dua bulan pengerjaan penggalian selesai,” papar dia.

Namun demikian, kata dia, pihaknya juga tidak akan memastikan bahwa hal ini sepenuhnya disebabkan masalah alam. Untuk itu, analisa secara detail akan diserahkan kepada pihak BBJN Sumsel.

“Galian milik PDAM dan jalan nasional milik provinsi.  Jadi, kita tidak mengetahui apa yang terjadi di dalam tanah. Yang pasti pengerjaan kita telah sesuai dengan prosedur,” jelas dia.

Sesuai dengan ketentuan, ungkap Taufik, proyek ini akan dikerjakan dalam waktu 550 hari atau pada April 2014. Bila penanganannya cepat maka penyelesaiannya akan dikejar sesuai ketentuannya.

“Namun, untuk saat ini pihak BBJN meminta proyek tersebut dihentikan sementara. Karena dikhawatirkan akan menggangu arus lalu lintas. Tapi kami harap, semua bisa cepat selesai,” terangnya.

 

TEKS          : SISWANTO

EDITOR    : RINALDI SYAHRIL





Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web development jasaweb wordpress - hosting by Niagahoster